
Stela yang melihat Jessica keluar dari kantor Rafael segera menghampiri nona mudanya itu.
“Nona kemana saja tadi?”tanya Stela kuatir
“Aku tadi ngobrol dengan kak Ramon di rooftop. Memangnya kenapa?”tanya Jessica heran
“Syukurlah nona tidak apa-apa. Nona tadi sudah membuat seisi kantor ini bingung. Terlebih tuan muda”ucap Stela
“Rafael?”tanya Jessica
“Benar nona. Tuan muda benar-benar kuatir saat menyadari nona tidak segera kembali ke kantor. Tuan muda bahkan menyusul nona langsung ke pantry, tapi nona tidak berada di sana. Akhirnya tuan muda mengerahkan semua orang untuk mencari nona”jelas Stela panjang lebar
“Benarkah?”tanya Jessica memastikan
“Tuan muda bahkan mencari sampai ke ruang kontrol CCTV gedung dan mengamati satu per satu layar CCTV”jawab Stela
“Apa karena itu dia kelihatan marah? Karena dia kuatir padaku? Mungkinkah seperti itu?”gumam Jessica dalam hati
“Nona sungguh sangat beruntung karena mendapatkan lelaki seperti tuan muda”ucap Stela
“Beruntung?”tanya Jessica
“Tuan muda sangat mencintai nona. Saya bisa melihat itu”jawab Stela jujur
Jessica hanya tersenyum mendengar ucapan Stela.
“Dia mencintaiku? Benarkah?”gumam Jessica dalam hati
Jessica terus memikirkan ucapan Stela pada dirinya. Begitu kembali ke kantor, dilihatnya Rafael yang sedang sibuk bekerja.
“Apa benar dia mencintaiku? Cinta? Mana mungkin? Lelaki playboy seperti dia mana mungkin bisa jatuh cinta”gumam Jessica dalam hati sambil sesekali melirik ke arah lelaki tampan yang sedang sibuk memeriksa berkas-berkas di mejanya.
Jessica menggelengkan kepalanya dengan cepat mencoba mengusir pikirannya yang menurutnya sangat tidak masuk akal.
“Tidak mungkin. Itu tidak mungkin”gumam Jessica dalam hati
Rafael yang sedang fokus bekerja begitu melirik ke arah Jessica tampak mengerutkan dahinya melihat kelakuan aneh Jessica yang menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Apa yang dipikirkan gadis ceroboh itu?”tanya Rafael dalam hati sambil memperhatikan Jessica
“Sadar Jessica! Sadar!”seru Jessica sambil menampar pipinya sendiri untuk menyadarkan dirinya sendiri bahwa pikirannya tadi sangat tidak masuk akal. Pemikiran tentang Rafael yang mencintai dirinya.
“Kau sedang apa?”tanya Rafael
“Hah?!”
Jessica spontan menoleh ke samping begitu mendengar suara lelaki yang sejak tadi mengusik pikirannya itu sudah berdiri di sampingnya.
“Ah..kau mengagetkan saja”keluh Jessica sambil memegang dadanya saking kagetnya.
“Kenapa tiba-tiba kau berdiri di sini? K-kau kan tadi duduk di sana”tunjuk Jessica ke arah kursi kebesaran Rafael.
“Makanya jangan kebanyakan melamun”perintah Rafael sambil menyentil pelan dahi Jessica
“Aduh”
Jessica mengaduh sambil mengusap keningnya yang baru saja disentil.
“Siapa juga yang melamun”jawab Jessica sambil memonyongkan bibirnya
__ADS_1
Rafael pun berjalan kembali ke kursinya setelah memastikan Jessica baik-baik saja.
“Oh ya, nanti aku mau ke supermarket”ucap Jessica
“Untuk apa?”tanya Rafael sambil membalik tubuhnya menghadap Jessica yang saat ini berdiri dari kursinya.
“Ada beberapa barang yang aku perlukan”jawab Jessica
“Tapi pekerjaanku masih banyak. Aku tak bisa mengantarmu”sahut Rafael
“Aku bisa pergi sendiri”ucap Jessica
Rafael berjalan ke arah Jessica dan mengeluarkan kartu blackcard dari dompetnya.
“Kau bisa pakai kartu ini. Belilah apapun yang kau perlukan!”ucap Rafael sambil menyodorkan kartu blackcardnya.
“Tak perlu. Aku masih punya..”
