
“Hei boss, bukankah sepupu Amanda sangat cantik?”tanya Leon
Rafael yang sedang mengenakan pakaiannya terus menatap kaca besar di depannya. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi. Sangat dingin.
“Dia terlalu naif. Gadis ceroboh itu…”
Rafael hanya mengulas senyum tipis di bibirnya saat membahas Jessica bersama Leon.
“I don’t think so. Dia sangat manis. Menurutku dia memiliki senyum paling indah di dunia ini”puji Leon yang memang sedang kesengsem setelah melihat penampilan Jessica selama pemotretan tadi
Rafael yang melihat tingkah Leon merasa tidak senang. Rafael pun memukul kepala Leon.
“Plakkk”
“Awww”
Leon mengelus kepalanya yang dipukul Rafael.
“Don’t be ridiculous! Dia tidak manis. Dia sangat jauh dari kata cantik. Apa kau tak lihat dia begitu pendek. Seperti kurcaci”ejek Rafael
Di mata Rafael, Jessica sangatlah pendek. Tentu saja Rafael merasa begitu. Karena dibandingkan dengan dirinya yang memiliki tinggi 187cm, maka Jessica yang memiliki tinggi 161 cm, tentu saja terlihat pendek.
“Tapi menurutku dia sangat manis. Dia juga langsing. Kulitnya juga indah. She’s my ideal type, hehehehe”puji Leon sambil merapikan barang-barang bosnya.
Rafael yang mendengar manager sekaligus sahabatnya terus memuji kecantikan Jessica, entah kenapa merasa tidak senang.
“Stop talking ‘bout that girl!”perintah Rafael dengan nada kesal.
Rafael yang mulai berkemas, merasa ada yang kurang dari dirinya.
__ADS_1
“Dimana jam tanganku?”tanya Rafael begitu menyadari jam tangannya tidak ada.
Karena selama pemotretan tadi, dia harus melepas jam tangannya.
“Aku tanyakan pada Claire. Aku rasa dia tahu dimana jam tanganmu”jawab Leon
Karena merasa kehilangan jam tangan kesukaannya, Rafael segera menghampiri stylist nya.
“Aku tanya sendiri saja”ucap Rafael.
Rafael segera mencari Claire. Rafael pun masuk ke dalam ruang ganti yang dimasuki Jessica. Belum sempat Rafael memanggil Claire, sang stylist, Rafael dikejutkan dengan suara seseorang.
“Awww”jerit Jessica kesakitan
Rafael yang mendengar suara kesakitan Jessica pun berjalan mendekati ruang ganti.
Jessica keluar dari ruang ganti tanpa menatap ke arah depan. Dia sibuk berusaha melepaskan resleting gaunnya yang tanpa sengaja rambutnya menyangkut di sela-sela resletingnya. Makanya Jessica sempat menjerit kesakitan.
Jessica tak sadar jika kini hanya ada Rafael di ruangan itu. Saat Jessica mendongakkan kepalanya, menghadap ke arah depan, dia kaget melihat penampakan Rafael yang sudah berganti pakaian.
“Kamu?”tanya Jessica kaget sambil menatap Rafael
“Dimana Claire?”tanya Jessica sambil mencari keberadaan Claire.
“Kurasa dia sedang keluar. Kau kenapa?”tanya Rafael dengan ekspresi yang dingin.
“Sudahlah. Itu bukan urusanmu”ucap Jessica sambil tangannya berusaha melepaskan resleting gaunnya.
Melihat Jessica yang kesusahan melepas gaunnya, Rafael berinisiatif membantu. Rafael langsung berjalan ke belakang Jessica.
__ADS_1
Jessica salah tingkah begitu menyadari kini Rafael berdiri di belakangnya. Padahal sebagian resleting gaunnya sudah sedikit terbuka, sehingga memperlihatkan punggung mulus miliknya.
“Apa yang kau lakukan? Pergilah! Aku bisa sendiri”pinta Jessica dengan sedikit memaksa
Rafael yang memang keras kepala, langsung meraih resleting Jessica sambil menarik rambut Jessica yang tersangkut. Rafael melakukannya dengan sangat hati-hati.
“Diamlah! Ada rambutmu yang tersangkut”ucap Rafael
Jessica yang salah tingkah memilih diam, karena Rafael kini sedang membantunya. Lelaki tampan itu menarik rambut Jessica yang tersangkut dengan hati-hati. Jessica sempat melihat dari kaca besar yang ada tak jauh dari dirinya. Dilihatnya lelaki tampan yang selalu berdebat dengannya itu yang saat ini sedang fokus membantunya.
Jessica merasa waktu berjalan sangat lambat. Jantung Jessica berdetak sangat kencang. Karena Jessica dapat merasakan tangan lelaki tampan itu bersentuhan dengan punggung mulusnya kala membantunya melepaskan rambutnya yang tersangkut.
Deg..deg..deg
Jantung keduanya berdegup kencang. Rafael menelan ludahnya dengan susah payah. Karena tangannya yang melepaskan resleting gaun Jessica secara tak sengaja menyentuh punggung mulus Jessica dengan perlahan.
Setelah rambut yang tersangkut itu dapat dilepaskan, Rafael mulai melepaskan resleting gaun Jessica dengan perlahan.
Jessica dengan malu-malu memegang gaunnya yang resletingnya mulai diturunkan. Begitu selesai melepaskan resleting gaun Jessica, Rafael segera berjalan ke depan. Rafael berusaha sekuat tenaga menyembunyikan perasaannya yang tak karuan setelah menyentuh punggung mulus Jessica.
“Terimakasih”ucap Jessica tulus
Rafael hanya menganggukkan kepalanya.
“Aku keluar dulu”pamit Rafael.
Jessica pun kembali ke ruang ganti sambil menatap kepergian Rafael. Sampai di dalam ruang ganti, Jessica menggelengkan kepalanya dengan cepat.
“Huft..Apa yang sedang aku pikirkan? Dia mau membantuku karena hanya ada dia di sini”gerutu Jessica dalam hati
__ADS_1
Sementara itu, Rafael yang sudah keluar dari ruang ganti menghentikan langkahnya dan menatap tangannya sendiri. Terbayang kembali momen singkat antara dirinya dan Jessica barusan. Rafael menarik salah satu sudut bibirnya.
“Sebaiknya aku pulang sekarang”gumam Rafael dalam hati