
Rafael dan Jessica kini berada di pesawat pribadi keluarga Miller yang akan mengantar keduanya menuju destinasi bulan madu mereka yaitu pulau Maldives. Rafael sengaja mengajak Jessica kesana karena Jessica memang menyukai Pulau Maldives. Apalagi kepulauan Maldives yang terletak di samudra india itu menyuguhkan pemandangan pantai yang sangat indah.
Kepulauan Maldives atau resminya Republik Maldives berada di Lautan Hindi, selatan pulau Lakshadweep India. Kurang lebih 700 km barat daya Sri Lanka. Kepulauan Maldives sendiri terdiri dari kurang lebih 1192 kepulauan kecil.
Surga dunia yang menjadi salah satu destinasi populer bagi pasangan baru menikah ini menawarkan keindahan bawah laut dengan beragam ekosistem lautnya. Selain itu, destinasi ini sangat cocok bagi pasangan yang ingin bersantai di resort sambil menikmati pemandangan matahari terbenam.
Beberapa aktivitas yang bisa dilakukan disini antara lain snorkeling, diving, hingga menikmati sunset cruise untuk melihat sekelompok lumba-lumba di perairan Maldives.
Sesampainya di Maldives, Rafael dan Jessica segera diantar menuju resort tempat mereka menginap.
“Wow..pemandangannya sangat indah”seru Jessica kegirangan begitu melihat pemandangan di luar kamar tempatnya menginap.
Rafael menarik sudut bibirnya melihat wanitanya yang terlihat begitu bahagia.
“Apa kau suka?”tanya Rafael
“Tentu saja”sahut Jessica tanpa menoleh ke arah Rafael
Tiba-tiba sebuah tangan besar melingkar di pinggang Jessica.
Jessica menahan nafasnya merasakan Rafael yang memeluknya dari belakang. Rafael bahkan sedikit membungkukkan tubuhnya hingga kepalanya bersandar di leher Jessica sambil menghirup aroma wangi tubuh Jessica.
“Sekarang..tidak akan ada yang mengganggu kita”bisik Rafael di telinga Jessica
Membuat gadis cantik itu kegelian dan bergidik ngeri.
“Apa maksudmu? Kita kemari untuk berlibur kan?”tanya Jessica sambil berusaha melepaskan diri dari suaminya itu.
Jessica yang berhasil lepas dari dekapan Rafael kini berdiri berhadapan dengan lelaki tampan yang sudah berstatus suaminya itu. Jessica membelalakkan matanya melihat kabut gairah di mata Rafael. Jessica berjalan menjauh dari Rafael karena tidak kuat berdekatan dengan suaminya yang saat ini sedang bergairah. Rafael bahkan berjalan mendekat ke arah dirinya sambil melepas kancing kemejanya.
“A-apa yang akan dia lakukan?”gumam Jessica dalam hati sambil melangkah mundur
“Berlibur? Aku rasa tidak. Kita kemari bukan untuk berlibur tapi untuk berbulan madu”ucap Rafael dengan tatapan nakalnya
Jessica terus melangkah mundur hingga kakinya mengenai ranjang. Kini Jessica terduduk di ranjang di kamar mereka. Sementara Rafael terus berjalan maju hingga menindih tubuh Jessica.
Mata keduanya saling bertemu. Jantung Jessica terus berdegup kencang. Jessica yang gugup meletakkan kedua tangannya di depan dadanya untuk mempertahankan diri dari suaminya yang selalu menggoda dirinya.
Rafael beranjak dari atas ranjang dan melepaskan kemeja yang tadi dipakainya ke lantai. Jessica semakin salah tingkah membayangkan apa yang akan dilakukan Rafael pada dirinya.
“A-aku belum siap”ucap Jessica dengan terbata-bata
“Tenang saja, aku akan melakukannya dengan lembut”sahut Rafael sambil berjalan ke arah ranjang kembali
“Tapi aku belum siap melepaskan kehormatanku padamu. Tolong mengertilah!”pinta Jessica
“Tapi kita sudah menikah”jawab Rafael kesal
“Aku tahu. Tapi aku belum siap. Tolong beri aku waktu!”pinta Jessica
“Sekarang aku adalah suamimu. Jadi lakukan apa yang menjadi kewajibanmu”ucap Rafael dengan kesal.
