
Belum selesai Rafael menjawab pertanyaan Jessica, tiba-tiba pintu kamar keduaanya diketuk dari luar.
“Tok..tok..tok”
Kedua pasangan suami istri itu menoleh hampir bersamaan ke arah pintu. Jessica akan beranjak dari duduknya hendak membuka pintu, tetapi dengan sigap Rafael langsung menahan tubuh istrinya.
“Kau di sini saja. Biar aku yang membukakan pintunya”ucap Rafael
Jessica menganggukkan kepalanya. Rafael berjalan dengan santai ke arah pintu. Begitu pintu dibuka, nampak wajah Anna yang berdiri di depan pintu.
“Ada apa?”tanya Rafael
“Ini aku bawakan yang kakak minta tadi”ucap Anna sambil memperlihatkan alat test pack yang tadi diminta Rafael pada pelayannya.
“Terimakasih”sahut Rafael dengan ekspresi dingin dan datarnya.
Anna hampir saja masuk ke kamar, tetapi Rafael sudah meletakkan tangannya di depan wajah Anna.
“Kau mau kemana?”tanya Rafael
“Aku mau masuk. Aku mau lihat keadaan kak Jessica”ucap Anna dengan polosnya.
“Istriku butuh istirahat. Nanti saja”perintah Rafael dengan tatapan dinginnya.
“Ishh..aku cuma mau lihat kak Jessica sebentar aja. Masak ga boleh?”gerutu Anna
Jessica yang sejak tadi mendengar percakapan kedua bersaudara itu, tampak melongokkan kepalanya hingga dapat melihat wajah Anna dari balik pintu. Jessica melambaikan tangannya meminta Anna masuk.
“Anna? Masuklah!”panggil Jessica
“Tuh lihat! Kak Jessica memanggilku. Minggir sana!”pinta Anna
Anna dengan sekuat tenaga memindahkan tangan Rafael yang menghalangi jalannya. Dan dengan gerakan cepat, Anna menyusup masuk ke dalam kamar.
Rafael memutar bola matanya, merasa kesal dengan kelakuan adik kesayangannya itu.
Anna masuk dan sedikit berlari ke arah Jessica. Anna langsung duduk di sofa berhadapan dengan Jessica. Anna pun menggenggam tangan sang kakak ipar.
“Kakak sudah baikan?”tanya Anna kuatir
Jessica menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.
“Maaf sudah membuat kalian semua khawatir. Aku sudah baik-baik saja”sahut Jessica.
Anna langsung menoleh pada sang kakak dan memasang wajah sangarnya.
“Ini semua gara-gara kakak. Awas saja kalo kakak buat kak Jessica sakit lagi! Aku takkan memaafkan kakak”ancam Anna dengan tatapan tajam pada sang kakak
__ADS_1
Rafael dibuat serba salah dengan tatapan dua wanita cantik yang saat ini sedang menatapnya.
“Aku sudah meminta maaf pada Jessica. Sebaiknya kau pergi sekarang! Biar Jessica bisa istirahat”pinta Rafael
Rafael langsung memegang lengan Anna dan menarik tubuh mungil sang adik.
“Tapi aku belum selesai”ucap Anna tak terima ditarik sang kakak
“Raf, biarkan Anna di sini”pinta Jessica
“Sayang, kau harus banyak istirahat. Jika dia masih di sini kau tidak akan bisa istirahat. Aku hanya menuruti permintaan dokter”sahut Rafael
“Baiklah aku pergi. Lepaskan dulu tanganku!”ronta Anna
Rafael pun melepaskan pegangan tangannya di lengan Anna. Anna menoleh pada Jessica.
“Kakak istirahat saja. Jangan lupa setelah tahu hasil test packnya, aku dikasih tau ya?”goda Anna
“Berisik”ucap Rafael dengan dinginnya
Anna pun melangkah pergi meninggalkan pasangan suami istri itu. Rafael buru-buru menutup pintu. Kemudian berjalan ke arah Jessica yang menatapnya dengan tatapan penuh tanda tanya.
“Apa maksud Anna tadi? Test pack?”tanya Jessica
Rafael hanya diam dan malah menunjukkan alat test pack yang tadi dimintanya.
“Tadi dokter mengatakan ada kemungkinan kau saat ini sedang hamil”
Jessica dengan ekspresi kagetnya tampak membelalakkan matanya mendengar ucapan sang suami.
