Fall For You

Fall For You
Bermuka Dua


__ADS_3

Sementara itu,


Rafael yang sudah sampai di kediaman Miller segera memarkirkan mobilnya. Dengan langkah terburu-buru, Rafael segera masuk ke dalam rumah.


“Jessica?”panggil Rafael dengan suara yang menggelegar


Membuat siapapun yang berada di kediaman Rafael yang mendengar suara berat Rafael yang sedang meneriakkan nama istrinya, jadi terkejut.


“Jessica?”panggil Rafael lagi


“Kau sudah datang rupanya”


“Dimana istriku?”tanya Rafael pada kakak lelakinya


“Aku tak akan biarkan kau menemui Jessica. Biarkan dia istirahat di sini”sahut Ramon dengan wajah menahan marah


“Kau tak punya hak menahanku menemui istriku”gertak Rafael dengan kemarahan yang menggunung


Rafael mengacuhkan Ramon dan hendak berjalan menuju tangga menuju kamarnya.


“Apa kau tak mendengar perkataanku? Jangan ganggu Jessica! Kau sudah menyakiti dia”ucap Ramon sambil menahan langkah Rafael yang hendak berjalan ke arah tangga.


“Menyebalkan!”umpat Rafael


“Bugh”


Rafael melepaskan bogem mentahnya pada sang kakak


Para pelayan yang melihat kejadian itu, spontan berteriak.


“Aaaaaa….”


“Ada apa ini?”bentak Elizabeth begitu melihat Ramon dan Rafael


“Rafael, apa yang kau lakukan?”tanya Elizabeth sambil menghampiri Ramon


Dilihatnya wajah Ramon yang lebam dengan sudut bibir yang mengeluarkan darah.


“Apa kau sudah gila? Kau baru saja memukul Ramon?”gertak Elizabeth


Ramon yang terpancing emosinya karena mendapat pukulan tiba-tiba dari Rafael, dengan langkah cepat segera menghampiri Rafael dan memukul wajah tampan Rafael.


“Bugh..”

__ADS_1


“Bugh..”


“Bugh..”


Keduanya berkelahi dengan sangat sengit. Tidak ada yang mau mengalah satu sama lain. Keduanya saling memukul wajah, dada dan sesekali saling tendang. Benar-benar pemandangan yang mengerikan. Melihat dua bersaudara yang bertarung satu sama lain.


Mata Elizabeth terbelalak melihat kedua cucu lelakinya saling baku hantam. Suara jeritan dan teriakan para pelayan yang ngeri dengan pemandangan yang dilihatnya membuat suasana di ruang tamu keluarga Miller sangat mencekam.


“Apa yang kalian lakukan? Cepat pisahkan mereka! Jangan berdiri saja!”perintah Elizabeth pada para pengawal yang sejak tadi hanya melihat perkelahian dua bersaudara itu.


Perkelahian yang sangat sengit. Seakan keduanya sedang menumpahkan kekesalan pada satu sama lain. Para pengawal yang datang hendak melerai mereka sampai kewalahan menghadapi perkelahian dua bersaudara itu.


“BERHENTI BERKELAHI!”perintah Arthur dengan suara beratnya yang menggelegar mengisi seluruh ruang tamu.


Rafael yang saat ini sedang berada di atas tubuh sang kakak hendak memukul wajah Ramon, tampak menahan tangannya yang terayun ke udara.


Arthur segera memberi isyarat pada para pengawalnya untuk melerai kedua bersaudara itu.


“Lepaskan aku!”ronta Rafael pada para pengawal yang kini sedang memegangi tubuhnya.


Rafael melepaskan diri dari para pengawal yang melerai dirinya dengan Ramon. Wajah keduanya dipenuhi luka lebam dan memar. Darah juga mengucur dari sudut bibir masing-masing. Namun dibandingkan dengan Rafael, terlihat Ramon yang babak belur dihajar Rafael.


“Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian berkelahi disini?”tanya Arthur dengan tatapan tajam pada kedua cucunya


“Aku hanya ingin mempertahankan kebahagiaanku. Apa aku salah?”tanya Rafael pada Arthur dengan mata berkaca-kaca.


“Jessica tak pantas menerima penghinaan ini. Dia pantas bahagia. Kau sudah menyakitinya jadi aku hanya ingin melindunginya”jawab Ramon mencoba membela diri.


“Bulls*it”umpat Rafael kesal


“Apa kau bilang?”


Ramon yang tak terima dengan umpatan Rafael kembali naik pitam dan hendak berkelahi lagi dengan Rafael. Untung saja para pengawal dengan sigap segera menahan tubuh Ramon dan Rafael yan hendak berkelahi sekali lagi.


“Hentikan!”bentak Athur dengan suara keras


“Raf, sekarang bukan saat yang tepat untuk menemui Jessica. Dia sangat terguncang sekarang. Nenek mohon, biarkan dia sendiri dulu di sini”pinta Elizabeth sambil berjalan ke arah Rafael.


