
Setelah bertunangan, Rafael kini bekerja di perusahaan milik keluarga Miller. Rafael bersedia bekerja di sana, sampai Ramon benar-benar siap menggantikan dirinya. Apalagi kondisi kesehatan Arthur yang semakin menurun seiring usianya yang sudah lanjut. Arthur memerlukan Rafael untuk menggantikan posisinya.
Arthur berhasil membujuk Rafael bekerja di perusahaan tentu saja karena Arthur memanfaatkan Jessica. Arthur meminta bantuan gadis polos yang sudah resmi menjadi tunangan cucu kesayangannya itu. Jessica yang tidak tega melihat Arthur memohon pada dirinya akhirnya menguatkan hati untuk membujuk tunangannya.
Rafael yang memang cerdas, akhirnya menyetujui permintaan Arthur. Namun tentu saja dengan imbalan yang setimpal. Rafael mengajukan satu syarat pada Jessica.
“Katakan, apa syarat yang kau ajukan?”tanya Jessica
“Aku mau bekerja di perusahaan tuan besar, asal kau mau menjadi asisten pribadiku”ucap Rafael dengan tatapan tajam ke arah Jessica yang duduk di depannya.
“Apa? Kau bercanda kan?”selidik Jessica
Rafael memasang wajah seriusnya.
“Tidak. Aku tidak bercanda”sahut Rafael dengan ekspresi dinginnya.
“Bagaimana ini? Jika aku tidak menyetujuinya, aku pasti membuat kakek Arthur kecewa. Tapi jika aku menyetujuinya, aku akan terus bersama lelaki ini. Apa yang harus aku lakukan?”gumam Jessica dalaam hati
Jessica galau mendengar syarat yang diberikan Rafael. Kini keputusan ada di tangannya. Di satu sisi, Jessica ingin mengabulkan permintaan Arthur dengan membuat tunangannya bekerja di perusahaan keluarga Miller. Tapi di satu sisi, dirinya juga akan terjerat di sana, menjadi sekretaris pribadi tunangannya.
“Bagaimana? Apa keputusanmu?”tanya Rafael
“Apa tidak ada syarat yang lain?”bujuk Jessica dengan tatapan memohon
Rafael hanya menggelengkan kepalanya. Membuat Jessica semakin bingung. Jessica terdiam selama beberapa saat. Sambil menghela nafasnya pelan, Jessica mengucapkan jawabannya.
“Baiklah. Aku setuju”ucap Jessica mantap
Rafael menarik sudut bibirnya mendengar jawaban dari tunangannya.
“Semoga keputusanku ini tepat”gumam Jessica dalam hati
“Gadis pintar”gumam Rafael dalam hati
****
Sejak memutuskan bekerja di perusahaan Miller, Jessica terpaksa menemani Rafael kemana pun tunangannya itu pergi. Jessica dibantu dua sekretaris pribadi Rafael, Philip dan Stela.
“Sebenarnya apa tugasku di sini?”tanya Jessica melihat meja kursinya yang berada satu ruangan dengan Rafael.
“Kau cukup menemaniku saja”sahut Rafael sambil duduk di kursi kebesarannya.
“What?”pekik Jessica kaget
“Kau dengar kan apa kataku? Kau cukup duduk di sana dan tetaplah di sana sampai aku membutuhkan sesuatu”ucap Rafael sambil menatap tumpukan berkas di mejanya.
Philip dan Stela yang menjadi sekretaris pribadi Rafael tampak menahan tawa mendengar pembicaraan tuannya dengan tunangannya.
“Dasar gila!”umpat Jessica lirih sambil berlalu menuju mejanya
“Kau bilang apa?”tanya Rafael sambil mengerutkan dahinya
“Tidak. Aku tidak mengatakan apa-apa”kelit Jessica
Suara lirih Jessica ketika mengumpat tunangannya masih terdengar oleh Rafael. Bahkan Philip dan Stela pun mendengarnya. Namun Rafael pura-pura tak mendengarnya.
Akhirnya Philip dan Stela menjelaskan semua pekerjaan Arthur yang tertunda yang kini diserahkan pada Rafael. Rafael mendengarkan penjelasan Philip sambil sesekali melirik ke arah Jessica yang terlihat cekikikan sendiri sambil menatap laptopnya.