“Aku hamil?”tanya Jessica sambil menunjuk wajahnya sendiri
“Kenapa? Apa kau tak mau mengandung anakku? Kau lupa kita sudah menikah dan sudah melakukan “nya”? Wajar saja kan jika sekarang kamu hamil”sahut Rafael
Jessica yang bisa melihat ekspresi kemarahan di mata suaminya berusaha mencairkan suasana.
“Bukan begitu. Aku hanya kaget saja. Kita kan baru menikah beberapa bulan. Masak aku udah hamil”kelit Jessica sambil memaksakan tersenyum
Tapi sayang, Rafael keburu marah pada Jessica.
“Jadi kau tak mau mengandung anakku?”tanya Rafael
“Kenapa sekarang justru aku yang merasa dipojokkan?”gerutu Jessica dalam hati
“Tentu saja aku mau. Tapi apa kau tak merasa kita terlalu cepat memiliki anak? Aku masih ingin menikmati kebersamaan kita”kelit Jessica
“Kalo begitu, gugurkan saja bayi itu”perintah Rafael dengan wajah sangarnya
__ADS_1
Rafael merajuk dan berjalan ke ranjang. Rafael membaringkan tubuhnya membelakangi Jessica dengan menahan amarahnya.
“Gawat! Kenapa dia malah semakin marah? Aku harus bagaimana?”gerutu Jessica dalam hati sambil menatap sang suami yang sedang marah pada dirinya.
“Jangan marah Raf..bukan itu maksudku”
Jessica pun berjalan ke arah ranjang dengan langkah yang sangat pelan karena tubuhnya yang memang masih lemah.
“Baiklah..aku minta maaf. Aku..aduhhh”
“Kita lihat apa kau masih marah jika aku pura-pura terjatuh”gumam Jessica dalam hati
Jessica pura-pura terjatuh untuk mengerjai Rafael. Dan benar saja, mendengar Jessica mengaduh, Rafael langsung terbangun dan berlari ke arah Jessica.
“Kamu kenapa? Mana yang sakit?”tanya Rafael dengan kuatir
“Kakiku tiba-tiba lemas”sahut Jessica
Rafael dengan cekatan langsung membopong Jessica dan membaringkan Jessica di ranjang. Jessica bahkan melingkarkan tangannya di leher kekar sang suami sambil terus menatap Rafael yang terlihat sangat khawatir.
Rafael hendak pergi, tetapi Jessica menahan lengannya.
“Kau mau kemana?”tanya Jessica
“Aku akan menelpon dokter, supaya memeriksamu lagi”
“Tidak usah. Aku tidak apa-apa. Jangan pergi! Kau mau kan menemai aku di sini”ucap Jessica sambil menepuk sisi ranjang di sebelahnya
“Baiklah!”sahut Rafael
Jessica tersenyum bahagia, usahanya untuk membuat suaminya tidak lagi marah pada dirinya akhirnya berhasil. Terbukti sekarang, Rafael mau berbaring dengannya di atas ranjang.
Jessica menarik sebelah tangan Rafael dan mengarahkan tangan itu hingga dirinya bisa bersandar di dada bidang sang suami. Jessica juga menarik tangan Rafael yang lain untuk memeluk tubuhnya. Jadilah kini keduanya saling berpelukan di atas ranjang.
Rafael menggenggam erat tangan Jessica dan mengarahkannya di atas dadanya. Rafael juga mencium kening Jessica yang berada tepat di bawah wajahnya. Membuat Jessica memejamkan matanya dan tersenyum bahagia dalam pelukan Rafael.
Keduanya saling terdiam namun tetap saling berpelukan. Jessica membuka matanya dan teringat kejadian di ruang tamu tadi.
“Raf..maafkan aku. Jangan marah lagi ya!”pinta Jessica
“Aku juga minta maaf. Tak seharusnya aku bicara kasar seperti tadi. Tak seharusnya aku egois dan memaksakan kehendakku. Padahal jelas-jelas rahim itu milikmu. Kau yang lebih berhak memutuskan mau mengandung atau tidak”jawab Rafael bijak
Jessica kaget mendengar jawaban suaminya. Jessica bahkan mendongakkan kepalanya untuk menatap wajah tampan lelaki yang dicintainya itu. Jessica mengusap wajah tampan suaminya.
“Aku akan dengan senang hati mengandung anak kita”sahut Jessica
Jawaban Jessica membuat Rafael begitu bahagia dan mengecup bibir lembut istrinya.
__ADS_1
“Terimakasih sayang. I love you”ucap Rafael
“I love you too”sahut Jessica