Fall For You

Fall For You
Mencari Tunangan yang Hilang


__ADS_3

Jessica dan Rafael kini berada di dalam mobil mereka menuju kantor. Jalanan yang lumayan padat membuat Rafael mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Jessica memilih mengalihkan tatapan matanya keluar mobil. Hatinya masih kesal akan kejadian pagi tadi.


Sesampainya di kantor, Jessica langsung duduk di meja kerjanya tanpa menyapa Stela dan Philip. Kedua sekretaris pribadi Rafael itu menatap Jessica keheranan, karena setau mereka Jessica adalah gadis yang ramah dan selalu tersenyum. Tetapi pagi ini, wajahnya terlihat sangat suram tanpa seulas senyum yang terukir di wajah cantiknya.


Rafael dibantu Philip dan Stela memeriksa beberapa berkas bersama. Jessica tampak melirik sekilas pada lelaki tampan yang terlihat begitu serius saat bekerja.


“Kenapa dia selalu kelihatan tampan? Bahkan saat ini dia bisa kelihatan sangat tampan?”gumam Jessica mengagumi ketampanan tunangannya.


Saat Rafael tiba-tiba menatap Jessica, gadis cantik itu langsung salah tingkah ketahuan menatap lelaki tampan itu dalam diam. Rafael menarik sudut bibirnya melihat Jessica yang salah tingkah.


“Buatkan kami kopi”pinta Rafael pada Jessica


Jessica tak menyahut tetapi langsung keluar dari dalam kantor menuju pantry. Di perjalanan, dia bertemu dengan Ramon yang memang akan mulai bekerja hari ini.


“Jessica”sapa Ramon


“Kak Ramon, apa kabar kak?”sapa Jessica ramah


“Aku baik-baik saja”sahut Ramon sambil tersenyum


“Kakak mulai bekerja hari ini ya?”tanya Jessica


“Iya”sahut Ramon


Jessica dan Ramon akhirnya berbincang di salah satu sudut kantor. Mereka berbincang selama beberapa saat. Sampai melupakan permintaan Rafael untuk membuatkannya kopi.


Rafael menatap jam tangan mahalnya dengan kening yang berkerut karena Jessica yang tidak segera kembali dari pantry. Rafael bahkan menjadi tidak fokus mendengarkan penjelasan Philip. Sesekali Rafael menatap pintu kantornya menanti kedatangan Jessica, namun gadis cantik itu tak juga terlihat.


“Kemana gadis ceroboh itu? Kenapa dia lama sekali?”gumam Rafael dalam hati


“Kita hentikan dulu diskusinya”perintah Rafael


“Baik tuan”sahut Philip


“Oya..kau sudah memeriksa yang aku minta kemarin?”tanya Rafael setelah melihat Stela meninggalkan ruang kantornya kembali ke mejanya.


“Sudah tuan. Tapi saya butuh waktu lagi untuk memastikannya. Begitu informasinya sudah lengkap akan saya laporkan pada tuan”jawab Philip


“Baiklah aku percaya padamu. Aku keluar dulu sebentar”ucap Rafael sambil merapikan jas yang dikenakannya.


Rafael berjalan keluar dari kantornya menuju pantry. Tak dihiraukan semua pegawai yang menyapa dan memberi hormat pada dirinya. Saat ini di kepala Rafael hanya ada Jessica. Rafael begitu penasaran dengan keberadaan tunangannya itu.


Sesampainya di pantry, dilihatnya seorang pegawai yang membuat kopi. Pegawai itu kaget melihat bosnya yang berdiri di depannya. Rafael semakin kebingungan karena tidak menemukan Jessica.

__ADS_1


“Tuan, ada yang bisa saya bantu?”tanya pegawai wanita itu melihat Rafael yang seperti mencari sesuatu


Rafael berjalan menjauh dan mengacuhkan pegawainya. Pikirannya semakin kalut karena tak menemukan Jessica. Rafael yang bertemu dengan Philip segera memerintahkan sekretarisnya itu untuk mencarikan Jessica.


“Cari tunanganku sekarang juga!”perintah Rafael dengan wajah kebingungan


“Baik tuan!”


Rafael terus berjalan ke arah ruangan CCTV kantor untuk mencari keberadaan Jessica. Semua pegawai keamanan yang berada di ruang kontrol terlihat kaget melihat bos barunya berada di ruangan itu dengan wajah yang sangat serius.


Rafael meneliti semua layar tangkapan CCTV di seluruh gedung perusahaan Miller. Satu per satu layar dilihatnya. Dan saat melihat wajah cantik tunangannya sedang berbincang dengan kakaknya di rooftop gedung, Rafael langsung mengepalkan tangannya.


“Disitu kau rupanya”gumam Rafael dengan wajah yang mengeras


Tanpa pikir panjang Rafael langsung menyusul wanitanya yang saat ini sedang bercengkerama dengan akrab bersama kakak tertuanya.


Dengan langkah lebar dan hati yang bergemuruh kuat, Rafael berjalan menuju lift yang akan mengantarkannya ke rooftop gedung perusahaan. Di sana Jessica dan Ramon tampak asyik berbincang satu sama lain. Jessica tidak sadar jika kini tunangannya sedang menuju dirinya dengan hati yang terbakar api cemburu.


