Fall For You

Fall For You
Bom Waktu


__ADS_3

“Tapi nona …”


“Ini menyangkut masa depan pernikahanku. Aku harus masuk ke dalam sekarang untuk menyelesaikan masalah kami. Aku mohon ijinkan aku masuk sekarang”pinta Jessica dengan tatapan mata yang memohon


Stella yang kasihan melihat wajah Jessica yang begitu memelas akhirnya angkat tangan juga. Meskipun Stella tahu, akan terjadi perang besar setelah ini, namun dia juga ingin membantu Jessica.


“Baiklah nona. Mari saya antar ke dalam”ucap Stella pada akhirnya


“Aku bisa masuk sendiri. Kalian di sini saja. Aku akan masuk sekarang. Terimakasih Stella”ucap Jessica sambil tersenyum pada Stella.


Jessica akhirnya berjalan ke arah pintu menuju kantor suaminya. Ramon dan Stella memilih berada di luar tidak ikut campur dalam masalah suami istri itu.


Dengan hati yang semakin bergemuruh hebat, Jessica menguatkan hatinya dan mengumpulkan keberaniannya untuk mendengarkan penjelasan dari sang suami dan Celine.


Kini Jessica sudah berdiri di depan pintu besar yang memisahkan antara kantor suaminya dengan ruangan di luarnya.


“Huft”


Jessica menghembuskan nafasnya dengan perlahan. Jessica pun mencoba membuka pintu besar yang memisahkan antara dirinya dan suaminya.


Degh..


Belum sampai pintu kantor Rafael terbuka seluruhnya, Jessica dapat melihat sang suami yang saat ini duduk berhadapan dengan seorang wanita. Dari suaranya, Jessica bisa menebak kini suaminya sedang bersama dengan Celine.


“Jika saat itu aku tidak ke Amerika, aku yakin sekarang pasti kita sudah menikah”ucap Celine berandai-andai.


“Katakan apa alasanmu kemari! Setelah itu pergilah! Aku masih banyak pekerjaan”ucap Rafael dengan ketus


“Aku kemari karena ingin menunjukkan ini padamu”ucap Celine sambil menyodorkan sebuah foto USG pada Rafael


“Apa itu?”tanya Rafael dengan jengah


“Ini foto bayi kita”


Ddduarrrrrr


Rafael langsung menoleh pada Celine tampak tak percaya. Celine tersenyum melihat reaksi Rafael yang terlihat kaget dengan berita yang diterimanya.


“Kau bilang apa?”tanya Rafael sekali lagi dengan tatapan tajam

__ADS_1


“Aku bilang, itu foto bayi kita”


“Kau pasti bohong”


“Aku tidak bohong. Sebelum memutuskan ke Amerika, sebenarnya aku sedang hamil. Aku mengandung bayi kita. Buah cinta kita berdua”ucap Celine sambil mengelus perutnya


“Dimana dia sekarang?”tanya Rafael


Celine menundukkan kepalanya. Butir-butir airmata tampak berguguran dari mata indah wanita cantik itu. Celine mengusap airmatanya.


“Dia menunggu kita di surga”


“Apa?”seru Rafael kaget


“Aku terpaksa menggugurkan kandunganku. Kakekmu yang menyuruhku. Dia bilang akan menerimaku jika aku mau menuruti keinginannya. Dan syaratnya saat itu adalah dengan menggugurkan kandunganku. Jadi aku terpaksa menuruti lelaki tua itu. Tapi lihat apa yang dia lakukan pada kita? Dia malah membuat kita berpisah”ungkap Celine


“Hentikan omong kosong ini! Aku tidak percaya. Semua ini pasti hanya karanganmu saja”ucap Rafael tak percaya


“Mana mungkin aku mengarang semua ini? Seminggu aku harus terbaring di rumah sakit karena aborsi itu. Usiaku saat itu masih terlalu muda untuk hamil dan menggugurkan kandungan. Aku mengalami pendarahan hingga aku hampir mati. Untung saja, aku masih hidup. Dan ketika aku sudah sadar, dengan seenaknya, kakek tua itu menyuruhku ke Amerika. Dia bilang akan membiayai semua dan membantuku menjadi model internasional”tutur Celine dengan beruraian airmata.


Rafael berdiri dari tempatnya duduk, namun dengan arah membelakangi Jessica yang sampai saat ini masih berdiri di depan pintu menguping setiap pembicaraan antara Celine dan Rafael.


“Apa kau pikir selama ini aku bahagia tinggal di Amerika? Apa kau pikir aku bahagia hidup terpisah denganmu? Aku sama menderitanya denganmu. Jangan kau pikir hanya kau yang menderita di sini! Aku juga sama”seru Celine menumpahkan isi hatinya.


“Lalu kenapa kau malah pergi? Di saat aku hampir kehilangan kakakku. Di saat yang sama aku harus kehilangan mamaku. Kau juga pergi di waktu itu”seru Rafael dengan suara keras


Celine semakin menangis tergugu. Sungguh hatinya juga sakit melihat lelaki yang sangat dicintainya itu begitu terluka dengan perpisahan mereka.


