Fall For You

Fall For You
Mengobatimu


__ADS_3

Di dalam mobil,


“Kenapa malah kak Victor beneran terluka?”tanya Jessica


“”Tenanglah.. Victor lelaki yang kuat, dia pasti bisa segera sembuh”ucap Rafael


“Bukankah awalnya penganiayaan itu hanya rekayasa? Kenapa malah jadi beneran seperti ini? Aku benar-benar panik setengah mati saat melihat kak Victor pingsan tadi. Darah yang mengalir dari kepalanya banyak sekali. Aku takut jika kak Victor sampai …”


Jessica menggantung ucapannya sendiri karena tidak berani meneruskan ucapannya.


“Mati”sambung Rafael


“Buang jauh-jauh pikiran burukmu itu”pinta Rafael.


Jessica meringis kesakitan sambil melihat sikunya.


“Kau kenapa?”tanya Rafael mendengar suara Jessica yang tampak kesakitan.


“Hanya lecet sedikit”ucap Jessica sambil mengusap sikunya yang ternyata sedikit terluka.


Karena sudah sangat malam, Jessica pun mulai merasa mengantuk. Dia berusaha sekuat tenaga supaya tetap terjaga. Tapi seakan matanya tidak bisa diajak kompromi. Dan akhirnya dia malah tertidur di kursi mobil.


“Kita sudah sampai”ucap Rafael tanpa melihat ke arah Jessica.


Merasa tidak mendapat jawaban, Rafael pun menoleh ke arah Jessica. Dilihatnya gadis ceroboh yang selalu mengusik hatinya itu sedang terlelap tidur.


Rafael menarik sudut bibirnya sambil menatap Jessica dengan lembut.


“Jess..bangunlah! Kita sudah sampai”pinta Rafael dengan suara lirih


Dia tak ingin mengganggu tidur Jessica tapi dia juga harus membangunkannya.


“Gadis ceroboh..kenapa kau selalu membuatku mengkhawatirkanmu?”gumam Rafael dalam hati sambil menatap wajah cantik Jessica


Wajar saja Rafael kuatir, karena saat menerima telepon dari Jessica tentang keadaan Victor, yang ada di pikiran Rafael justru keadaan Jessica. Gadis ceroboh yang meskipun terlihat kuat namun Rafael tahu gadis itu sangat rapuh dan lemah.


Rafael mengusap pipi Jessica dan tersenyum pada gadis cantik yang sedang terlelap tidur itu.


“Apa kau tahu kau selalu membuatku memikirkanmu?”gumam Rafael dalam hati.


Rafael menatap wajah cantik Jessica dan kemudian mendekatkan tubuhnya ke arah gadis cantik itu. Entah kenapa setiap melihat Jessica yang tertidur membuat Rafael selalu ingin merasakan kelembutan di bibir merah Jessica.


“Cupppp”


Sebuah kecupan manis diberikan Rafael pada putri tidur itu. Kecupan singkat namun begitu hangat diberikan Rafael.


Karena tak kunjung terbangun, Rafael yang juga mengantuk justru ikut tidur di mobil bersama Jessica. Akhirnya keduanya tertidur di mobil bersama.


“Ehmmm”


Jessica menggeliatkan tubuhnya begitu terbangun.

__ADS_1


“Di mana ini?”tanya Jessica begitu menyadari dirinya masih berada di dalam mobil.


Ketika menoleh ke arah Rafael dilihatnya wajah lelaki tampan yang sedang terlelap dalam tidur. Jessica tersenyum melihat betapa lelaki tampan yang menyebalkan itu terlihat begitu tenang dan damai saat tidur.


“Dia begitu tenang saat tidur”gumam Jessica dalam hati


Tiba-tiba tubuh Rafael bergerak menandakan lelaki itu sudah terbangun.


“Kau sudah bangun?”tanya Rafael dengan suara parau khas bangun tidur.


“Iya”jawab Jessica


“Aduh”


Jessica tanpa sengaja menyenggol pintu mobil di sampingnya sehingga sikunya yang tadi terluka membuatnya merasakan kesakitan. Jessica memegangi sikunya yang sakit.


“Ada apa? Coba aku lihat!”tanya Rafael kuatir.


Rafael segera menarik tangan Jessica yang terluka. Dilihatnya siku Jessica yang berdarah.


“Kau berdarah? Kenapa tidak bilang?”tanya Rafael


Jessica mengerucutkan bibirnya karena dimarahi Rafael.


“Aku tidak tahu kalo sikuku sakit. Aku juga baru tahu setelah pulang dari rumah sakit tadi”jawab Jessica


“Ayo turun! Kita obati lukamu!”ajak Rafael


Rafael segera keluar dari mobilnya. Membuat Jessica kebingungan dengan ucapan Rafael tadi. Jessica segera menyusul Rafael yang sudah lebih dulu keluar dari mobil.


