
Keesokan paginya,
Sinar mentari pagi menyinari bumi dengan cahayanya yang menyilaukan mata. Hari ini cuaca sangat mendukung. Sangat cerah. Langit yang biru dan awan putih berlarian menghiasi suasana pagi di kota Paris yang selalu sibuk. Semua orang juga sudah bersiap memulai aktivitasnya masing-masing.
Sorot cahaya matahari menerobos tirai yang menutupi kamar milik Rafael. Dua anak manusia berbeda gender yang semalam hampir merajut cinta menuju nirwana itu kini masih tertidur dengan sangat pulas.
Jessica yang tertidur dengan pulas dalam pelukan Rafael tampak menggeliatkan tubuhnya. Karena sangat lelah, Jessica bahkan enggan meninggalkan kenyaman yang kini dirasakannya.
“Dingin”gumam Jessica sambil mengeratkan pelukannya di tubuh Rafael.
Rafael yang masih tertidur juga makin mengeratkan pelukannya. Awalnya Jessica berpikir dirinya sedang bermimpi. Mimpi bertemu dengan seorang pangeran tampan berkuda putih. Dalam mimpinya, Jessica tak bisa melihat dengan jelas wajah pangeran tampan itu.
“Pangeran”panggil Jessica
Pangeran di mimpi Jessica tampak mendekatkan wajahnya dengan perlahan. Jessica yang bersiap menerima ciuman di bibirnya tampak memonyongkan bibirnya dengan mata terpejam.
Jessica dan pangeran tampan itu hampir berciuman. Namun sayangnya, sorot mentari semakin terik sehingga Jessica pun akhirnya terbangun. Perlahan-lahan Jessica membuka matanya.
“Hanya mimpi”gerutu Jessica dalam hati
Jessica membuka matanya dengan perlahan. Samar-samar dilihatnya tubuh seseorang didepan matanya. Jessica juga mulai merasakan hembusan nafas Rafael yang menyapu wajahnya.
__ADS_1
Jessica mendongakkan kepalanya dengan mata yang masih merem melek.
“Rafael?”gumam Jessica dalam hati
Jessica yang masih belum sadar, malah menganggap dirinya masih bermimpi.
“Oh..ini hanya mimpi”gumam Jessica dalam hati
“Tapi, tunggu dulu. Kenapa ini terasa begitu nyata?”gumam Jessica lagi
Jessica mulai membuka matanya lebar-lebar.
Degh..
“Aaaaaaa…..”teriak Jessica dengan sangat lantang
Suara teriakan Jessica membuat Rafael yang awalnya masih tertidur pulas, mau tak mau akhirnya membuka matanya. Jessica memundurkan tubuhnya dari pelukan Rafael. Jessica juga membuka selimut yang membungkus tubuhnya dengan Rafael.
“Aaaaaa……”teriak Jessica lagi dengan lebih kencang, sambil menarik selimut untuk menutupi tubuhnya yang hanya mengenakan underware.
“Berisik! Bisa ga sih ga ganggu orang tidur?”keluh Rafael masih dengan merem melek sambil mengucek matanya.
__ADS_1
Jessica yang kesal langsung memukul Rafael dengan bantal yang ada di ranjang besar itu. Sambil dirinya terus memegang selimut yang membungkus tubuhnya.
“Dasar cowok kurang ajar! Apa yang sudah kau lakukan padaku?”seru Jessica dengan perasaan campur aduk.
Antara marah, sedih, kaget, bingung. Jessica sama sekali tak mengingat kejadian semalam. Yang dia ingat dia hanya pergi ke sebuah club malam dan meminum koktail. Dan di hari berikutnya tiba-tiba dia sudah berada di ranjang yang sama dengan lelaki yang dibencinya.
“Kenapa aku bisa disini? Apa yang kau lakukan padaku? Kenapa kita bisa tidur di ranjang yang sama?”keluh Jessica panjang lebar
Rafael yang masih belum sadar 100%, begitu merasakan pukulan dari bantal Jessica akhirnya kesal juga.
“Jangan memukulku! Aku tidak melakukan apa-apa. Aku justru menolongmu semalam. Apa kau tak ingat?”tanya Rafael sambil menahan pukulan bantal Jessica.
“Bohong”gerutu Jessica dengan airmata yang sudah terkumpul di sudut matanya.
Rafael yang sudah jengkel, menahan tangan Jessica dan mendorong gadis itu hingga tubuh Jessica terlentang di ranjang. Rafael menindih tubuh Jessica supaya tidak bergerak.
“Diamlah!”perintah Rafael.
“Kau memang laki-laki be*jat. Kau sudah mengambil keuntungan dariku, iya kan?”tuduh Jessica dengan mata yang berkaca-kaca.
Rafael yang melihat kesedihan di mata Jessica merasa tidak tega. Rafael pun melepaskan Jessica dan duduk di samping gadis itu. Jessica menegakkan tubuhnya.
__ADS_1