“Maaf, tapi beri aku waktu!”sahut Jessica dengan mata yang berkaca-kaca
__ADS_1
Melihat Jessica yang hampir menangis membuat Rafael sebenarnya tidak tega.
“Apa karena kau masih mencintai mantan kekasihmu itu?”tanya Rafael dengan penuh kemarahan
“Kenapa kau membawa-bawa kak Arga dalam masalah ini. Ini tak ada hubungannya dengan kak Arga”sahut Jessica tak mau kalah
“Kau bahkan menyebut namanya dengan begitu mesra”gumam Rafael dalam hati dengan hati yang terluka.
Rafael yang kesal karena penolakan Jessica akhirnya mengambil kembali kemejanya dan mengenakannya. Rafael berjalan ke luar dari kamarnya. Sebelum keluar, Rafael sempat menoleh sejenak ke arah Jessica. Tampak kekecewaan terpancar di mata Rafael, karena gadis cantik yang sudah berstatus istrinya itu menolak “melayani”nya.
Rafael menutup pintu kamar dengan kasar menunjukkan kekecewaan dan kemarahannya.
“Brakk”
Jessica sampai memejamkan matanya karena kaget dengan reaksi Rafael yang membanting pintu dengan kasar.
“Maaf”gumam Jessica dalam hati
Jessica terduduk di ranjang sambil menatap pemandangan indah samudera India di depan kamarnya. Jessica bertarung dengan pikirannya sendiri. Di satu sisi, dia mulai mencintai Rafael namun di sisi lain, Jessica belum yakin dengan perasaan Rafael pada dirinya. Semua karena lelaki itu tidak pernah mengatakan perasaannya pada Jessica. Rafael tak pernah mengatakan dia mencintai Jessica. Walaupun semua perhatian dan perlakuan Rafael selama ini pada dirinya tampak menunjukkan perasaan lelaki itu. Namun selama Rafael tidak mengungkapkan perasaanya melalui perkataan, Jessica belum bersedia menyerahkan keperawanannya pada lelaki itu. Karena Jessica berprinsip hanya akan “melakukannya” dengan lelaki yang jelas-jelas mencintainya dan yang dicintainya.
****
Hari beranjak malam, tetapi Rafael belum juga kembali ke kamar mereka. Membuat Jessica mengkhawatirkan lelaki yang sudah menjadi suaminya itu.
“Dia kemana? Kenapa belum juga kembali? Apa aku harus mencarinya? Tapi kemana? Aku tidak tahu dia ada di mana?”gumam Jessica dalam hati
Karena kuatir, akhirnya Jessica memberanikan diri menelpon suaminya itu. Jessica bahkan melakukan video call.
“Kau dimana?”tanya Jessica begitu Rafael mengangkat panggilan video call-nya.
“Aku hanya ingin tahu kau akan kembali jam berapa. Karena aku sudah mengantuk”jawab Jessica bohong
“Kau tak perlu menungguku. Aku akan kembali jika aku mau”jawab Rafael dengan ketus
Hati Rafael masih merasa marah dan kesal karena penolakan Jessica tadi. Sementara Jessica yang awalnya kuatir karena Rafael tidak segera kembali, hanya bisa menelan kekecewaan karena lelaki itu yang masih ketus pada dirinya.
“Siapa yang menelponmu?”suara seorang wanita pada Rafael
Rafael tampak menggeser tangkapan layarnya memperlihatkan seorang wanita cantik yang sangat seksi yang datang menghampiri Rafael sambil membawa dua gelas minuman.
Hati Jessica mendadak panas, mendapati suaminya kembali pada kebiasaan lamanya. Gonta ganti wanita.
“Lakukan apapun yang kau mau. Aku tidak perduli”balas Jessica dengan sengit
Jessica yang marah dengan sikap Rafael, akhirnya menutup sambungan teleponnya dengan hati yang dipenuhi kemarahan.