__ADS_1
Jessica cekikikan karena membaca grup chat Joanne dan Alvaro yang selalu bertengkar. Setiap kali bertemu mereka selalu saja seperti tom and jerry. Apalagi kini Alvaro pindah kuliah di kampus Joanne. Tentu saja membuat kedua saudara sepupu itu menjadi lebih sering bertemu dan tentu saja bertengkar.
“Apa yang kau tertawakan?”bisik Rafael dari samping kepala Jessica
Jessica yang sejak tadi fokus pada laptopnya tak menyadari jika kini Rafael sedang membaca tangkapan layar di laptopnya. Jessica spontan menoleh ke samping. Mata Jessica membelalak sempurna karena jarak keduanya yang sangat dekat. Jessica bahkan dapat melihat manik mata Rafael yang indah.
Buru-buru Jessica memundurkan kursinya karena tak kuat bertatapan dengan lelaki tampan itu.
“Sejak kapan kau disitu?”tanya Jessica
“Sejak aku memanggilmu dan kau tak mendengarnya karena sibuk membaca chat”sindir Rafael
“Maaf. Aku bingung harus mengerjakan apa, karena sejak tadi kau sibuk dengan Philip dan Stela. Jadi aku iseng chatting dengan Joanne dan Alvaro”ucap Jessica jujur
Rafael menegakkan tubuhnya.
“Sudah waktunya makan siang. Ayo keluar!”ajak Rafael sambil berjalan menuju pintu
“Kita mau kemana?”tanya Jessica dengan bersemangat sambil meraih tasnya dan berjalan menyusul Rafael
“Nyonya besar mengajak kita makan siang bersama di restoran langganannya”jawab Rafael
“Ahh..kebetulan sekali. Aku memang sudah lapar”ucap Jessica dengan tersenyum
Rafael menarik sudut bibirnya melihat Jessica yang ternyata sudah kelaparan. Keduanya berjalan menuju lift bersama. Sebelumnya Rafael meminta Philip dan Stela menjadwal ulang pertemuannya hari ini karena Rafael ingin makan siang bersama keluarga besarnya.
Sesampainya di restoran yang sudah dipilih Elizabeth, Rafael dan Jessica segera berjalan menuju ruangan VVIP yang memang sudah dipesan khusus untuk keluarga Miller. Seorang pramusaji mengantar mereka menuju ruangan itu. Sesampainya di ruangan yang dituju, keduanya masuk bersamaan.
Dilihatnya Arthur, Elizabeth dan Ara di sana. Rafael menarik sebuah kursi untuk Jessica dengan ekspresi dinginnya.
“Terimakasih”ucap Jessica lirih
Jessica menyapa satu per satu keluarga Miller. Akhirnya satu per satu makanan dihidangkan di meja mereka. Pelayan datang silih berganti membawakan makanan pesanan Elizabeth.
“Bagaimana pekerjaanmu di kantor Raf?”tanya Arthur dengan suara beratnya
“Aku baru saja mulai. Masih banyak yang harus aku pelajari”jawab Rafael dengan ekspresi dingin dan datarnya.
“Pelan-pelan saja. Philip dan Stela akan membantumu”sahut Arthur
“Bagaimana denganmu Jess? Apa pekerjaan menjadi asisten pribadi Rafael menyusahkanmu?”tanya Elizabeth
“Tidak nek. Aku bahkan tidak …”
“Dia banyak membantuku”pangkas Rafael sambil menatap Jessica lembut
Perasaan hangat menyelimuti hati Jessica mendengar Rafael memujinya.
“Padahal kan aku tidak melakukan apapun”gumam Jessica dalam hati
“Benarkah? Syukurlah kalo begitu. Kalian tahu, aku sampai memarahi kakekmu karena mengijijnkan Jessica bekerja juga di perusahaan. Aku takut jika pekerjaan itu memberatkanmu”ucap Elizabeth pada Jessica
Mereka berlima pun berbincang santai penuh keakraban. Di tengah acara makan siang itu, tiba-tiba Ramon dan Anna menyusul di tengah-tengah mereka.
