
Rafael terus berjalan menuju salah satu sudut ruangan yang menjadi tempat pemotretan. Rafael berpose di depan kamera. Rafael memang foto model profesional sehingga pose-pose yang dilakukannya hasilnya pun luar biasa. Pemotretan dengan konsep black and white itu sangat menonjolkan ketampanan Rafael dan fisiknya yang memang sempurna. Jessica masih juga menikmati sesi pemotretan Rafael.
“Bagaimana bisa aku membandingkan dia dengan kak Arga hanya karena ekspresi wajah mereka yang sama-sama terlihat sangat dingin dan datar?”gerutu Jessica dalam hati
“Kak Arga tak pantas dibandingkan dengan lelaki menyebalkan yang narsis dan playboy seperti dia?”gerutu Jessica dalam hati
Rafael beberapa kali mengarahkan pandangan matanya menatap Jessica yang terlihat sedang melamun. Dan saat tatapan mata keduanya bertemu, secepatnya Jessica menepiskan pandangan matanya.
“Apa yang sedang aku lakukan? Kenapa aku malah bertatapan dengan lelaki menyebalkan itu?”gerutu Jessica merutuki kebodohannya sendiri
Akhirnya Jessica memilih duduk di salah satu sudut ruangan di tempat pemotretan itu sambil membaca-baca majalah fashion yang ada di sana.
Amanda terlihat gelisah sambil beberapa kali menelpon seseorang. Sang fotografer mendekati Amanda.
“Where’s Samantha? We’ve been waiting her for two hour. Our client will be so mad if we can’t finish this”seru sang fotografer marah karena foto model yang ditunggunya tak kunjung datang
__ADS_1
Seorang asisten dari klient bisnis Amanda mendapat telepon dari bosnya. Asisten itu menganggukkan kepalanya beberapa kali mendengar penjelasan bosnya. Setelah paham, sang asisten mendekati Amanda.
“Excuse me Mam, my boss need the result (photograph) right now. If you can give the result within an hour, you have to pay the penalty”ucap sang asisten.
“Kemana Samantha? Dia harus membayar ini semua karena sudah membuatku dalam masalah seperti sekarang”gerutu Amanda dalam hati
“Okey, Sir. We’ll find another model. Don’t worry ‘bout it”jawab Amanda
Ketika sedang dalam kebingungan, sang fotografer melihat ke arah Jessica yang sedang duduk menikmati minumannya. Sang fotografer tampak mengambil foto Jessica dengan candid.
“I think she can do it”ucap sang fotografer
“Okey..i’ll talk to her. Hope she can help us”sahut Amanda
Amanda pun berjalan mendekati Jessica.
__ADS_1
“Jess, salah satu modelku sampai sekarang belum juga datang. Dari tadi aku sudah menghubunginya, tapi nomornya sulit sekali dihubungi. Kau mau kan menggantikan dia?”tanya Amanda
“Hah?! Maksud kakak apa?”tanya Jessica tak mengerti
“Aku mohon kau mau ya menjadi foto model menggantikan modelku yang belum datang? Jika kami tidak bisa segera menyetorkan foto produk ini pada klient kami, maka kami harus membayar penalti. Kau mau kan membantuku?”pinta Amanda
Jessica membelalakkan matanya. Bagaimana mungkin Amanda memintanya menjadi foto model?
“Tapi kak, apa kakak tidak salah orang? Aku bukan seorang foto model. Bagaimana jika hasilnya nanti justru jelek?”tanya Jessica tak percaya diri
“Tenang saja. Kau tinggal ikuti petunjuk Luke. Dia yang akan mengarahkan semuanya. Kau tinggal ikuti saja petunjuknya. Kau mau kan Jess?”pinta Amanda
Sebenarnya Jessica tidak percaya diri untuk menjadi seorang foto model apalagi brand yang dipromosikan adalah brand terkenal. Jessica merasa tidak cukup percaya diri dengan kemampuannya.
“Apa tidak ada orang lain lagi selain aku?”tanya Jessica
__ADS_1
“Kau bisa lihat semua orang sudah berada di posisinya masing-masing. Jika kita mengulur waktu terus, bisa-bisa aku harus membayar penalti. Aku mohon Jess, bantu aku kali ini! Kau mau kan?”pinta Amanda