Fall For You

Fall For You
Kamu Jahat!


__ADS_3

Jessica yang sedang kalut, segera mengemasi semua barang miliknya. Ramon yang berlagak bak pahlawan bagi adik iparnya, hanya menatap gadis cantik itu mengemasi semua barang-barangnya.


Bayangan Rafael yang bersama dengan mantan kekasihnya sedang memadu asmara terus terbayang dalam pikiran Jessica. Airmata terus mengalir seiring luka di hati Jessica. Di saat dirinya mulai merasakan cinta pada lelaki menyebalkan yang menjadi suaminya, Jessica justru mendapati Rafael berselingkuh dan memadu asmara dengan wanita yang menjadi mantan kekasihnya.


Tubuh Jessica bergetar hebat merasakan kesedihan yang kini merasuki hatinya. Tubuh Jessica beringsut jatuh ke lantai sambil beruraian airmata.


“Kamu jahat Rafael! Kamu jahat!”seru Jessica meluapkan kemarahan dalam hatinya


Ramon berjalan mendekati Jessica yang terluka. Ramon menuntun Jessica duduk di ranjangnya. Jessica terus menangis, menangisi nasibnya yang begitu tragis dan menyedihkan. Kembali mencintai lelaki yang belum usai dengan masalalunya. Seakan Jessica terjebak dalam lingkaran setan tak berkesudahan.


Ramon duduk berjongkok di depan Jessica.


“Sudahlah jangan menangis! Kau tak pantas menangisi lelaki itu”ucap Ramon berusaha menenangkan Jessica.


Ramon bahkan menggenggam tangan Jessica.


“Bawa aku pergi dari sini kak!”pinta Jessica dengan sedih


Ramon menganggukkan kepalanya dan menggandeng tangan Jessica. Sambil mendorong koper Jessica di tangan satunya.


Jessica berjalan sambil menggandeng tangan Ramon. Sesekali Jessica menatap apartemennya yang ditinggalinya bersama Rafael. Begitu banyak kenangan di sana.


Kenangan pahit dan kenangan indah yang silih berganti berputar di kepala Jessica.


“Semoga kau bahagia Raf..Aku pergi!”gumam Jessica dalam hati.


Jessica melangkahkan kakinya meninggalkan apartemen sambil mengusap airmatanya yang masih juga mengalir.


Ramon menarik tangan Jessica keluar dari apartemen Rafael. Sesekali Jessica menoleh ke belakang menatap apartemen yang memiliki sejuta kenangan antara dirinya dan Rafael. Mulai dari kejadian mampir ke apartemen setelah kehujanan menjemput Joanne ke bandara, kejadian Jessica yang mabuk dan mengira Rafael adalah Arga, dan kejadian penggerebekan keduanya oleh Elizabeth, hingga kejadian selama keduanya menjalani kehidupan pernikahan.


Semua kenangan itu berputar-putar di kepala Jessica. Membuat rasa sedih dalam hatinya semakin menggunung. Airmata juga tak berhenti mengalir. Sungguh hati Jessica merasa sangat terluka.


Di saat dirinya mulai membuka hati bagi cinta yang baru, dirinya justru dihadapkan pada kenyataan Rafael kembali pada cinta pertamanya. Pada wanita yang selalu mengisi hati lelaki itu.


Jessica memejamkan matanya merasakan dadanya yang terasa semakin sesak. Jessica memegangi dadanya yang terasa seperti ditikam ribuan pisau di saat yang bersamaan. Jessica terduduk di depan pintu lift.


Ramon yang melihat Jessica terduduk lemas di depan pintu lift yang mereka tunggu, segera memegang bahu Jessica dan membantunya berdiri.


“Kau wanita yang kuat Jessica. Kau pasti bisa melewati semua ini”ucap Ramon berusaha menenangkan Jessica yang sedang bersedih hati.


Ramon yang tak tega melihat kesedihan dan airmata Jessica yang terus mengalir akhirnya memeluk tubuh wanita yang masih sah menjadi istri adiknya. Ramon mengelus punggung Jessica untuk menenangkannya.


“Ting tung”


Pintu lift terbuka. Ramon dan Jessica hendak masuk ke dalam lift. Ramon menuntun Jessica tanpa memperhatikan sosok yang berdiri di dalam lift. Ketika Ramon menoleh ke dalam lift, dilihatnya sosok lelaki tua dan istrinya yang adalah kakek dan nenek Ramon. Arthur dan Elizabeth.

__ADS_1


“Jessica?


Jessica mendongakkan kepalanya begitu mendengar namanya disebut.


“Nenek”


Jessica langsung menghamburkan tubuhnya pada wanita tua yang sangat menyayanginya itu. Jessica menangis dalam pelukan Elizabeth.


Akhirnya Arthur dan Elizabeth bersama dengan Ramon membawa Jessica ke kediaman Miller. Jessica duduk semobil dengan Elizabeth. Sesekali Elizabeth mengusap airmata di pipi Jessica.


“Kau sudah tenang sekarang, sayang?”tanya Elizabeth


“Terimakasih nek. Aku sudah merasa mendingan sekarang”sahut Jessica bohong.


Karena nyatanya, hatinya masih sangat sakit dengan pengkhianatan Rafael.


Sementara itu, Rafael yang terus menghubungi Jessica, terus dilanda ketakutan akan kehilangan wanita yang sangat dicintainya itu.


