Fall For You

Fall For You
Emosi Wanita Hamil


__ADS_3

Rafael semakin sesak membaca curahan hati Celine. Apalagi di lembar-lembar berikutnya semakin menjawab keraguan dan teka-teki yang selama ini memenuhi pikiran Rafael.


“Rafael, cintaku..maafkan aku jika sudah membuatmu terluka dengan semua sandiwara ini. Sandiwara yang sengaja aku lakukan dengan kak Ramon untuk membuatmu percaya bahwa aku sudah menduakanmu. Bahwa aku telah hamil dengan kak Ramon.”


“Sayangku, cintaku..kaulah cinta dalam hidupku. Maafkan aku. Aku terpaksa berbohong untuk membuatmu melepaskanku. Aku harus meninggalkanmu. Kau tak tahu seminggu kemarin aku hampir meregang nyawa karena telah menggugurkan bayi kita. Aku terpaksa melepaskan bintang dalam hidupku, buah cinta kita berdua demi untuk tetap bersama denganmu. Karena itu adalah syarat yang diberikan oleh kakek dan nenekmu.”


“Kau pasti bertanya-tanya kenapa aku melepaskanmu juga? Padahal aku sudah melepaskan bayi kita. Maafkan aku cintaku. Aku harus mengambil keputusan ini. Kau tak tahu semua ini begitu berat aku lakukan. Aku harus meninggalkanmu, demi tetap bisa hidup. “


"HIDUP"


"Itulah keinginanku saat ini. Aku masih ingin hidup lebih lama. Aku ingin kembali padamu dan menjadi Celine yang lebih sehat. Tanpa ada penyakit ini dalam tubuhku. Aku harus menjalani pengobatan di Amerika demi tetap hidup.”


“Aku terpaksa menyetujui semua persyaratan dari tuan dan nyonya Miller, supaya aku bisa menjalani pengobatan kanker di Amerika nanti. Aku juga diberikan kontrak eksklusif dengan brand ternama itu oleh kakek dan nenekmu. Dengan begini aku tetap bisa membiayai hidupku di sana. Aku tak perlu bergantung terus pada kakek dan nenekmu. Maafkan aku cintaku”


“Aku janji akan kembali padamu. Aku janji akan menjadi Celine yang lebih sehat. Tunggulah aku! Aku pasti kembali padamu”


Rafael terduduk dan termangu. Ternyata selama ini pemikirannya tentang Celine salah besar. Wanita itu tak pernah mengkhianati dirinya. Semua itu hanyalah sandiwara yang dibuat antara Celine dan Ramon untuk membuat Rafael percaya bahwa mereka berdua telah bermain di belakangnya.


Di lembar-lembar berikutnya dalam buku harian itu menceritakan pengalaman Celine dalam menjalani pengobatan kanker di Amerika. Dari situ Rafael mengetahui pertemuan antara Celine dan Albert, kakak kandung Celine yang sudah terpisah lama. Celine juga akhirnya bertemu dengan Eric Barnett sang kakek yang sudah bertahun-tahun mencarinya.


Rafael menutup buku harian Celine dan tak sanggup meneruskan membaca kelanjutannya. Rafael merasa begitu bersalah pada wanita yang telah mencintainya dengan begitu besar. Hingga hampir mengorbankan nyawanya sendiri.


Rafael hendak melangkah pergi dari kursi taman yang sejak tadi menjadi saksi bisu ketika Rafael membaca buku harian Celine. Belum lama pergi, tiba-tiba dari arah depan Rafael, seorang lelaki tampan dengan wajah menahan amarah mendatangi Rafael dan tanpa aba-aba melemparkan bogem mentahnya tepat di wajah tampan Rafael.


“Bugh”


Rafael begitu terkejut mendapatkan bogem mentah di wajahnya yang tampan. Sudut bibir Rafael bahkan mengeluarkan darah saking kerasnya pukulan lelaki tadi.


