
Rafael terus berusaha menenangkan Jessica.
“Kau ingat kan perjanjian kontrak kita? Kita masih punya waktu dua minggu sebelum kontrak itu habis. Aku akan mencari jalan keluar agar kita bisa terbebas dari rencana pertunangan ini. Kau mau kan menunggu?”tanya Rafael
“Kau janji akan menyelesaikan masalah ini?”tanya Jessica
“Percayalah padaku!”pinta Rafael
Tiba-tiba Leon berlari dengan terengah-engah ke arah keduanya.
“Raf.. Jess..”panggil Leon dengan terengah-engah
Rafael dan Jessica mengurai pelukan mereka dan menatap Leon yang tampak terengah-engah kehabisan nafas.
“Ada apa? Kenapa kau berlari seperti itu?”tanya Rafael
“Iya, ada apa? Jangan membuatku takut! Cepat katakan! Ada apa?”tanya Jessica
“Nenekmu..”
“Ada apa dengan nenek Eliz?”tanya Jessica kuatir
Rafael yang mendengar nama neneknya disebut justru langsung berlari ke arah ballroom kembali ke meja mereka tadi.
“Raf..tunggu kami”pinta Leon
Jessica dan Leon akhirnya ikut menyusul Rafael kembali ke dalam ballroom. Mereka juga kuatir dengan keadaan Elizabeth.
Begitu sampai di meja mereka tadi, tampak kerumunan orang yang sangat banyak. Rafael segera merangsek masuk ke dalam kerumunan manusia yang mengerubuti neneknya.
Begitu berhasil merangsek masuk, nampak Elizabeth yang terbaring di lantai dipangku sang suami. Albert dengan peralatan medisnya terus berusaha memeriksa Elizabeth yang terlihat sangat lemah.
“Nyonya besar?”panggil Rafael pada neneknya yang terlihat tidak sehat
“Apa yang terjadi?”tanya Rafael pada Albert
“Kita harus membawa nyonya Elizabeth ke rumah sakit untuk mengetahui penyebab sakitnya”ucap Albert
“Kalian bisa gunakan helicopterku di landasan helipad”ucap Victor yang juga berada di sana.
Dengan bantuan beberapa orang, Elizabeth di tandu menuju helicopter. Dalam keadaan sangat lemah, Elizabeth masih sempat menarik tangan Jessica. Membuat gadis itu mau tidak mau ikut menemani Elizabeth di dalam helicopter.
Di dalam helicopter, Elizabeth dipasangi alat bantu nafas karena kesulitan bernafas. Jessica dan Arthur tampak duduk sambil memegangi tangan Elizabeth kanan dan kiri. Rafael duduk di samping Jessica.
__ADS_1
Dalam keadaan lemah itu, Elizabeth tampak berusaha berbicara.
“Jessica..Rafael..dengarkan baik-baik..apa yang akan nenek..katakan!”pinta Elizabeth dengan suara yang lirih dan terputus-putus
“Nenek istirahat saja. Simpan tenaga nenek! Sebentar lagi kita sampai ke rumah Sakit!”pinta Jessica
Elizabeth menggelengkan kepalanya pelan.
“Nenek tak tahu…sampai kapan nenek..sanggup bertahan. Sebelum terlambat, nenek mohon..penuhi permintaan nenek ini..Mungkin ini adalah..permintaan nenek..yang terakhir”ucap Elizabeth dengan dengan suara yang semakin lirih
Jessica menitikkan airmatanya mendengar ucapan Elizabeth.
“Nenek jangan bicara seperti itu. Aku mohon. Nenek akan baik-baik saja”pinta Jessica dengan beruraian airmata
“Raf..katakan sesuatu!”pinta Jessica pada Rafael yang sejak tadi diam saja.
“Nyonya besar, jangan banyak bicara! Simpan dulu tenagamu itu! “pinta Rafael dengan kuatir
“Sayang, jangan katakan hal yang membuat semua orang takut! Istirahatlah! Aku mohon!”pinta Arthur dengan panik
Baru kali ini dirinya melihat sang istri tampak sangat lemah.
“Aku harus mengatakannya..aku tak mau bertemu Isabelle.. dengan penuh penyesalan”ucap Elizabeth sambil beruraian airmata
“Dengarkan! Ini adalah permintaan nenek. Mungkin untuk yang..terakhir kalinya. Aku mohon...segera laksanakan..pertunangan kalian. Aku merasa..waktuku di dunia ini..tidak lama lagi. Ijinkan aku..melihat kalian bersama. Jika perlu..kalian menikah..secepatnya. Sebelum…aku..mati”ucap Elizabeth
Elizabeth semakin lemah. Matanya pun beberapa kali hampir terpejam.
“Nenek kumohon jangan katakan itu! Nenek akan baik-baik saja”ucap Jessica dengan terisak.