“Ini perintah!”ucap Rafael dengan tegas dan tatapan tajam pada Jessica
Membuat nyali Jessica langsung menciut melihat tatapan tajam Rafael pada dirinya. Sehingga mau tidak mau, Jessica mengambil kartu blackcard yang diberikan Rafael sambil cemberut.
“Baiklah”sahut Jessica dengan cemberut
Jessica duduk lagi ke kursinya begitu juga Rafael. Keduanya kembali pada kesibukan masing-masing. Rafael sibuk dengan tumpukan berkas di depannya sementara Jessica sibuk mendata keperluan apa saja yang akan dibelinya. Karena tinggal sementara di apartemen Rafael, membuat Jessica mau tidak mau perlu membeli beberapa keperluan yang belum dimilikinya. Jessica bahkan berencana membeli beberapa sayur dan buah untuk mereka berdua. Karena di lemari pendingin Rafael memang tidak tersedia banyak makanan, makanya tadi pagi mereka hanya sarapan omelet.
Jessica tampak serius mendata semua keperluan yang akan dibelinya. Wajah serius Jessica kala mendata semua keperluannya tak luput dari perhatian lelaki tampan yang berada satu ruang dengan dirinya. Ekspresi wajah Jessica yang menggemaskan membuat Rafael menarik sudut bibirnya menampakkan sebuah senyuman tipis di wajah tampannya.
“Kenapa dia selalu menggemaskan seperti itu?”gumam Rafael dalam hati
******
Hari pun beranjak petang. Sudah waktunya untuk pulang. Namun pekerjaan Rafael yang sangat banyak memaksanya untuk lembur. Jessica yang sejak tadi menunggui Rafael, terus menatap jam di tangannya.
Jessica segera mengambil tasnya dan berjalan menuju meja Rafael
“Aku pergi dulu”pamit Jessica
Rafael mendongakkan kepalanya mendengar suara wanitanya.
“Kau yakin bisa pergi sendiri?”tanya Rafael
“Aku sudah sering pergi ke supermarket itu. Aku pergi dulu”pamit Jessica
“Hati-hati! Kabari aku jika terjadi sesuatu”pinta Rafael
Jessica pun pergi seorang diri. Stela dan Philip juga ikut lembur bersama Rafael.
Jessica pergi ke supermarket naik taksi. Dia memang sudah sering ke supermarket itu bersama Amanda. Sehingga tidak masalah bagi dirinya pergi seorang diri.
Sesampainya di Carrefour Market, salah satu swalayan di Paris, Jessica segera belanja semua keperluan yang diperlukannya. Dengan mendorong sebuah troli besar, Jessica menyusuri satu rak ke rak yang lain mengambil beberapa barang yang diperlukannya.
Jessica tampak asyik berbelanja keperluan dirinya. Satu waktu Jessica melintas di rak yang menjual ****** ***** pria. Tiba-tiba sekelebatan bayangan Rafael yang bertelanjang dada dengan hanya mengenakan ****** ***** membuat Jessica terkaget-kaget dengan imajinasinnya sendiri. Jessica langsung memukul kepalanya sendiri untuk mengusir bayangan aneh di kepalanya.
"Dasar mesum!"gerutu Jessica sambil merutuki kebodohannya sendiri
Jessica tak memperdulikan kelakuannya yang absurd, membuat beberapa pengunjung menatapnya sambil mengerutkan dahinya. Jessica hanya bisa memaksakan sebuah senyum di bibirnya untuk membuat para pengunjung tersebut pergi meninggalkan dia.
"Lihat kelakuanmu Jessica! Orang-orang pasti sudah mengira kau orang gila!"gerutu Jessica dalam hati
__ADS_1
Jessica kembali melanjutkan perburuannya. Berbelanja keperluannya dari satu rak ke rak yang lain. Banyaknya rak yang berjejer membuat Jessica sedikit kesulitan mencari barang-barang yang diperlukannya. Apalagi swalayan itu sangat besar, membuat Jessica kewalahan mencari barang keperluannya.
"Ah..susah sekali mengambilnya!”gumam Jessica sambil berusaha meraih sebuah botol shampoo favoritnya yang dipajang di rak yang lumayan tinggi dari tinggi badannya.
Jessica tampak kesulitan mengambil botol itu. Tiba-tiba sebuah tangan dari belakang Jessica terulur untuk mengambilkan botol shampoo itu.
“Thank you”ucap Jessica sambil menoleh ke samping
“Kamu?”
