Fall For You

Fall For You
Pesta Ulangtahun Sendu


__ADS_3

“Ting tuhg”


Sesampainya di lantai tempat Ramon di rawat, Jessica dan Rafael keluar bersama. Tak lupa Rafael menggenggam tangan Jessica.


Jessica yang belum terbiasa dengan sikap Rafael, menatap tangannya yang digenggam Rafael. Begitu melihat lelaki dingin itu mengulas senyum tipisnya, spontan membuat Jessica juga ikut tersenyum.


Rafael menarik Jessica masuk ke dalam sebuah kamar VVIP di rumah sakit. Keduanya memasuki kamar yang sudah dihias dengan sangat indah. Begitu Rafael dan Jessica masuk ke dalam, semua orang yang berada di dalam kamar langsung menoleh ke arah keduanya. Di dalam kamar terlihat Elizabeth duduk di samping ranjang seorang pasien dengan beberapa alat medis menempel di tubuhnya.


“Kalian sudah datang?”tanya Elizabeth begitu melihat keduanya


Elizabeth menatap kedua “pasangan kekasih” yang baru masuk itu. Genggaman tangan keduanya juga tak luput dari tatapan Elizabeth.


“Mereka serius rupanya”gumam Elizabeth dalam hati sambil tersenyum pada cucu kesayangannya.


Di kamar itu, hanya ada Amanda, Elizabeth, Leon dan beberapa orang lain yang merupakan anak buah Elizabeth.


“Tuan besar tak datang?”tanya Rafael begitu menyadari hanya mereka di ruangan itu.


“Kau tahu sendiri kakekmu kan?”jawab Elizabeth


Akhirnya acara perayaan ulangtahun Ramon pun digelar. Mereka menyanyikan lagu ulangtahun dan meniup kue ulangtahun bersama-sama. Semua orang berusaha menikmati acara ulangtahun pasien yang sedang koma itu.


Sesekali Amanda menoleh sambil mengusap airmatanya melihat lelaki pujaan hatinya masih juga tak merespon apapun. Jessica yang melihat Amanda sedih, segera menghampiri kakak sepupunya itu.


Jessica memegang bahu Amanda berusaha memberinya dukungan.


“Kakak baik-baik saja kan?”tanya Jessica kuatir


“Aku baik-baik saja”jawab Amanda dengan senyum yang dipaksakan di wajahnya yang cantik.


Elizabeth juga tak bisa menyembunyikan kesedihannya melihat cucu sulungnya itu masih juga terbaring tak berdaya.


“Ramon, bangunlah nak! Sampai kapan kau akan seperti ini?”tanya Elizabeth sambil menggenggam tangan Ramon.


“Lihatlah! Kami disini semua menunggumu bangun. Jadi bangunlah!”pinta Elizabeth.


“Oh iya. Kau belum berkenalan dengan Jessica”ucap Elizabeth sambil mengusap sisa airmata yang menetes di wajah rentanya.


“Jessica, kemarilah!”panggil Elizabeth


Jessica yang dipanggil pun langsung berjalan mendekati Elizabeth.


Elizabeth menggenggam tangan Jessica.


“Ramon, kenalkan ini Jessica”ucap Elizabeth mengenalkan Jessica


“Bicaralah pada Ramon”pinta Elizabeth pada Jessica


Jessica menuruti permintaan Elizabeth. Jessica berdiri di samping ranjang Ramon dan menatap “kakak iparnya” dengan tatapan sendu. Lelaki tampan yang terbaring tak berdaya itu dikelilingi peralatan medis untuk menunjang hidupnya.

__ADS_1


Jessica meraih tangan Ramon yang terasa dingin dan menggenggamnya.


“Kak Ramon, kenalkan aku Jessica”ucap Jessica


“Dia pacarku”ucap Rafael tiba-tiba


Membuat Jessica yang kaget karena lelaki tampan yang mengaku sebagai pacarnya itu ternyata sudah berdiri di sampingnya. Rafael juga meletakkan tangannya di atas tangan Jessica dan Ramon.


“Kakak segera bangun! Apa kakak tak ingin melihat pacarku?”tanya Rafael


Elizabeth semakin menangis tergugu melihat kedua cucunya bersama setelah sekian lama. Amanda yang melihat Elizabeth menangis, berusaha menguatkan wanita tua yang masih tampak cantik di usianya yang tak lagi muda. Amanda memegang bahu Elizabeth dan mengelusnya perlahan.


Suasana benar-benar sangat sendu. Pesta ulangtahun yang seharusnya dipenuhi kebahagiaan justru dipenuhi tangisan oleh dua wanita yang sangat menyayangi Ramon.


Di tengah suasana sendu itu, tiba-tiba


“Tek..”


Jessica dan Rafael saling berpandangan.


