
Jessica tampak gugup kala berhadapan dengan Elizabeth. Tubuhnya bahkan gemetaran harus berhadapan langsung dengan nenek Rafael. Jessica juga terus menarik kemeja Rafael untuk menutupi bagian bawah tubuhnya. Rafael yang melihat itu, segera mengambil selimut yang ada di sofa dan melemparkannya ke arah Jessica.
Jessica yang menerima selimut pemberian Rafael langsung menutupkan selimut itu ke bagian bawah tubuhnya.
Elizabeth yang melihat perhatian kecil dari Rafael ke Jessica tampak mengulas senyum di bibirnya.
“Apa hubunganmu dengan cucuku?”tanya Elizabeth
“Apa?”seru Jessica kaget
“Ah..itu..kami..”Jessica terbata-bata mendengar pertanyaan mendadak dari Elizabeth.
Jessica bingung harus menjawab apa, karena kenyataannya mereka tidak berteman. Lebih tepatnya mereka adalah rival yang sering bertengkar.
“Aku harus jawab apa? Kalo aku bilang kami hanya teman, neneknya pasti curiga setelah melihat penampilanku seperti ini”gumam Jessica dalam hati
“DIA PACARKU!”jawab Rafael dengan cepat.
Jessica spontan menoleh pada Rafael sambil melotot. Hampir saja matanya keluar saking kagetnya. Elizabeth juga menoleh pada sang cucu yang sedang bertatap-tatapan dengan Jessica.
“What? Kenapa dia mesti berbohong seperti itu”gerutu Jessica dalam hati
Rafael menatap Jessica yang sedang melotot pada dirinya.
“Nyonya besar sudah dengar kan? Jadi sebaiknya nyonya pulang sekarang!”pinta Rafael.
Elizabeth menghela nafasnya perlahan. Sambil mengulas senyum di bibirnya, Elizabeth pun menggenggam tangan Jessica.
“Kapan-kapan kita ngobrol lagi, okey?”pinta Elizabeth
“I-iya nyonya”jawab Jessica dengan terbata-bata karena kaget digenggam tangannya oleh Elizabeth
“Karena kau pacar cucuku, panggil saja aku nenek Eliz”pinta Elizabeth
Jessica menganggukkan kepalanya perlahan.
“Ba-baik nenek Eliz”sahut Jessica
__ADS_1
Elizabeth segera mengambil tas miliknya dan berpamitan dengan kedua “pasangan” itu.
“Baiklah! Aku tak akan mengganggu waktu kalian. Nenek pulang dulu”pamit Elizabeth
Rafael dan Jessica mengantar Elizabeth sampai ke depan pintu.
“Nenek pulang dulu”pamit Elizabeth
“Hati-hati dijalan nek”pinta Jessica ramah
Rafael dengan ekspresi dinginnya hanya menganggukkan kepalanya.
Elizabeth pun pulang ke kediamannya. Begitu pintu ditutup, Elizabeth pun melangkahkan kaki meninggalkan apartemen sang cucu. Elizabeth sempat menoleh sepintas ke belakang sambil tersenyum. Sedetik kemudian ia pun berjalan menuju ke lift dan segera berpesan pada asistennya.
“Apa nyonya bertemu dengan gadis itu?”tanya Lisa, asisten pribadi Elizabeth
“Aku sudah bertemu dengannya. Sepertinya dia gadis yang baik. Cepat carikan aku informasi tentang gadis itu!"perintah Elizabeth
“Baik nyonya”Lisa menganggukkan kepalanya menyanggupi permintaan majikannya.
Keduanya pun langsung masuk ke dalam lift bersama-sama.
Begitu Elizabeth pulang, Jessica langsung membalik tubuhnya menghadap ke arah Rafael. Jessica menatap Rafael dengan penuh kemarahan. Saking emosinya, Jessica bahkan memukul lengan kekar Rafael. Melampiaskan kemarahan yang menggelora dalam hatinya.
“Awww”
Rafael mengaduh kesakitan.
“Kenapa kau berbohong seperti itu? Apa yang dipikirkan nenekmu tentang aku?”keluh Jessica dengan penuh emosi
“Hanya itu yang terlintas dalam pikiranku”jawab Rafael dengan entengnya
“Bisa-bisanya kau mengatakan aku pacarmu. Kita saja baru sebulan kenal. Dan sekarang kau mengatakan pada nenekmu kalo aku ini pacarmu?”keluh Jessica menumpahkan segala kekesalannya
“Lalu aku harus bilang kau kenalanku? Sementara lihat dirimu sekarang! Kau sedang memakai kemejaku dan berada di apartemenku malam-malam. Apa kau pikir nenekku akan percaya?”sahut Rafael
“Begini lebih baik. Jadi nenek tidak akan menggangguku terus”lanjut Rafael.
__ADS_1
“Lalu bagaimana dengan aku? Kenapa kau mesti melibatkan aku dalam masalahmu? Kau memang..”
Jessica tampak menahan emosinya untuk tidak mengumpat pada Rafael. Jessica bahkan mengepalkan tangannya dengan kuat seiring emosinya yang mulai menggunung. Rafael yang mendengar Jessica tidak melanjutkan lagi ucapannya tampak penasaran.
“Aku apa? Kenapa tak kau lanjutkan ucapanmu?”seru Rafael penasaran
“Kau memang laki-laki paling menyebalkan dan paling egois yang pernah aku temui”seru Jessica penuh emosi sambil menunjuk ke arah wajah Rafael.
Keduanya sama-sama sedang emosi. Nafas keduanya naik turun seiring kemarahan yang menggelora di dalam hati masing-masing.
Karena jengkel, Jessica duduk di sofa sambil menyilangkan tangannya di depan dada.
Rafael juga duduk di sofa sambil merentangkan tangannya di sofa. Rafael sesekali menoleh pada Jessica yang terlihat sangat marah.
Tak ingin berlama-lama di apartemen Rafael, Jessica pun memilih untuk pulang. Jessica pergi tanpa sepatah kata, dan berjalan ke arah pintu.
“Kau mau pergi kemana?”tanya Rafael begitu menyadari Jessica pergi ke arah pintu keluar.
“Aku mau pulang”jawab Jessica dengan emosi.
“Lalu kau mau pulang dengan kondisi seperti itu? Kau yakin?”goda Rafael
Jessica yang baru sadar penampilannya yang masih hanya mengenakan kemeja, tampak merutuki kebodohannya sendiri.
“Sial! Aku lupa kalo aku hanya mengenakan kemeja dia”gerutu Jessica dalam hati
Jessica menoleh ke arah Rafael yang terlihat tersenyum melihat dirinya. Senyum mengejek dari Rafael semakin membuat Jessica emosi.
“Aku akan tetap pulang meskipun harus seperti ini”jawab Jessica emosi.
"Bisa gawat kalo dia nekat pulang seperti itu" gumam Rafael dalam hati
Rafael yang tidak tega melihat penampilan Jessica yang hanya berbalut kemeja dan memaksa pulang, langsung berlari menghampiri Jessica yang sudah akan membuka pintu. Rafael menahan tangan Jessica. Membuat gadis cantik itu menoleh melihat tangan Rafael yang menahan dirinya.
“Tunggulah sebentar lagi! Leon akan datang membawakanmu pakaian”pinta Rafael
Jessica menatap tajam ke arah Rafael yang tadi sempat mengejeknya.
__ADS_1
“Amanda pasti akan membunuhku jika tahu kau pulang dengan kondisi seperti ini”ucap Rafael