Rafael tak menyangka perbuatannya yang ingin memastikan perasaannya pada Celine justru berujung pada kesalahpahaman seperti sekarang.


Rafael meremas setir mobilnya sambil beberapa kali memukulnya dengan keras. Rafael mengemudikan mobilnya dengan kecepatan tinggi dan tidak sabaran. Karena yang ada dalam pikirannya saat ini adalah segera bertemu dengan Jessica dan menjelaskan semuanya.


“Dimana dia sekarang? Kau sudah menemukannya?”tanya Rafael pada Oscar


“Sudah tuan. Nona Jessica sekarang menuju kediaman Miller”jawab Oscar


Tanpa pikir panjang, Rafael segera mengemudikan mobilnya menuju kediaman keluarganya.


“Kali ini aku takkan biarkan siapapun merebutmu dariku. Aku takkan biarkan mereka mengambil kebahagiaan dalam hidupku”gumam Rafael dalam hati dengan rahang yang mengeras.


****


“Kakak? Kak Jessica kenapa?”tanya Anna begitu melihat kakak iparnya yang terlihat sangat pucat dan mata yang sembab


Elizabeth yang berjalan sambil memeluk Jessica, menuntun cucu menantunya itu masuk ke dalam rumah kediaman mereka.


Anna segera berjalan menghampiri Jessica.


“Nek, kak Jessica kenapa?”tanya Anna pada Elizabeth


“Antar kakak iparmu ke kamar Rafael! Biarkan dia istirahat di sana. Kau temani dia!”perintah Elizabeth pada Anna


Anna menggangguk dan langsung memapah Jessica. Ara yang juga ada di rumah juga langsung mengikuti Anna dan Jessica. Beberapa pelayan tampak membawa koper dan tas Jessica.


“Dimana anak itu?”tanya Arthur pada Ramon

__ADS_1


“Dia masih di kantor”jawab Ramon


“Sayang, sebaiknya kau tunggu saja di ruang kerja. Aku akan menunggu Rafael di sini”pinta Elizabeth


“Ramon, kau temani kakek”pinta Elizabeth pada Ramon


“Tidak nek. Aku akan menemanimu menunggu Rafael. Aku yakin sebentar lagi dia akan sampai”jawab Ramon


Arthur segera berjalan ke arah ruang kerjanya dengan rahang yang mengeras menahan marah. Marah kepada cucunya yang sudah membuat masalah dan terjebak dalam permainan Celine, mantan kekasihnya.


“Kau urus pengawal gadungan itu! Buat dia mengaku dan mengatakan yang sejujurnya”perintah Arthur pada Jimmy, sekretaris pribadinya.


“Baik tuan! Saya mengerti”sahut Jimmy


Jimmy pun segera pergi mengurus pengawal gadungan yang sudah membuat masalah dalam rumah tangga cucu kesayangannya itu.


Arthur masuk ke dalam ruang kerja dan duduk di kursi kebesarannya. Dibacanya kembali berkas yang ada di atas meja.


Berkas yang berisi informasi semua sepak terjang Celine. Wanita yang pernah menjadi kekasih cucu kesayangannya, Rafael.


“Brakkk”


Arthur menggebrak meja kerjanya dengan keras melampiaskan kemarahan dalam hatinya melihat sepak terjang Celine yang kini sudah berani mengganggu kehidupan keluarganya.


“Berani sekali wanita itu datang mengganggu kehidupan keluargaku! Aku akan buat dia menyesal sudah berani mengganggu keluarga dan perusahaanku”gerutu Arthur dalam hati


Di dalam kamar Rafael di kediaman Miller,


Anna dan Ara tampak mendudukkan Jessica di ranjang.


“Kakak istirahat saja dulu! Kami akan menemani kakak di sini”ucap Anna


“Aku baik-baik saja”ucap Jessica bohong


“Kakak tidak usah bohong pada kami. Lihatlah! Wajah kakak begitu pucat. Mata kakak juga sembab. Meskipun aku tak tahu kalian ada masalah apa, tapi aku mohon percayalah pada kak Rafael, kak. Aku yakin semua itu adalah siasat licik kak Celine yang ingin memisahkan kalian berdua”ucap Anna mencoba membela kakak lelakinya.


“Aku ingin sekali percaya padanya. Tapi aku…”


Jessica kembali beruraian airmata. Suara tangis yang menyayat hati membuat Anna dan Ara ikut sedih melihat Jessica yang terlihat sangat rapuh saat ini.


“Sudah kak, jangan menangis! Aku jadi ikut sedih!”pinta Anna sambil memeluk tubuh Jessica yang menangis sesenggukan.


Anna pun ikut menangis melihat Jessica yang terlihat sangat sedih dan hancur. Ara yang biasanya dingin pun ikut bersimpati pada kakak iparnya itu. Ara juga memeluk Anna dan Jessica.


“Jangan menangis kak! Aku mohon!”pinta Ara

__ADS_1


Baru kali ini, Ara melihat Jessica yang ceria begitu hancur dan rapuh. Suara tangisnya mengisyaratkan luka hatinya yang menganga begitu lebar. Ketiga gadis yang berada di dalam kamar Rafael itu saling berpelukan untuk menguatkan satu sama lain.


__ADS_2