
Di tempat lain,
Jessica yang menyadari kecerobohannya, tampak memukul-mukul kepalanya sendiri. Merutuki kelakuannya yang selalu saja ceroboh.
“Kenapa aku bisa seceroboh itu? Kenapa aku tidak mengetuk pintu dulu”gerutu Jessica
“Jadi kau baru sadar kalo selama ini kau sudah begitu ceroboh? Pantas kan aku menyebutmu clumsy girl?”goda Rafael
Jessica menghentikan langkahnya dan hanya diam namun langsung menatap tajam ke arah Rafael. Bahkan saking kesalnya, kedua bola mata Jessica seperti akan keluar saja.
“Kenapa menatapku seperti itu?”tanya Rafael
“Kau tak terima?”tanya Rafael lagi
Jessica hanya diam dan memilih berjalan menjauh dari Rafael. Rafael yang puas hanya dengan menggoda Jessica langsung berlari mengejar gadis cerobohnya itu.
“Hei..jangan marah! Aku hanya bercanda”ucap Rafael
“Tapi becandaanmu itu tidak lucu sama sekali”jawab Jessica dengan ketus
“Iya-iya..aku minta maaf”sahut Rafael.
“Aku maafkan”jawab Jessica dengan nada kesal.
“Lalu bagaimana sekarang? Kita akan ke rumah sakit sendiri? Bagaimana dengan kak Amanda?”tanya Jessica
“Sebaiknya kita tidak mengganggu Amanda dan Victor. Biarkan mereka menikmati kebersamaan mereka. Kita saja yang ke rumah sakit menjenguk Ramon”ucap Rafael
Jessica menganggukkan kepalanya tanda setuju. Sebenarnya maksud kedatangan Jessica dan Rafael ke kantor Amanda adalah untuk mengajak Amanda menjenguk Ramon. Karena dokter yang merawat Ramon mengatakan Ramon sudah mulai menunjukkan pergerakan lagi. Dan kali ini lebih intens. Makanya dokter optimis jika sering dikunjungi keluarganya dan teman-temannya akan membuat Ramon lebih cepat sembuh.
Di dalam mobil, Jessica dan Rafael sama-sama tenggelam dalam pikiran masing-masing. Sesekali Jessica melirik lelaki tampan yang sedang fokus menyetir itu.
Jessica merasa jantungnya akhir-akhir ini sedang tidak baik-baik saja. Terlebih setiap bersama Rafael. Entah kenapa perasaannya sering tidak karuan. Bahkan saat ini, hanya dengan melihat tangan kekar berotot milik supermodel itu yang sedang memegang setir mobil, berhasil membuat jantung Jessica kembang kempis tak karuan.
“Apa jantungku mulai tidak normal? Kenapa akhir-akhir ini aku merasa gampang sekali berdebar-debar? Mungkinkah karena…”gumam Jessica dalam hati sambil melirik ke arah Rafael.
“Karena dia? Mana mungkin?Tidak-tidak…itu mustahil”gumam Jessica sambil menggelengkan kepalanya dengan cepat.
Kelakuan aneh Jessica itu tanpa disadari sudah tertangkap oleh Rafael.
“Kau kenapa?”tanya Rafael sambil melirik Jessica sepintas
“Hah..aku? Memangnya aku kenapa?”tanya Jessica balik
“Tadi kau memegang dadamu lalu menggeleng-geleng seperti itu”jawab Rafael
“Aku tidak apa-apa”kelit Jessica bohong
“Menyetirlah saja dengan baik!” pinta Jessica
Jessica menoleh ke arah jendela mobil di sebelahnya sambil menghela nafasnya dengan kasar.
__ADS_1
“Huft…Hampir saja ketahuan”gumam Jessica.
Sepanjang perjalanan, baik Jessica maupun Rafael memilih diam. Jessica juga terlihat menatap pemandangan di samping jendela mobil. Karena tak kuat jika terus-terusan menatap tangan kekar berotot milik Rafael yang tak sengaja terlihat karena lelaki itu saat ini sedang mengenakan kemeja lengan panjang berwarna hijau army yang dilipat lengannya sampai ke siku. Sehingga mau tidak mau, Jessica bisa melihat betapa kekar dan berototnya tangan Rafael. Belum lagi kemeja yang dikenakan dibiarkan beberapa kancing terbuka. Hingga otot perut dan dada bidang Rafael yang terukir sempurna bak pahatan patung itu dapat terlihat.
Meskipun selalu bertengkar, namun Jessica tak memungkiri jika tubuh Rafael sungguhlah menggoda. Idaman para kaum hawa. Tak terkecuali Jessica.
“Tenang Jess..tenanglah!”gumam Jessica dalam hati sambil menepuk pelan dadanya berusaha menenangkan diri.
Jessica yang sedang menenangkan diri, begitu menoleh ke arah Rafael, dibuat semakin salah tingkah ketika lelaki tampan yang selalu dingin dan datar itu dengan santainya menyibak rambutnya ala bintang iklan shampoo. Jantung Jessica semakin tak karuan saja.
“Kapan nyampenya sih? Lama banget”keluh Jessica
Jessica mengeluh karena memang tak kuat berlama-lama satu kendaraan dengan lelaki tampan di sampingnya itu.