“Kau merasakannya?”tanya Jessica pada Rafael


Rafael menganggukkan kepalanya.


“Tek…”


Jari-jemari Ramon sekali lagi bergerak.


“Aku panggilkan dokter dulu”ucap Rafael


Jessica memilih berjalan mendekati Elizabeth.


“Tadi jari kak Ramon bergerak”ucap Jessica


“Benarkah?”tanya Elizabeth dan Amanda hampir bersamaan.


Elizabeth langsung berjalan mendekati ranjang Ramon dan menggenggam tangannya.


“Ramon, benarkah kau sudah siuman nak? Jawab nenek, sayang!”pinta Elizabeth


Beberapa menit kemudian, beberapa dokter dan perawat tampak memasuki ruang rawat inap Ramon. Elizabeth ditarik Jessica dan Amanda sedikit menjauh dari ranjang Ramon.


“Kita harus tetap optimis nek. Kak Ramon pasti segera sembuh”ucap Jessica


“Semoga saja”sahut Elizabeth


Rafael beberapa kali melirik ke arah Jessica yang terlihat sedang menenangkan Elizabeth. Rafael tenggelam dalam pemikirannya sendiri. Dia bahkan tak mendengarkan Leon yang sejak tadi mengajaknya bicara.


“Hei bos..apa kau mendengarku?”tanya Leon

__ADS_1


“Hah..kau bicara apa?”tanya Rafael yang memang sedang melamun


Leon memasang wajah musamnya begitu menyadari bos sekaligus sahabat baiknya itu malah mengacuhkan dirinya.


“Tadi aku tanya, apa benar kau pacaran dengan Jessica?”tanya Leon


“Itu bukan urusanmu”jawab Rafael dengan ketus


“Kau tau kan, aku tak suka kau mencampuri urusanku”ucap Rafael dengan menatap tajam ke arah manager sekaligus sahabatnya selama bertahun-tahun itu.


“Iya, aku tahu. Aku hanya ingin memastikannya saja. Karena tadi nyonya besar sempat menanyaiku masalah ini. Aku hanya tak mau salah menjawab saja”kelit Leon


Rafael menoleh ke arah managernya.


“Lalu kau jawab apa?”tanya Rafael


“Aku jawab saja, “nanti nyonya juga tahu sendiri jawabannya””ucap Leon


Rafael menarik sudut bibirnya mendengar jawaban cerdas dari managernya.


“Kau memang jenius”puji Rafael


“Apa kau baru menyadarinya sekarang? Makanya baik-baiklah denganku. Karena aku memegang semua “kartumu””jawab Leon sambil tersenyum penuh arti.


“Apa kau mengancamku sekarang? Jangan lupa aku juga memegang semua “kartumu”. Sekali aku buka pada Arabelle, habislah kau!”ancam Rafael sambil tersenyum sinis pada sahabatnya itu.


“Sial! Kenapa aku bisa lupa tentang Ara! Bisa gawat kalo Rafael membongkar rahasiaku pada Ara. Aku harus lebih hati-hati”gumam Leon dalam hati


“Maaf bos. Jangan kau lakukan itu! Aku mengakui aku salah bicara. Jangan katakan apapun pada Ara. Aku mohon!”pinta Leon


Rafael menepuk pundak Leon.


“Anak baik. Kau tahu kan sekarang dengan siapa kau berurusan?”sindir Rafael


Sambil menahan amarahnya, Leon menganggukkan kepalanya.


Para dokter sudah selesai memeriksa Ramon. Dokter pun berjalan mendekati Elizabeth.


“Bagaimana keadaan cucu saya dok?”tanya Elizabeth kuatir


Dokter yang melihat kekhawatiran di mata semua orang berusaha menenangkan suasana.


“Nyonya tenang saja. Apa yang baru saja dialami cucu Anda adalah pertanda baik. Saya sarankan untuk lebih sering mengunjunginya dan mengajaknya bicara. Itu akan sangat membantunya segera pulih”


“Lalu kapan kakak saya akan siuman dok?”tanya Rafael


“Untuk masalah itu, hanya pasien dan Tuhan yang tahu. Kita hanya bisa terus berusaha dan berdoa. Tapi melihat kejadian tadi, saya optimis kakak Anda akan segera siuman”jawab dokter Joshua, salah satu dokter yang menangani Ramon


Akhirnya dokter dan para perawat meninggalkan ruang rawat inap. Elizabeth kembali menggenggam tangan Ramon dan mengelus punggung tangannya.

__ADS_1


“Ramon sayang, kami pulang dulu. Segeralah sembuh nak. Kami menunggumu”ucap Elizabeth


Setelah Elizabeth berpamitan, satu per satu bergantian berpamitan pada Ramon. Dan akhirnya mereka pun pulang masing-masing.


__ADS_2