“Kalian dari mana saja?”tanya Elizabeth pada kedua cucunya
“Aku menemani kakak membeli dasi. Dia bilang mulai besok akan mulai bekerja di kantor”jawab Anna
__ADS_1
Rafael menatap sang kakak dengan tatapan tak biasa.
“Benarkah? Kak Ramon besok sudah mulai bekerja di kantor?”tanya Jessica memastikan
“Aku sudah bicara dengan kakek. Benar begitu kan kek?”tanya Ramon pada Arthur.
Arthur dengan ekspresi dinginnya hanya menganggukkan kepalanya.
“Wah, ini berita baik. Jadi mulai besok aku tidak akan kesepian”celetuk Jessica keceplosan
Ramon dan Ara langsung menoleh ke arah Jessica.
“Kau kan tidak sendiri? Ada aku!”sahut Rafael cepat sambil menatap Jessica dengan tajam dan tangannya menggenggam erat tangan Jessica
“I-iya. Maksudku semakin banyak orang yang bekerja di kantor. Bukankah itu menyenangkan?”tanya Jessica
“Jessica tutup mulutmu! Lihatlah semua orang salah paham dengan ucapanmu”gerutu Jessica dalam hati merutuki ucapannya sendiri
Akhirnya acara makan siang dilanjutkan. Setelah kenyang, Rafael segera mengajak Jessica pamit.
“Kami pergi dulu. Masih banyak pekerjaan di kantor”ucap Rafael.
Rafael dan Jessica berpamitan dengan semua anggota keluaarga Miller. Dan saat Rafael berjabatan tangan dengan Ramon, kakaknya, wajah Rafael tampak mengeras menahan marah.
****
Sepanjang perjalanan ke kantor, Rafael terus mendiamkan Jessica. Membuat Jessica salah tingkah. Jessica terus berusaha mencairkan suasana. Jessica bercerita banyak hal sepanjang perjalanan. Namun Rafael hanya menjawab sekenanya. Karena kesal, Jessica akhirnya memberanikan diri meminta penjelasan pada Rafael, tunangannya.
“Katakan, sekarang apa salahku? Kenapa kau seperti ini sejak kita keluar dari restoran tadi?”tanya Jessica penasaran.
“Tidak ada”jawab Rafael
“Bohong! Kau pikir aku tak tahu kalo sekarang kau sedang marah. Cepat katakan! Apa salahku?”pinta Jessica
Rafael yang sejak tadi diam, akhirnya tersulut juga mendengar Jessica meminta penjelasannya.
“Ckittttt”
Rafael langsung menepikan mobilnya di tempat yang lumayan sepi dan mengerem mobilnya dengan mendadak, membuat Jessica terhuyung ke depan.
“Bisa nyetir ga sih?”umpat Jessica kesal karena kepalanya hampir saja menyentuh dashboard mobil di depannya. Untung saja Rafael menahan keningnya hingga tak menabrak dashboard.
“Cupppp”
Jessica membelalakkan matanya begitu Rafael mengecup bibirnya singkat. Mata keduanya saling bertatapan. Jessica bahkan memundurkan tubuhnya setelah mendapatkan kecupan di bibirnya.
“Apa yang kau lakukan?”
“Aku menutup mulutmu dengan bibirku. Teruslah bicara!”pinta Rafael
Jessica tampak salah tingkah setelah mendapatkan kecupan singkat di bibirnya karena terus mengoceh pada Rafael. Membuat lelaki itu mendapatkan ide mengunci bibir Jessica agar tidak terus berbicara. Ide yang memang jitu membuat gadis cantik itu terdiam.
“Pergilah!”
“Cuupppp”
Jessica membeku dengan kelakuan Rafael yang mengecupnya dua kali dalam waktu yang berdekatan. Kecupan yang perlahan menjadi sebuah ciuman bibir yang hangat dan lembut. Tubuh keduanya pun mendadak panas menyadari ciuman bibir keduanya yang semakin menggairahkan. Buru-buru Jessica mendorong tubuh Rafael menjauh.
__ADS_1
Sambil mengatur nafasnya yang naik turun tak karuan. Apalagi detak jantungnya yang berdetak sangat kencang, Jessica mengalihkan tatapan matanya ke luar jendela mobil. Rafael tampak menarik sudut bibirnya karena sudah berhasil membungkam Jessica.