“Aku tak tahu jika kau dan kak Ramon akan kecelakaan. Bukan aku yang merencanakan semuanya. Bukankah aku memintamu menungguku?”ucap Celine sambil menatap Rafael penuh kehangatan.


Rafael malah tersenyum sinis dengan pertanyaan Celine.


“Aku tak punya waktu menunggumu. Karena kecelakaan itu aku harus lima kali operasi kaki. Dibandingkan hatiku, tubuhku tidak sakit sama sekali. Dan kau? Aku tak punya waktu memikirkanmu. Aku sudah melupakanmu. Jadi untuk apa kau kembali lagi kemari?”tanya Rafael dengan sinis


“Aku tahu kau sangat marah. Aku pun siap dengan semua kemarahanmu padaku. Aku terus memikirkan betapa marahnya kau padaku”ucap Celine dengan mata yang terus beruraian airmata.


“Bukankah kau akan kembali setelah lima tahun? Kenapa sekarang sudah kembali?”tanya Rafael


“Setiap hari aku selalu memikirkan kau marah padaku”ucap Celine lagi sambil mengusap airmatanya

__ADS_1


Rafael kembali tersenyum sinis.


“Jangan seperti itu Raf. Aku tahu kau sengaja melakukan ini. Tapi hatiku sangat sakit. Ini juga tak mudah bagiku”ucap Celine dengan sedih


“Apa kau tak ingat? Tiga tahun lalu kau lebih kejam padaku?”tanya Rafael


“Jika kau jadi aku, kau pasti akan melakukan hal yang sama. Ini adalah sesuatu yang tak bisa aku kendalikan. Apalagi aku masih sangat muda”jawab Celine


“Jika aku jadi kamu, aku pasti akan membuat pilihan yang lain”sahut Rafael


“Paling tidak, tidak ada yang meninggal di antara kita. Kau masih tetap hidup dan melakukan semua yang kau inginkan, benar kan?”tanya Celine dengan suara bergetar


“Kau bahkan tak pernah menelponku?”tanya Rafael dengan tatapan tajam


“Aku merasa hatiku akan melemah jika mendengar suaramu. Karena itu aku tidak menelpon”jawab Celine dengan airmata yang terus beruraian.


“Kenapa? Kau takut aku akan menangis setelah kau menelpon?”tanya Rafael dengan suara keras


“Aku tak cukup punya kepercayaan diri, makanya aku takut goyah jika aku menelponmu. Tapi aku pikir kau akan mengerti dan akan menungguku”ucap Celine dengan mengiba.


“BAGAIMANA AKU BISA MEMAHAMI WANITA YANG BAHKAN TIDAK MENELPONKU SELAMA TIGA TAHUN?”bentak Rafael dengan suara keras


Bahkan saking kerasnya, hingga membuat Ramon dan Stella yang duduk di kursi tunggu di depan kantor Rafael sampai mendengar suara menggelegar Rafael.


“Aku pikir kau yang akan menelponku, dasar bodoh”umpat Celine dengan airmata yang semakin deras mengalir


Keduanya saling bertatapan. Rafael dengan mata yang terbelalak setelah meledakkan semua kemarahan yang disimpannya selama tiga tahun ini. Dengan nafas yang berkejaran saking emosinya. Sementara Celine malah tertunduk lesu, setelah mendengar curahan kemarahan lelaki yang dicintainya selama ini.


Rafael menarik nafasnya perlahan berusaha menenangkan diri.


“Aku pikir di antara kita ada semacam kesetiaan. Meskipun aku tidak pernah menelponmu, tapi aku yakin kau akan tetap menungguku karena aku sudah memintamu menungguku”ucap Celine dengan terisak.


Rafael yang baru saja meledakkan bom waktu yang disimpannya, kini perlahan mulai tenang dan bisa mengendalikan emosinya.


“Jika benar bayi itu adalah anakku, kenapa kau tak pernah memberitahuku?” tanya Rafael


“Aku sudah berusaha menghubungimu. Tapi rupanya kakek tua itu yang lebih tahu dulu. Dia menyanderaku lalu memaksaku menggugurkan janin dalam kandunganku. Kau tahu aku sebatang kara di dunia ini. Aku tak punya siapapun lagi waktu itu. Paman dan bibiku sudah lepas tangan dengan keadaanku. Kau juga pergi ke London bersama keluargamu. Aku bingung dan kalut. Aku ingin sekali memberitahumu dulu. Tapi aku tak berdaya. Akhirnya aku terpaksa melepas bayi kita”ungkap Celine dengan hati yang menahan luka.


“Seandainya aku lebih kuat, aku yakin kita pasti masih bersama sampai sekarang. Bersama anak-anak kita juga tentunya”ucap Celine dengan airmata yang semakin deras mengalir.

__ADS_1


__ADS_2