“You bas*rad” umpat lelaki tadi


Rafael yang tidak terima dipukul begitu saja dengan secepat kilat menghindari pukulan kedua lelaki di depannya.


Dan akhirnya perkelahian dua lelaki tampan yang tidak saling mengenal itu pun terjadi. Perkelahian yang sangat sengit karena keduanya sama-sama tidak ada yang mau mengalah.


Keributan yang terjadi di rumah sakit, membuat pihak keamanan segera datang untuk melerai keduanya. Jessica dan Albert yang bingung karena mendengar suara-suara ribut di area taman tempat Rafael tadi berada, terlihat segera menghampiri taman untuk mengecek keadaan di taman.


“Ada apa ini?”tanya Jessica bingung.


“Aku juga tak tahu. Ayo kita lihat ke sana!”ajak Albert


“Hati-hati Jess, jangan terlalu dekat!”pinta Albert


“Aku tahu”sahut Jessica


Mereka berdua pun mencoba mendekati area pertarungan yang terletak di taman rumah sakit.


“Rafael”gumam Jessica dalam hati

__ADS_1


Mata Jessica terbelalak ketika sekilas melihat sang suami dengan wajahnya yang penuh memar, akibat berkelahi dengan orang yang tidak dikenalnya. Jessica yang begitu kuatir dengan keadaan Rafael langsung mendekat merangsek masuk ke area perkelahian pengunjung rumah sakit yang adalah suaminya sendiri.


“Jessica, jangan mendekat!”seru Albert melihat Jessica yang justru berjalan merangsek masuk.


Namun Jessica tak memperdulikan seruan Albert. Jessica berjalan mendekati sang suami yang kini sedang dipegangi oleh pihak keamanan.


“Sayang, kau kenapa?”tanya Jessica panik sambil menyentuh wajah suaminya yang sedikit memar dan beberapa bagian nampak mengeluarkan darah segar.


Jessica dengan raut wajah yang sangat kuatir menatap wajah suaminya yang dipenuhi beberapa luka di wajahnya akibat perkelahian itu. Jessica langsung menatap ke arah lelaki tampan yang menjadi lawan berkelahi Rafael, suaminya.


Dipenuhi kemarahan yang telah memuncak, Jessica mendekati lelaki yang tidak dikenalnya itu. Lelaki itu tampak dipegangi oleh beberapa petugas keamanan yang tadi melerai perkelahian mereka.


Tanpa aba-aba, tiba-tiba,


“Bugh..”


“Bugh..”


“Bugh..”


Semua orang yang berada di sana tampak kaget melihat kemarahan Jessica. Rafael juga dibuat kaget melihat istrinya yang biasanya ceria dan lemah lembut bisa begitu garang setelah melihat dirinya dianiaya orang tak dikenal.


“Bugh”


Para petugas keamanan yang melihat Jessica memukuli lelaki yang mereka pegangi, segera menepis pukulan yang dilayangkan Jessica.


“Madam..please stop it!”pinta petugas keamanan sambil menepis pukulan yang diarahkan Jessica pada lelaki malang yang mereka amankan.


“Beraninya kau melukai suamiku! Rasakan ini pembalasan dariku!”seru Jessica meluapkan amarahnya.


“Ouwwwww”


Lelaki itu tampak menahan kesakitan setelah Jessica menendang “aset”berharganya dengan sekuat tenaga.


Rafael yang kaget tampak terbelalak melihat istri cantiknya begitu ganas memukuli lelaki yang tadi berkelahi dengan dirinya. Rafael pun segera melepaskan diri dari petugas keamanan yang merangkul tangannya sejak tadi, karena melerai perkelahian antara dirinya dengan lelaki tadi.


Rafael langsung memeluk tubuh Jessica dari belakang dan mengangkatnya menjauh dari lelaki malang yang saat ini sedang sangat kesakitan setelah “miliknya yang paling berharga”ditendang begitu saja oleh Jessica.