Begitu pintu lift terbuka, mata Rafael segera menyapu sekelilingnya. Rafael segera berjalan menuju deretan kursi yang memang disediakan di rooftop untuk menikmati pemandangan. Dilihatnya Jessica bersama kakak tertuanya, Ramon.


Rafael langsung menghampiri keduanya.


“Raf”sapa Ramon begitu melihat adiknya


“Apa kabar Raf?”sapa Ramon


“Kakak sudah datang?"tanya Rafael dingin


"Iyaa..aku baru saja sampai"jawab Ramon


"Kenapa tidak ke kantor? Kenapa malah di sini bersama tunanganku?”tanya Rafael dengan tatapan tajam dan ekspresi wajah yang sangat dingin.


Ramon tersenyum mendengar rentetan pertanyaan Rafael.


“Sebenarnya aku ingin menyapamu dulu. Tapi aku bertemu Jessica jadi kami ngobrol dulu di sini. Kau tak keberatan kan?”tanya Ramon


“Aku keberatan”jawab Rafael dengan ketus


“Raf..jangan bicara seperti itu. Kak Ramon itu kakakmu”keluh Jessica mendengar jawaban Rafael yang terdengar tidak sopan pada kakaknya sendiri.


Rafael tampak tak perduli jika perkataannya sudah menyinggung orang lain. Rafael bahkan langsung menggenggam tangan Jessica.


“Kami pergi dulu. Kakak bisa segera menempati kantor kakak. Selamat bekerja kak”ucap Rafael sambil mengajak Jessica pergi dari rooftop.

__ADS_1


Rafael menarik Jessica menjauh dari Ramon. Ramon hanya bisa menatap keduanya dengan tatapan penuh arti.


Jessica yang ditarik tangannya terus berusaha melepaskan diri dari lelaki tampan yang terus menyeretnya menuju lift.


“Lepaskan aku!”pinta Jessica sambil berusaha melepaskan diri dari genggaman tangan Rafael.


Kali ini Rafael melepaskan tangan Jessica. Jessica mengurut tangannya yang digenggam erat oleh Rafael.


“Kenapa kau begitu pada kak Ramon? Bagaimana pun juga kak Ramon itu kakakmu. Seharusnya kau bisa lebih sopan pada kakakmu sendiri”cerocos Jessica meluapkan kemarahannya.


Rafael hanya diam sambil mengepalkan tangannya dan mengeratkan giginya menahan amarahnya. Jessica yang kesal karena Rafael mengacuhkannya, berusaha membalik tubuh Rafael supaya lelaki itu menghadap dirinya.


“Aku bicara denganmu, kamu dengerin ga sih?”keluh Jessica kesal


Rafael menatap tajam ke arah Jessica dengan amarah yang siap meledak setiap saat.


“Ke-kenapa dia keliatan marah seperti itu?”gumam Jessica dalam hati melihat kilatan amarah di mata Rafael.


Jessica yang takut dengan kemarahan Rafael akhirnya memilih diam. Begitu pintu lift terbuka, Rafael menarik tangan Jessica dan mengajaknya ke pantry.


“Buatkan aku kopi!”perintah Rafael dengan tegas


Jessica yang kesal, menurut saja diperintah tunangannya itu yang jelas sedang marah besar pada dirinya.


“Kenapa mesti marah-marah? Minta baik-baik kan bisa?”ucap Jessica lirih


Jessica tidak menyadari suara lirihnya masih terdengar oleh Rafael yang menunggui dirinya membuatkan kopi. Mendengar Jessica mengeluh, malah membuat kemarahan di hati Rafael perlahan mereda. Rafael bahkan menarik satu sudut bibirnya mendengar keluhan Jessica.


“Bawa ke kantor! Ingat, jangan lama-lama!”perintah Rafael


Rafael kemudian keluar dari pantry, karena masih banyak pekerjaan yang harus dikerjakannya. Pekerjaan yang terpaksa ditunda akibat mencari tunangannya yang hilang tadi.


Jessica tampak mengayunkan kepalan tangannya seolah hendak memukul Rafael yang sudah berjalan menjauh dari pantry namun masih dapat dilihatnya.


“Hisshh..cowok nyebelinnn!”gerutu Jessica


Jessica kembali membuatkan kopi hangat untuk tunangannya itu. Meskipun hatinya sangat kesal namun dia tetap membuatkannya. Jessica segera membawanya ke kantor. Dilihatnya Rafael yang sudah duduk di kursi kebesarannya.


Jessica berjalan ke arah meja Rafael dan menghidangkan kopi hangat buatannya.


“Terimakasih”ucap Rafael tulus


Jessica hanya menganggukkan kepalanya dan berjalan keluar dari kantor mengembalikan nampan yang dibawanya. Rafael segera menyeruput kopi hangat buatan Jessica. Rafael tampak tersenyum setelah merasakan kopi hangat yang tak hanya menghangatkan pencernaannya namun juga menghangatkan hatinya yang sempat diliputi kemarahan akibat kelakuan tunangannya itu.

__ADS_1


Rafael kembali bekerja ditemani oleh Philip. Mereka kembali membahas masalah pekerjaan yang sempat tertunda tadi.


__ADS_2