Jessica kaget melihat tunangannya sudah berdiri di sampingnya dengan penampilan yang berbeda dari ketika dia meninggalkannya di kantor tadi. Rafael tampak sudah melepas jas hitam dan dasi yang dipakainya tadi. Kini lelaki tampan itu hanya mengenakan kemeja putihnya yang dibuka beberapa kancingnya hingga otot kekar Rafael terlihat mengintip dari kemeja itu.
“Kamu ngapain disini? Bukannya kamu banyak pekerjaan?”tanya Jessica
Rafael hanya diam dan malah memasukkan beberapa barang ke dalam troli yang dibawa Jessica.
“Aku baru ingat kalo shampoo ku juga habis”jawab Rafael asal
Rafael berjalan sambil mendorong troli yang tadi dibawa Jessica. Rafael terus berjalan di depan Jessica. Sementara Jessica menatap punggung lelaki tampan yang menyebalkan itu. Namun entah kenapa hati Jessica justru bahagia begitu melihat Rafael menyusulnya.
Rafael menoleh ke belakang menatap tunangannya yang membeku di tempatnya tadi.
“Apa kau akan berdiri di sana semalaman? Kemarilah!”ajak Rafael
Jessica pun berjalan menyusul Rafael. Keduanya membeli semua keperluan yang diperlukan. Sesekali Jessica memasukkan barang yang tidak perlu. Namun kemudian barang itu dikembalikan oleh Rafael. Membuat Jessica mendengus kesal dengan kelakuan Rafael. Jessica mengangkat tangannya ke udara ingin memukul Rafael tapi diurungkan begitu lelaki tampan itu menoleh ke arahnya. Jessica yang salah tingkah malah bertingkah seolah baru peregangan.
“Upsss..hampir saja ketahuan”gerutu Jessica dalam hati
Rafael membalik tubuhnya dengan senyum yang tersungging di bibirnya. Senyum yang sangat jarang ditampakkannya. Namun senyum itu berhasil menghiasi wajah tampannya melihat kelakuan tunangannya yang kadang sedikit absurd.
“Apa kau tak pernah makan sayur? Aku lihat lemari pendinginmu isinya hanya minuman saja”tanya Jessica
“Untuk apa aku menyimpan sayur? Aku biasa makan di luar”jawab Rafael dengan santainya.
“Kau suka masakan apa? Mungkin aku bisa memasakkannya untukmu?”tanya Jessica
“Kau bisa memasak?”tanya Rafael sambil menyilangkan kedua tangannya di depan dadanya dengan tatapan menelisik pada Jessica
“Tentu saja. Apa kau meragukan kemampuan memasakku?”gerutu Jessica
Rafael mendekatkan tubuhnya pada Jessica dan membisikkan sesuatu di telinga gadis cantik itu.
“Aku bisa memakan masakan apapun yang kau buatkan”goda Rafael sambil berbisik di telinga Jessica
Gadis itu tertawa kecil mendengar godaan Rafael. Rafael juga tersenyum melihat reaksi Jessica yang tersipu malu mendengar godaannya. Entah kenapa kali ini Jessica tampak berbunga mendengar godaannya.
Akhirnya keduanya kembali membeli sayur dan buah untuk mengisi lemari pendingin di apartemen Rafael. Mereka berdiskusi dengan ringan. Tanpa perdebatan yang biasanya mereka lakukan.
Ketika Jessica hampir menabrak pengunjung supermarket yang melintas dengan sigap Rafael langsung menarik tubuh Jessica dan memeluknya untuk melindunginya.
"Hati-hati!"seru Rafael sambil menarik tubuh Jessica lalu memeluknya
Degh..
Hati Jessica bergetar merasakan Rafael yang memeluk dirinya. Jessica bahkan bisa mendengar dengan jelas detak jantung lelaki tampan itu. Jessica mendongakkan kepalanya menatap Rafael yang berdiri di depannya.
“Kau baik-baik saja?”tanya Rafael sambil menatap gadis cantik yang berada dalam dekapannya.
“I-iya”sahut Jessica
__ADS_1
Rafael melepaskan dekapannya kemudian mereka kembali berjalan membeli buah-buahan. Jessica mematung sejenak merasakan tubuhnya baru saja dipeluk lelaki tampan itu dengan jantung yang berdebar-debar hebat.
“Jantungku?”gumam Jessica sambil memegang dadanya