“Sayang..sudah-sudah! Tenangkan dirimu!”pinta Rafael sambil mengangkat tubuh istri mungilnya itu.


Sementara tangan dan kaki Jessica tampak berusaha memukul lelaki yang tak berdaya itu.


“Beraninya dia memukul suamiku! Rasakan akibatnya!”gertak Jessica penuh amarah


Albert yang mengenali lelaki yang berkelahi dengan Rafael segera mendekati lelaki itu.


“Alvin, bagaimana keadaanmu?”tanya Albert pada lelaki bernama Alvin yang saat ini sedang mengerang kesakitan setelah tanpa peringatan ditendang dan dipukuli oleh Jessica.

__ADS_1


Alvin tampak menahan sakit. Para petugas keamananpun akhirnya melepaskan mereka berdua setelah keduanya berjanji untuk tidak berkelahi lagi.


*****


Di sebuah ruangan di rumah sakit, Albert tampak mengobati luka-luka di wajah Alvin, temannya. Sementara Jessica mengobati luka di wajah sang suami.


“Apakah sakit?”tanya Jessica dengan raut wajah penuh kekhawatiran.


Rafael menggelengkan kepalanya sambil tersenyum.


“Aku baik-baik saja, sayang. Kau tak perlu cemas”jawab Rafael sambil menggenggam tangan Jessica.


Jessica spontan menoleh dan menatap Alvin dengan tatapan membunuhnya. Alvin yang bertatapan dengan Jessica tampak menelan ludahnya dengan susah payah.


“Sudah selesai”ucap Albert sambil mengemasi obat yang digunakannya untuk mengobati luka Alvin.


“Oya, aku lupa belum mengenalkan kalian. Ini Alvin, temanku”ucap Albert mengenalkan Alvin pada Jessica dan Rafael.


“Alvin”sapa Alvin sambil mengulurkan tangannya


“Jessica”balas Jessica sambil menerima uluran tangan Alvin sejenak.


“Maaf, aku sudah membuat keributan tadi. Aku hanya terlalu emosi”ucap Alvin


“Emosi? Kenapa kau bisa emosi pada suamiku? Apa salah suamiku padamu?”sungut Jessica emosi.


Alvin menatap tajam ke arah Rafael. Rafael pun membalas tatapan tajam Alvin pada dirinya.


“Begitu mendengar Celine berbuat onar di sini, aku yakin ini pasti ada hubungannya dengan mantan kekasihnya. Dan benar saja, dia penyebabnya”ucap Alvin sambil menahan amarahnya begitu mengingat yang terjadi pada Celine, wanita yang sangat dicintainya.


“Alvin ini adalah psikolog yang menangani Celine selama di Amerika. Dia adalah temanku sejak di universitas dulu”sahut Albert


“Sayang, kau harus menjaga emosimu. Jangan sampai semua ini mempengaruhi kesehatanmu. Ingat, kau sedang hamil”pinta Rafael sambil mengusap perut Jessica yang sudah mulai membuncit.


Jessica menghela nafasnya perlahan. Sejenak dirinya tak bisa menahan emosinya sendiri begitu melihat suaminya dianiaya oleh orang lain.


Alvin yang mendengar Jessica sedang berbadan dua pun terkejut bukan main karena bisa-bisanya dirinya telah dianiaya oleh wanita yang sedang hamil.


“What? Dia sedang hamil?”tanya Alvin pada Albert terkaget.


“Iya. Jessica sedang hamil”sahut Albert


“Ternyata emosi wanita yang sedang hamil memang mengerikan”bisik Alvin pada Albert.


“Kau bilang apa barusan?”tanya Jessica melihat Alvin berbisik pada Albert.


Alvin pun memukul Albert karena sudah ketahuan membicarakan Jessica.

__ADS_1


“Bukan apa-apa”sahut Albert bohong.


Albert dan Alvin pun tersenyum kecut pada Jessica.


__ADS_2