“Kenapa lama sekali? Kapan kita sampai ke rumah sakit?”tanya Arthur dengan suara panik melihat sang istri yang semakin lemah saja.
“Jessica..Rafael..berjanjilah kalian akan selalu..bersama. Berjanjilah padaku kalian akan..menikah. Dan hidup bahagia..bersama. Berjanjilah nak!”ucap Elizabeth dengan nafas yang terengah-engah
Sungguh Elizabeth mengerahkan seluruh tenaganya untuk berbicara pada cucu kesayangan dan kekasihnya itu.
“Kau mau kan?”tanya Elizabeth karena tak segera mendengar jawaban dari keduanya.
Dalam keadaan yang sangat kalut dan bingung, Jessica terus menganggukkan kepalanya.
“Iya nek. Aku janji! Aku janji!”ucap Jessica dengan terisak
Elizabeth yang mendengar jawaban Jessica langsung tersenyum. Elizabeth meraih tangan Jessica dan Rafael lalu menyatukannya dengan kedua tangannya. Elizabeth melakukannya dengan mengumpulkan seluruh tenaganya yang tersisa.
__ADS_1
“Terimakasih sayang..Aku bisa pergi..dengan tenang sekarang. Aku…sangat..ba..ha..gia”
Degh..
Tiba-tiba, mata Elizabeth terpejam. Kepalanya langsung miring ke samping dan tangannya pun terkulai lemah. Tangan yang sebelumnya menggenggam tangan Jessica dan Rafael itu tiba-tiba terjatuh, terkulai tak bertenaga. Membuat semua orang di dalam helicopter langsung panik.
“Nenek..jawab aku! Nenek!”panggil Rafael dengan suara panik setengah mati
Jessica tampak sangat terguncang melihat Elizabeth yang menutup matanya. Jessica menangis tersedu-sedu sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya.
“Sayang! Aku mohon jawab aku! Sayang! Jangan tinggalkan aku! Sayangku!”panggil Arthur dengan panik sambil menggoyangkan tubuh Elizabeth
Suasana di dalam helicopter semakin tak terkendali. Semua orang panik setengah mati melihat keadaan Elizabeth yang tak sadarkan diri.
Pilot segera mendaratkan helicopter di landasan helipad rumah sakit terdekat yang bisa mereka tuju. Di luar landasan helipad, tampak beberapa petugas medis sudah bersiap menerima pasien. Sebelumnya mereka sudah mendapat informasi kedatangan helicopter yang ditumpangi keluarga Miller.
Dengan segera petugas medis membawa Elizabeth menuju unit gawat darurat untuk mendapatkan penanganan medis. Rafael memeluk tubuh Jessica yang masih terguncang hebat setelah kejadian di dalam helicopter tadi. Arthur tampak mengikuti petugas medis yang membawa sang istri.
Jessica, Rafael dan Arthur dengan setia menunggui di luar ruang perawatan Elizabeth.
“Sudahlah! Jangan menangis! Aku yakin nyonya besar akan baik-baik saja!”ucap Rafael mencoba menenangkan Jessica yang terus menangis sepanjang perjalanan.
“Aku sangat takut! Aku takut jika nenek Eliz…”
“Buang jauh-jauh pikiran burukmu itu! Dokter pasti berusaha menyelamatkan nyonya besar!”ucap Rafael
Selang beberapa waktu, tampak Anna, Ara, Leon, Albert dan beberapa keluarga Jessica datang menyusul ke rumah sakit.
“Bagaimana keadaan nyonya Elizabeth?”tanya Hanna
“Dokter sedang berusaha menyelamatkannya”jawab Rafael
“Nenek akan baik-baik saja kan kak?”tanya Anna sambil beruraian airmata
Rafael langsung mendekati sang adik yang terlihat sangat sedih dan menangis sesenggukan. Ara yang biasanya dingin dan datar pun tampak meneteskan airmata meskipun tak sedramatis Jessica dan Anna.
Albert berjalan mendekati Jessica dan hendak menenangkannya. Tetapi Rafael yang melihat Albert berjalan mendekati wanitanya, langsung melepaskan pelukannya di tubuh sang adik dan berjalan cepat ke arah Jessica.
“Singkirkan tanganmu itu!”pinta Rafael dengan tatapan tajam ke arah Jessica
“Aku hanya ingin menenangkan Jessica”ucap Albert
Rafael yang tak mau Albert dekat-dekat dengan wanitanya, segera menggeser tubuh Jessica dan melingkarkan tangannya di bahu Jessica. Rafael bahkan mengajak Jessica mendekati Hanna, mamanya.
__ADS_1
Jessica langsung memeluk tubuh mamanya. Hanna memeluk tubuh Jessica yang terus menangis sejak dari tadi. Semua orang menunggu dengan penuh harap. Berharap Elizabeth dapat segera sembuh dan selamat dari masa kritisnya.