“Perjalanan kesana memang jauh”ucap Rafael
“Berapa lama?”tanya Jessica
“Ehm..dua puluh menitan”jawab Rafael santai
“Lama banget”ucap Jessica sambil mengerucutkan bibirnya
“Apa jantungku akan aman jika berlama-lama di sini?”tanya Jessica dalam hati
“Sebenarnya kamu kenapa? Aku perhatikan dari tadi kamu kelihatan ga tenang”tanya Rafael
“Aku tidak…”
“Drt..drt..”
“Halo”
“Baby”panggil seorang wanita pada Rafael dengan suara manja
Rafael melirik sepintas ke arah Jessica yang terlihat menatap jendela mobil di sampingnya.
“Baby? Mesra sekali! Berapa banyak wanitanya? Aku sempat lupa kalo dia punya banyak wanita”gerutu Jessica sambil menatap pemandangan di luar jendela mobil.
“Ada apa? Cepat katakan! Aku sedang sibuk”jawab Rafael sambil melirik ke arah gadis cantik di sampingnya.
“Aku akan pulang hari ini. Kau bisa kan menjemputku jika aku sudah sampai?”tanya wanita manja itu pada Rafael.
“Aku sibuk”jawab Rafael tegas
“Baby, apa kau tak merindukanku? Padahal aku sangat merindukanmu”keluh wanita itu dengan suara manja
“Aku akan minta Leon menjemputmu, bagaimana?”tawar Rafael
“Leon? Ehm..boleh-boleh”jawab wanita itu dengan nada riang
“Kalo begitu kita ketemu saat makan malam ya? Bye baby”ucap wanita itu
__ADS_1
Rafael tak menjawab sapaan wanita tadi dan langsung menutup sambungan teleponnya.
“Siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa begitu mendengar nama Leon dia berubah segembira itu?”gumam Jessica dalam hati
Selama pembicaraan Rafael dengan seorang wanita di telepon, Jessica memilih diam dan hanya mendengarkan saja percakapan mereka. Sambil matanya menatap pemandangan di luar jendela mobil. Sementara Rafael selama pembicaraan di telepon itu terlihat beberapa kali melirik ke arah gadis cantik di sampingnya.
“Sepertinya kau sibuk sekali hari ini, bagaimana kalo kita tunda dulu saja ke rumah sakitnya”pinta Jessica
“Kita sudah setengah jalan. Kita lanjutkan saja ke rumah sakit”ucap Rafael
“Tapi kasihan pada wanitamu. Bukankah dia sudah merindukanmu?”sindir Jessica
“Aku pikir dia tak mendengar percakapan tadi”gumam Rafael dalam hati
“Wanitaku? Maksudmu gadis nakal yang baru menelponku tadi?”tanya Rafael memastikan
“Dia bahkan menyebutnya gadis nakal”gerutu Jessica dalam hati
“Iya”jawab Jessica
Raut wajah Jessica terlihat tidak senang terlebih setelah mendengar percakapan antara Rafael dan seorang wanita di telepon. Ada yang benar-benar mengganjal di hatinya mendengar keakraban Rafael dan wanita tadi.
“Biar Leon saja yang menjemputnya. Dia akan lebih senang jika bertemu dengan Leon”jawab Rafael dengan santai
“Apa kalian sering berbagi wanita yang sama?”sindir Jessica
“Maksudmu?”tanya Rafael sambil mengerutkan dahinya mendengar pertanyaan Jessica barusan.
“Antara kau dan Leon apa juga sering berbagi wanita yang sama?”tanya Jessica penasaran
“Hahahahahha..”
Rafael tertawa terbahak-bahak mendengar pertanyaan Jessica. Sementara Jessica mengernyitkan dahinya melihat lelaki tampan di sampingnya justru tertawa terbahak-bahak.
“Kenapa kau justru tertawa? Apa menurutmu itu hal yang lucu? Apa menurutmu wanita adalah barang yang bisa dibagi dan ditukar? Jika kau sudah bosan lalu kau bisa berikan pada orang lain”tanya Jessica dengan sengit
Dia marah melihat respon Rafael yang justru tertawa. Rafael langsung menepikan mobilnya. Dia ingin menatap gadis cantik di sampingnya yang sedang marah pada dirinya.
“Kenapa kita berhenti di sini?”tanya Jessica bingung sambil menoleh ke kanan dan kiri
Dengan wajah penuh kebingungan, Jessica menatap ngeri ke arah lelaki tampan yang entah kenapa matanya justru memancarkan aura tak biasa. Lebih tepatnya aura nakal yang menggoda. Rafael menarik salah satu sudut bibirnya dan semakin mendekatkan tubuhnya ke arah Jessica.
“Kenapa matanya seperti itu? Apa sebenarnya yang ingin dia lakukan?”tanya Jessica dalam hati
“A-apa maumu?”tanya Jessica dengan takut-takut
“Kenapa kau selalu menggemaskan?”gumam Rafael dalam hati
Rafael hanya diam namun tubuhnya terus mendekati Jessica. Jessica terus memundurkan tubuhnya melihat Rafael yang terus mendekatinya. Setelah sangat dekat, Rafael mencubit gemas kedua pipi Jessica.
“Iiihhhh..lepasin!”ronta Jessica
__ADS_1
Rafael merasa sangat gemas melihat Jessica yang marah-marah tak jelas pada dirinya. Ekspresi kemarahan Jessica justru dilihat Rafael sebagai hal yang sangat menggemaskan dari gadis cantik itu.
Setelah puas mencubit kedua pipi Jessica, Rafael segera duduk dan kembali mengendarai mobil menuju ke rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Jessica memilih diam daripada mendapat perlakuan “aneh”dari lelaki tampan yang menyebalkan itu.