
Kini kedua pasangan suami istri itu sudah selesai mandi. Jessica yang masih berbalut jubah mandi tampak mengeringkan rambut panjangnya dengan hair dryer. Rafael masuk ke dalam kamar. Kaos putih slimfit yang dikenakannya tak mampu menutupi tubuh kekarnya yang terlihat jelas lekukannya dari balik kaos tersebut.
Rafael masuk dan langsung melingkarkan tangan besarnya di pinggang ramping Jessica. Keduanya menghadap kaca besar yang ada di dalam kamar. Melihat Rafael memeluknya dari belakang, Jessica lantas meletakkan hair dryernya di atas meja rias.
Jessica membalik tubuhnya perlahan dan memeluk tubuh kekar suaminya yang sudah membuatnya mandi malam-malam. Rafael tampak merapikan rambut panjang Jessica dan membalas pelukan hangat itu.
Keduanya berpelukan dengan hangat. Tiba-tiba Jessica teringat pesan Anna sebelum pulang tadi. Jessica mengurai pelukannya dan menatap sang suami.
“Raf..ada yang ingin aku tanyakan”ucap Jessica
Rafael menatap sang istri yang terlihat lebih serius.
“Apa yang ingin kau tanyakan?”
“Berjanjilah kau akan menjawabnya dengan jujur”pinta Jessica
“Aku janji”jawab Rafael dengan tegas
Jawaban itu disambut bahagia oleh Jessica. Karena dia bisa melihat dengan jelas, suaminya yang serius dengan perkataannya.
“Sandi apartemen ini..Apakah memiliki arti khusus sampai kau memakai nomor-nomor itu?”tanya Jessica
Degh..
Rafael terdiam. Nyatanya nomor-nomor itu adalah nomor yang berkaitan dengan wanita dari masa lalunya. Jessica mengerutkan dahinya melihat sang suami yang tidak langsung menjawab pertanyaannya. Rafael menghela nafasnya perlahan sambil mengenggam tangan Jessica.
“Aku akan menjawab dengan jujur dan kau harus mendengarkan penjelasanku. Berjanjilah kau tidak akan marah”pinta Rafael
“Cepat katakan! Jangan membuatku semakin penasaran!”bujuk Jessica
“Nomor itu..”
Deg..deg..
Entah kenapa jantung Jessica berdegup sangat kencang menunggu jawaban dari Rafael. Jessica takut dengan prasangkanya sendiri yang sejak tadi siang memenuhi pikiran dan hatinya.
“..adalah tanggal lahir Celine”jawab Rafael
Degh..
Senyum di bibir Jessica perlahan memudar. Karena memang benar, nomor sandi apartemennya berkaitan erat dengan wanita yang tadi siang fotonya ditemukan Jessica di ruang kerja Rafael.
Melihat perubahan di wajah Jessica, Rafael yang bisa melihat kesedihan di mata indah itu langsung memegang wajah cantik Jessica mencoba menenangkannya.
“Maaf sayang..aku belum sempat menggantinya dengan nomor sandi yang lain. Percayalah padaku!”bujuk Rafael
__ADS_1
Jessica yang dipenuhi kesedihan dan kemarahan, hanya diam. Jessica melepaskan tangan Rafael yang memegang wajahnya. Jessica pun langsung pergi meninggalkan Rafael.
Rafael semakin salah tingkah melihat ekspresi kemarahan Jessica. Rafael langsung berjalan menghampiri Jessica yang terus berjalan menuju meja nakas.
Dilihatnya Jessica yang mengambil sesuatu dari laci meja nakas.
“Lihat ini!”tunjuk Jessica
Jessica menyodorkan beberapa lembar foto yang tadi siang ditemukannya.
“Sekarang jelaskan kenapa kau masih menyimpan foto-foto ini! Cepat jelaskan!”pinta Jessica
Rafael menatap lembaran foto yang disodorkan oleh Jessica. Mata Rafael terbelalak. Karena kenyataannya, dia sudah melupakan keberadaan foto-foto itu. Foto yang berisi kenangannya bersama Celine, cinta pertamanya.
“Sayang, dimana kau menemukannya?”tanya Rafael sedikit panik
“Aku menemukannya di ruang kerjamu”jawab Jessica dengan ketus.
Rafael langsung memeluk tubuh mungil Jessica untuk meredakan kemarahan yang saat ini sedang menyelimuti hati Jessica.
Jessica berusaha melepaskan diri dari Rafael, namun tenaga Rafael yang besar membuat Jessica kewalahan dan tak sanggup melepaskan diri dari Rafael, suaminya.
“Sayang..maafkan aku! Percayalah padaku! Aku sudah mengubur dalam-dalam perasaanku pada Celine. Foto-foto ini pun aku sudah lama melupakannya”ucap Rafael sambil memeluk Jessica erat
“Pembohong!”gerutu Jessica sambil mengerucutkan bibirnya
Jessica termangu sejenak mendengar pengakuan cinta Rafael.
“Benarkah?”tanya Jessica
Rafael perlahan mengurai pelukannya dan menatap lembut sang istri yang sedang merajuk.