“Ternyata kau tak pernah berubah”gerutu Jessica dalam hati
“Apa yang aku harapkan. Dia akan berubah karena aku? Betapa naifnya kau Jessica”gerutu Jessica merutuki kebodohannya sendiri
Jessica yang kesal akhirnya memilih segera tidur. Setelah mengganti pakaiannya dengan pakaian tidur, Jessica pun tidur di ranjang. Sebelumnya Jessica sudah meletakkan sebuah guling sebagai pembatas antara dirinya dan Rafael jika lelaki itu kembali ke kamar mereka.
Sementara itu di suatu tempat di resort,
__ADS_1
“Itu tadi istrimu?”tanya Jane, wanita yang bersama Rafael tadi
“Hem”sahut Rafael dengan berdehem
Rafael menenggak minuman yang tadi disuguhkan Jane pada dirinya.
“Dia pasti mencarimu. Kenapa kau tidak kembali ke kamarmu?”tanya Simon, suami Jane
“Bukankah kalian baru saja menikah? Kenapa sudah bertengkar?”tanya Jane bingung.
“Ceritanya panjang”sahut Rafael dengan malas
Akhirnya Rafael menceritakan sedikit ceritanya pada Jane dan Simon, sahabat masa kecilnya yang ternyata juga berlibur di Maldives. Pasangan suami istri itu tertawa mendengar cerita cinta lelaki playboy yang kini kewalahan menghadapi istri kecilnya.
“Jadi kau marah karena istrimu belum menerimamu? Apa kau sudah pernah mengatakan perasaanmu pada istrimu itu?”tanya Simon
“Ck..Mana mungkin dia mengatakannya. Pada Celine saja tidak pernah padahal mereka berpacaran bertahun-tahun. Apalagi pada gadis ini. Kau ini seperti tidak mengenal watak sahabatmu itu saja, sayang?”sindir Jane pada Rafael
Rafael tampak acuh saja meskipun sudah disindir seperti itu oleh Jane.
“Apa itu jadi masalah penting?”tanya Rafael dengan entengnya
Jane memutar bola matanya dengan jengah.
“Dengarkan aku tuan mantan playboy no.1 di Oxford. Tidak semua wanita seperti Celine yang bisa menerimamu meskipun kau tak pernah mengatakan “cinta” pada dirinya. Buktinya, istrimu itu. Mungkin bagi istrimu, kata “I love you”itu lebih berharga dari apapun juga. Jadi aku sarankan, cepat katakan perasaanmu pada dia. Supaya kesalahpahaman diantara kalian cepat selesai”ucap Jane panjang lebar
“Tapi menurutku itu sangat kekanak-kanakan”sahut Rafael
“Memangnya kenapa kalo kekanak-kanakan. Kami selalu mengatakannya setiap waktu, iya kan sayang?”goda Jane pada suaminya Simon
“Iya sayang..I love you”sahut Simon sambil memonyongkan bibirnya seolah mencium istrinya.
“I love you too”balas Jane sambil mengecup bibir suaminya
“Itu sangat menggelikan. Aku tak pernah mengatakannya sebelumnya”ucap Rafael
“Sepertinya kau memang memiliki kelainan. Mana ada orang yang belum pernah mengatakan “I love you”pada orang yang disayanginya”ejek Jane
“Terserah apa katamu”sahut Rafael acuh
“Bagaimana dia tahu kau mencintainya jika kau tak pernah mengatakannya? Jadi cepat katakan!”pinta Jane
“Bro, turuti saja saran istriku. Percayalah dia juga wanita, dia pasti juga tau apa yang kini dirasakan istrimu”ucap Simon sambil menepuk pundak Rafael
“Tapi..”
Ada perasaan tak yakin di hati Rafael. Dia sangsi jika Jessica akan mau menerimanya begitu dia mengatakan perasaannya. Apalagi Rafael meyakini Jessica masih memendam rasa pada mantan kekasihnya, Arga Wisnutama.
“Tapi apalagi?”tanya Jane kesal
“Aku tak yakin dia juga mencintaiku”sahut Rafael tak yakin
“Darimana kau tahu dia tidak mencintaimu kalo kau belum mengatakannya?”tanya Jane
__ADS_1
“Aku harus yakin dulu, baru aku berani mengatakan perasaanku padanya”ucap Rafael