“Nenek benar. Biarkan Jessica sendiri dulu!”tambah Ramon


Rafael yang kesal langsung menunjuk ke arah Ramon dengan tatapan membunuhnya.


“Tutup mulutmu!”bentak Rafael

__ADS_1


“Rafael Miller! Jangan tidak sopan pada kakakmu!”sentak Elizabeth dengan suara bergetar penuh kemarahan mendengar Rafael membentak Ramon.


“Perlu kalian tahu, aku sudah muak selalu disalahkan untuk kesalahan yang tidak pernah aku lakukan”ungkap Rafael


“Dan kau..”


Rafael menunjuk ke arah wajah Ramon dengan penuh kemarahan.


“Aku benar-benar sudah muak dengan wajah malaikatmu itu. Sejak dulu kau selalu membuatku bersalah di mata semua orang. Di hadapan daddy dan mommy. Aku selalu menahan diri dan membiarkan semua orang menunjuk padaku untuk kesalahan yang sebenarnya kau lakukan. Aku selalu bersabar ketika melihat satu per satu orang yang aku sayangi kau rebut dariku. Mulai dari kasih sayang daddy, mommy, bahkan dari cinta kekasihku sendiri, Celine”ungkap Rafael panjang lebar


Ramon terbelalak mendengar semua kejahatannya dibongkar. Arthur dan Elizabeth yang mengetahui semua kebenarannya hanya diam mendengarkan semua keluh kesah Rafael.


Jessica dan si kembar Anna dan Ara yang menguping dari lantai atas pun hanya bisa mendengarkan saja ketika Rafael mengungkapkan semua kekecewaannya selama ini pada Ramon.


Jessica yang mendengarkan curahan hati Rafael, sejenak merasa kasihan dan berempati pada suaminya itu yang ternyata menyimpan luka di dalam hatinya.


“Apa maksudmu?”tanya Ramon pura-pura tak tahu


Rafael tertawa sinis mendengar pertanyaan Ramon.


“Ck, Kau mungkin koma, tapi aku yakin kau tidak amnesia. Kau tahu betul apa yang aku maksudkan. Sejak dulu kau selalu iri padaku. Kau selalu merebut semua yang aku cintai. Kau tak pernah membiarkan aku bahagia. Ketika aku bahagia dengan hidupku, kau selalu merebutnya dariku. Apa kau pikir aku tidak tahu itu? Katakan apa alasanmu? Biar semua orang tahu betapa busuknya hatimu itu”ejek Rafael


Ramon mencoba menahan diri sambil mengeratkan giginya.


“Kenapa kau diam? Kau tak berani mengakui kejahatanmu? Dasar munafik!”sindir Rafael


“Aku benar-benar tak mengerti maksud pertanyaanmu itu”elak Ramon


“Sejak dulu kau selalu memonopoli kasih sayang daddy dan mommy. Kau selalu membuatku menanggung akibat perbuatanmu. Kau selalu melimpahkan kejahatanmu dan menunjukku. Membuatku seolah pelaku dari semua itu. Kau ingat, kau yang mendorong kereta si kembar hingga mereka masuk ke dalam kolam renang dan hampir tenggelam, tapi apa? Kau justru berteriak dan menyalahkan aku. Hingga daddy menampar dan mengurungku di gudang gelap itu”ungkap Rafael dengan mata yang berkaca-kaca mengingat masa lalunya yang kelam.


“Kau juga merebut kasih sayang mommy. Hingga mommy memintaku berjanji untuk selalu mengalah padamu. Sebenarnya siapa aku dimata mommy dan daddy? Apa aku benar anak kandung mereka?”tanya Rafael


“Kau tahu benar kau itu anak haram daddy dan selingkuhannya itu. Kenapa kau mesti bertanya lagi”ucap Ramon tiba-tiba


“Kau benar. Aku memang sangat membencimu. Karena ibumu, membuat mommy menderita. Meskipun kita berasal dari daddy yang sama, tapi aku tak rela kau bersama kami. Kau tak pantas mendapatkan kebahagiaan sekecil apapun. Karena kehadiranmu membuat daddy dan mommy berpisah. Karena itu, setelah kematian daddy, aku berjanji pada diriku sendiri, takkan ku biarkan kau merasakan kebahagiaan. Karena kau tak pantas mendapatkannya”ungkap Ramon


“Ramon?”


Elizabeth tidak percaya ternyata selama ini cucu lelakinya itu menyimpan dendam pada Rafael, cucu kesayangannya.


Pengakuan mengejutkan dari Ramon, mengagetkan semua orang, termasuk Jessica dan si kembar Ara dan Anna. Mereka bertiga begitu syok mendengar pengakuan Ramon yang biasanya baik dan lembut itu.


Mereka tak menyangka ternyata Ramon bisa begitu kejam pada Rafael, adiknya sendiri.

__ADS_1


__ADS_2