Fall For You

Fall For You
Bertemu Tuan Besar


__ADS_3

Setelah memeriksa keadaan Ramon, dokter dan perawat pun satu per satu meninggalkan ruang rawat inap tempat Ramon di rawat. Karena baru saja sadar, Ramon belum diperbolehkan banyak bergerak. Tetapi beberapa peralatan medis sudah dilepas dari tubuh lelaki tampan itu.


Elizabeth yang sudah datang bersama suaminya, Arthur Miller,  duduk di samping ranjang sambil menggenggam tangan Ramon. Airmata tak hentinya mengalir dari mata wanita paruh baya itu. Sesekali Elizabeth mencium punggung tangan Ramon.


“Syukurlah kau sudah sadar nak. Kau tak tahu nenek sangat merindukanmu”ucap Elizabeth sambil terisak pilu


Wajah tuanya memancarkan kesedihan mendalam. Karena cucu pertamanya sudah dua tahun tidak sadarkan diri. Sementara Arthur, hanya menatap Ramon dengan tatapan yang sulit diartikan. Lelaki paruh baya itu terlihat sangat dingin.


Jessica yang baru pertama kali bertemu dengan Arthur, tampak sesekali melirik lelaki tua penuh wibawa namun berwajah angker itu.


“Pantas Rafael sedingin dan sedatar itu. Ternyata gen dari kakeknya paling dominan. Tatapan matanya benar-benar mengerikan. Hhiiiii…”gumam Jessica dalam hati


Degh..


Tiba-tiba Arthur menatap tajam ke arah Jessica. Spontan Jessica mengalihkan tatapan matanya. Jessica salah tingkah setelah ketahuan melirik ke arah lelaki tua yang berdiri beberapa meter darinya.


Jessica semakin gemetaran setelah kakek Arthur berjalan ke arah dirinya.


“Aduh..kenapa beliau malah kemari? Bagaimana ini?”tanya Jessica dalam hati sambil memundurkan tubuhnya.


Jessica memilih bersembunyi di balik tubuh Rafael yang berdiri di sampingnya. Kakek Arthur berdiri tepat di depan Rafael. Keduanya saling bertatapan. Elizabeth yang melihat sang suami mendekati cucu kesayangannya tampak sedikit kuatir. Bagaimana tidak kuatir, jika keduanya setiap bertemu selalu saja bertengkar. Elizabeth kuatir Arthur dan Rafael akan bersitegang seperti yang sudah-sudah. Padahal Ramon baru saja sembuh.


“Ramon sayang, istirahatlah dulu! Kau masih perlu banyak istirahat untuk memulihkan keadaanmu. Nenek akan menungguimu disini. Kau tenang saja! Tidurlah nak!”pinta Elizabeth


Ramon yang merasa tubuhnya lelah, hanya menggangguk dan memilih menuruti keinginan sang nenek. Mata Ramon pun terpejam.

__ADS_1


Setelah memastikan Ramon tidur, Elizabeth segera berjalan ke arah Arthur dan Rafael yang terlihat berbincang ringan.


“Kapan kau kembali ke perusahaan?”tanya Arthur


“Itu kan perusahaan tuan besar bukan perusahaanku”jawab Rafael dengan enteng


Jessica yang mendengar jawaban Rafael langsung memukul pelan lengan kekar Rafael. Membuat lelaki tampan itu spontan menoleh pada gadis cantik yang berdiri di belakangnya.


“Jangan tidak sopan! Bukan begitu caranya bicara pada orang yang lebih tua”ucap Jessica pelan sambil menatap sekilas pada Arthur yang menatapnya dengan tajam.


“Siapa kau nona muda? Aku belum pernah melihatmu sebelumnya”tanya Arthur dengan tatapan menyelidik


“Sial! Kenapa aku mesti ikut campur? Dasar mulut lancang!”umpat Jessica dalam hati merutuki kebodohannya sendiri


Jessica memaksakan sebuah senyum di bibirnya.


Arthur dan Jessica berjabatan tangan.


“Dia pacar Rafael, kek”ucap Elizabeth yang datang menghampiri mereka bertiga


Degh..


“Oh My God! Pasti beliau marah besar!”gumam Jessica dalam hati begitu melihat ekspresi wajah Arthur yang berubah.


Ekspresi wajahnya benar-benar tak terbaca. Jantung Jessica berdegup semakin kencang begitu mendapat tatapan tajam Arthur yang kaget mendengar pengakuan Elizabeth tentang hubungan Jessica dan Rafael.

__ADS_1


Rafael yang melihat wajah ketakutan Jessica, tanpa diduga malah menggenggam tangan mungil Jessica. Membuat Jessica membelalakkan matanya melihat kelakuan lelaki tampan itu.


“Hei..hei..apa-apaan ini!”gumam Jessica dalam hati


Arthur menatap kedua sejoli yang katanya sedang pacaran itu. Mata Arthur tertuju pada genggaman tangan Rafael pada Jessica.


“Apa itu benar Raf?”tanya Arthur


“Seperti yang tuan besar dengar. Gadis ini adalah pacarku. Jadi jangan berani menyentuhnya. Mengerti?”ancam Rafael dengan penuh penekanan di tiap kata-katanya.


Wajah Rafael mendadak berubah garang. Matanya menatap tajam lelaki tua di depannya. Keduanya saling bertatapan dengan tajam. Seperti dua pesaing yang saling bertemu. Siap saling menghajar satu sama lain.


Jessica hanya bisa menatap keduanya dengan penuh tanda tanya. Namun di detik berikutnya, Rafael mengajaknya pergi dari kamar Ramon.


“Aku pergi dulu”pamit Rafael


Rafael menarik Jessica pergi karena tangannya yang masih digenggam Rafael. Karena langkah kaki Rafael yang lebih lebar, Jessica sedikit kesulitan mengimbangi langkah kaki lelaki yang sedang diliputi kemarahan itu.


“Raf, kau tak mau makan bersama? Baby akan pulang hari ini. Sudah lama kita tidak berkumpul. Kau mau kan pulang malam ini? Nenek mohon!”pinta Elizabeth


Suara Elizabeth membuat Rafael menghentikan langkahnya. Rafael membalik tubuhnya sejenak. Dilihatnya wajah memohon Elizabeth yang terlihat sangat sendu.


“Kami akan datang”sahut Jessica cepat


Jawaban tak terduga dari Jessica membuat Rafael spontan menoleh pada gadis cantik di sampingnya itu.

__ADS_1


“Terimakasih Jessica. Nenek tunggu kedatangan kalian”balas Elizabeth


Rafael hanya diam kemudian melangkah pergi meninggalkan ruang rawat inap Ramon. Jessica terpaksa mengikuti Rafael karena lelaki itu masih menggenggam tangannya dengan sangat erat.


__ADS_2