
Hari beranjak petang, Jessica yang sudah tidur hampir seharian, terbangun saat merasakan perutnya yang lapar.
“Krucukkkk”
Rasa lapar membuat Jessica terpaksa membuka matanya. Jessica yang merasa sudah baikan, memandangi sekitarnya.
“Kenapa aku bisa disini?”tanya Jessica dalam hati.
Dengan perlahan Jessica bangun dari atas ranjang. Jessica hendak mengambil makanan di dapur. Saat melewati kursi sofa yang ada di kamarnya, Jessica sempat kaget melihat penampakan seseorang di sana.
“Oh My God”seru Jessica kaget
Saking kagetnya bahkan tubuh Jessica sempat bergetar. Jessica memegangi dadanya.
“Mengagetkan saja”gerutu Jessica
Jessica yang penasaran dengan sosok yang tertidur di kursi sofa, dengan perlahan mendekati kursi sofa.
“Rafael”
Jessica baru menyadari jika sosok yang sudah tertidur di kursi sofa adalah Rafael.
“Kenapa dia tidur disini? Mana mungkin dia menemaniku sampai tertidur?”gumam Jessica dalam hati
Jessica terus memandangi lelaki tampan yang tertidur di kursi sofa dengan menyilangkan tangannya di dada. Wajah tampan Rafael terlihat begitu damai dan tenang.
Jessica duduk berjongkok dan mengamati Rafael dari dekat. Jessica tersenyum melihat lelaki menyebalkan yang selalu berdebat dengannya ternyata saat tidur begitu tenang dan wajahnya memancarkan kedamaian.
__ADS_1
“Wajahnya begitu tampan”puji Jessica sambil memandangi wajah tampan yang memiliki fitur wajah campuran yang sangat kental.
Jessica mengagumi ketampanan paripurna yang dimiliki lelaki playboy nan menyebalkan itu.
Puas memandangi wajah tampan Rafael, Jessica bermaksud mengambil makanan karena rasa lapar di perutnya yang sudah tak tertahan lagi. Jessica berdiri dari posisinya yang semula berjongkok. Ketika membalik tubuhnya hendak ke dapur, tiba-tiba Jessica merasakan tangannya ditahan dari belakang.
Jessica menoleh perlahan. Dilihatnya Rafael yang sudah terbangun sedang menahan tangannya. Rafael menatap tajam ke arah Jessica.
“Kau sudah bangun?”tanya Jessica basa-basi.
Rafael hanya diam dan bangun dari tidurnya namun tangannya masih melingkar di pergelangan tangan Jessica. Rafael menarik tangan Jessica dengan keras sehingga Jessica tertarik dan terduduk di kursi sofa di samping Rafael.
“Hyaaa..kau mau apa?”gerutu Jessica karena Rafael menarik tangannya dengan kasar hingga dirinya terduduk di kursi sofa.
“Bagaimana demammu?”tanya Rafael
Jessica belum sempat menjawab pertanyaan Rafael, tetapi lelaki itu sudah menempelkan tangannya yang besar di dahi Jessica. Membuat Jessica merasa risih dan menarik tangan itu menjauh dari keningnya.
Melihat Jessica yang sudah bisa marah-marah pada dirinya membuat Rafael merasa lega.
“Syukurlah kau sudah sembuh”ucap Rafael.
Rafael yang merasa lapar, akhirnya pergi ke luar kamar dan meninggalkan Jessica yang baru saja memarahinya.
“Hei..aku sedang bicara denganmu. Sopan dikit bisa ga sih?”gerutu Jessica.
Rafael terus melenggang ke dapur sambil memijit lehernya yang terasa pegal karena tertidur dengan bersandar di sandaran tangan yang ada di kursi sofa.
__ADS_1
“Ck..berisik”gerutu Rafael
“Apa kau tidak merasa lapar sedikitpun? Aku lapar sekali sekarang. Jadi sebaiknya kau diam”pinta Rafael
Jessica mengerucutkan bibirnya. Karena juga merasa lapar, Jessica terus mengikuti Rafael sampai ke dapur sambil terus mengoceh.
“Duduklah saja. Biar aku yang buatkan makanan”pinta Rafael.
Jessica mengerutkan dahinya mendengar Rafael yang berlagak seperti pemilik rumah ketimbang dirinya.
“Hei..tuan rumah disini tuh aku. Kamu itu tamu. Kenapa kau malah menyuruhku diam”keluh Jessica.
Rafael tetap tak menggubris keluhan Jessica dan sibuk mengambil beberapa bahan makanan di kulkas.
Jengkel karena diacuhkan Rafael, Jessica semakin tersulut emosinya.
“Hei..kau dengar aku tidak?”tanya Jessica sambil menarik bahu Rafael dengan kasar hingga tubuh lelaki tampan itu berbalik ke arah Jessica.
“Pyarrrr”
Sebutir telur yang baru dipegang Rafael terjatuh dari tangannya. Telur ayam itu pecah menjadi beberapa bagian, dengan putih telur dan kuning telur yang berhamburan di lantai.
Rafael yang jengkel langsung menatap tajam ke arah Jessica yang sudah menganggunya.
“Lihat! Kau sudah membuat telur tak bersalah itu pecah”sentak Rafael dengan suara tinggi
Membuat Jessica yang merasa bersalah, hanya bisa menatap Rafael dengan tatapan sendu. Bahkan karena suara tinggi Rafael yang memarahinya membuat mata Jessica berkaca-kaca.
__ADS_1
Sadar sudah membuat Jessica sedih, Rafael menurunkan nada suaranya.
“Sudah! Kau duduk saja disana. Kau itu baru sembuh. Jangan banyak bergerak!”perintah Rafael sambil menuntun Jessica duduk di kursi yang ada di depan meja marmer.