“Aku bantu mengobati lukamu”sahut Rafael.


“Tidak usah. Aku bisa obati sendiri. Kau pulang saja!”ucap Jessica


Rafael hanya diam namun tatapannya begitu tajam pada Jessica. Membuat Jessica salah tingkah melihat tatapan lelaki tampan itu.


“Amanda sedang di rumah sakit merawat Victor. Bagaimana caramu mengobati sendiri lukamu? Jangan khawatir! Setelah mengobati lukamu aku akan pulang”ucap Rafael.


“Baiklah”ucap Jessica menuruti permintaan Rafael


Begitu sampai di apartemen Amanda, Jessica segera berjalan menuju kotak P3k dan mengambilnya menuju ruang tamu.


Rafael menerima kotak p3k yang dibawa Jessica. Rafael menarik tangan Jessica hingga gadis cantik itu mau tidak mau duduk juga di kursi sofa di samping Rafael.


“Duduklah!”ajak Rafael


Rafael segera mengambil obat merah dan mengoleskannya ke siku Jessica.


“Pelan-pelan!”pinta Jessica


“Iya-iya”jawab Rafael.

__ADS_1


Ketika Jessica dan Rafael mendongakkan kepala mereka, tanpa mereka sadari tubuh mereka begitu dekat. Keduanya saling bertatapan dalam diam. Seketika waktu terasa berhenti. Jessica dan Rafael saling bertatapan berdua. Detak jantung keduanya berdegup sangat kencang. Aura panas semakin terasa di sekitar mereka.


Menyadari ada yang salah dengan dirinya, Jessica segera menjauhkan tubuhnya dari Rafael. Keduanya pun tampak salah tingkah. Ketika Jessica hendak mengembalikan obat merah yang baru saja digunakan untuk mengobati lukanya, ternyata Rafael juga ingin mengembalikan obat merah itu juga. Akibatnya tangan keduanya saling memegang obat merah dalam waktu yang bersamaan.


Seperti ada sentrum yang menyengat karena kulit tangan keduanya yang bersentuhan. Membuat keduanya semakin salah tingkah.


“A-apa kau haus?”tanya Jessica


“Boleh”jawab Rafael dengan cepat


Jessica segera berjalan ke dapur sambil mengoceh sendiri tanpa suara.


“Apa-apaan itu tadi? Kenapa jantungku deg-degan ga karuan sih?”gumam Jessica dalam hati


Jessica menuju dapur dan membuatkan minuman hangat untuk keduanya. Jessica menyodorkan minuman hangat yang dibuatnya pada Rafael.


“Terimakasih”ucap Rafael


“Iya”sahut Jessica


Keduanya meminum minuman hangat dalam suasana yang begitu canggung. Bagaimana tidak canggung, jika sebelumnya mereka bertatapan dalam waktu yang begitu lama dan bertatapan dengan sangat dekat.


Setelah menghabiskan minumannya, Rafael pun pamit pulang.


“Terimakasih untuk tumpangannya”ucap Jessica sambil mengantar Rafael ke pintu.


“Tutup pintunya! Jangan dibuka jika kau tak mengenal siapa tamunya”perintah Rafael


Jessica menganggukkan kepalanya.


“Besok aku jemput”ucap Rafael.


Seketika Jessica mengerutkan dahinya mendengar ajakan Rafael.


“Memang kita mau kemana?”tanya Jessica


“Apa kau sudah lupa? Besok kita jenguk Victor”jawab Rafael


“Oh..iya. Maaf aku lupa”jawab Jessica


“Aku pulang”pamit Rafael.


Jessica menutup pintu begitu Rafael pergi. Ada perasaan kuatir dalam hati Rafael meninggalkan Jessica seorang diri di apartemen Amanda.


“Apa dia akan aman sendirian saja?”gumam Rafael sambil menoleh sebentar ke arah pintu apartemen Amanda.


Rafael tampak menghubungi seseorang di telepon. Beberapa saat kemudian, seorang lelaki muda, menundukkan kepalanya pada Rafael.


“Maaf tuan muda membuat Anda menunggu lama. Ini kunci apartemen yang tuan minta”ucap Philip, asisten keluarga Miller


“Terimakasih. Ingat, jangan ceritakan hal ini pada nyonya besar”

__ADS_1


“Saya mengerti”


Rafael segera meninggalkan Philip dan berjalan menuju pintu apartemen yang tak jauh dari apartemen Amanda. Karena tanpa diketahui banyak orang, gedung apartemen yang ditinggali Amanda masih milik keluarga Miller, sehingga Rafael leluasa meminta kunci apartemen pada Philip. Rafael yang kuatir dengan keselamatan gadis ceroboh yang selalu membuatnya kuatir itu, akhirnya memutuskan bermalam di salah satu apartemen yang berada satu lantai dengan apartemen Amanda. Hanya agar dirinya bisa melindungi si gadis ceroboh itu.


__ADS_2