“Percayalah padaku! Sebagai buktinya, kau boleh ganti sandi apartemen ini sesuka hatimu”ucap Rafael.
“Benarkah?”tanya Jessica dengan senyum mengembang
Memperlihatkan wajah cantik yang sebelumnya muram. Rafael hanya menganggukkan kepalanya sambil tersenyum pada Jessica.
“Baiklah! Aku mau ganti sekarang”jawab Jessica
Akhirnya Jessica dan Rafael berjalan keluar untuk mensetting ulang nomor sandi apartemennya. Yang sebelumnya berisi tanggal lahir Celine. Diganti menjadi nomor pilihan Jessica.
Karena Jessica yang hanya berbalut jubah mandi, Rafael terpaksa menginstruksikan kepada semua pengawal yang berjaga di depan area pintu apartemennya, untuk pergi menjauh. Rafael tidak mau ada lelaki lain yang melihat penampakan istrinya yang seperti itu.
Jessica tampak berpikir keras, di depan smartlock pintu apartemennya.
__ADS_1
“Bagaimana?”tanya Rafael yang melihat Jessica tak juga kunjung mengetikkan nomor sandi yang baru.
"Diamlah! Aku sedang berpikir"pinta Jessica sambil berpikir keras dengan ekspresi wajah yang sangat serius.
Rafael tampak menahan tawanya melihat ekspresi wajah Jessica yang terlihat sangat menggemaskan. Namun Rafael memilih tidak mengganggu istrinya itu. Dia hanya diam memperhatikan saja. Daripada kena semprot lagi, pikir Rafael.
“Aha..”
Jessica tampak tersenyum lebar setelah mendapat ide cemerlang.
“Berikan tanganmu!”pinta Jessica sambil menarik tangan Rafael.
Jessica menarik jari telunjuk Rafael dan meletakkannya di smartlock pintu apartemennya.
Setelah Rafael, Jessica juga meletakkan jari telunjuknya di smartlock itu. Sehingga jadilah sidik jari mereka sebagai kunci smartlock pintu apartemen mereka berdua.
“Mulai sekarang, hanya sidik jariku atau sidik jarimu yang bisa membuka apartemen ini”ucap Jessica dengan senyum yang mengembang lebar
“Gadis pintar!”puji Rafael sambil mengelus pucuk kepala Jessica.
“Ayo! Sekarang kita masuk ke dalam! Kau bisa sakit jika terlalu lama di luar!”ajak Rafael sambil menggandeng tangan Jessica.
Jessica menurut saja ditarik tangannya oleh sang suami.
****
Keesokan harinya,
Hari perayaan ulangtahun perusahaan Miller, Miller Corp. digelar dengan sangat mewah di salah satu hotel berbintang lima di pusat kota Paris. Tamu undangan yang terdiri dari para pejabat dan pengusaha rekanan perusahaan diundang semua untuk merayakan pesta itu.
Keluarga besar Miller hadir semua dalam perayaan itu. Arthur dan Elizabeth tampak gagah dengan pakaian yang mereka kenakan. Si kembar Annabelle dan Arabelle juga tampak cantik dalam balutan evening dress yang sudah mereka pilih sebelumnya dari butik milik Catherine Alexander.
CEO perusahaan, Rafael dan Jessica tampak memasuki ballroom hotel tempat perayaan ualngtahun perusahaan. Keduanya tampak serasi. Rafael tampak gagah dan tampan dengan setelan tuxedo hitam yang dikenakannnya. Sementara Jessica terlihat sangat anggun dan cantik dalam balutan evening ball gown warna gold yang sudah dipilihkan Rafael sehari sebelumnya.
Para tamu undangan dan semua yang hadir di ballroom menatap kagum pada pasangan suami istri yang baru saja melangkahkan kaki memasuki ballroom itu. Keduanya seperti raja dan ratu perayaan ulangtahun perusahaan Miller. Jessica melingkarkan tangannya di tangan kekar suaminya. Jessica yang tidak terbiasa menjadi pusat perhatian, terlihat sedikit gugup.
“Kau kenapa?”tanya Rafael
“Semua orang menatapku. Aku tak menyukai keadaan seperti ini. Aku tak suka jika menjadi pusat perhatian semua orang”bisik Jessica sambil mengulas senyum di bibirnya
“Tenanglah! Kau aman bersamaku!”ucap Rafael sambil mengelus pelan tangan Jessica untuk menenangkannya.
“Kau cukup melihatku! Tak usah pedulikan yang lain! Kau mengerti?”perintah Rafael
Mendengar jawaban Rafael, secercah harapan mengembang di hati Jessica. Perlahan-lahan, Jessica merasa seperti mendapat tambahan energi untuk menghadapi orang-orang yang kini terus menatapnya. Jessica merasa mendapatkan keberanian untuk menghadapi mereka semua. Karena Jessica yakin, Rafael suaminya akan selalu melindungi dan menjaganya.
__ADS_1
Rafael dan Jessica berkumpul bersama dengan anggota keluarga Miller yang lain. Sesekali Rafael mengajak Jessica menyapa kolega bisnis dan tamu undangan yang hadir. Rafael terus menggandeng tangan Jessica dan tak mengijinkan wanitanya jauh dari dirinya.