
Sesampainya di kantor, keduanya langsung duduk di kursi masing-masing. Rafael tampak sibuk dengan tumpukan berkas di mejanya. Sesekali Jessica melirik pada lelaki tampan yang menjadi tunangannya itu. Dan saat melihat bibir seksi Rafael, membuat Jessica terbayang kembali momen singkat di mobil saat Rafael mengecup bibirnya kemudian menciumnya.
“Kenapa akhir-akhir ini aku membiarkan lelaki itu menciumku? Apa aku memang sudah gila?”
Jessica segera mengalihkan tatapannya dan memilih menyibukkan diri dengan pekerjaan yang tadi sempat diberikan Rafael. Jessica tidak sadar, jika sejak tadi Rafael sebenarnya tahu dirinya diperhatikan gadis cantik itu. Begitu Jessica bekerja di depan laptopnya, kini Rafael yang sibuk memperhatikan gadis cantik itu.
“Buatkan aku kopi!”perintah Rafael pada Jessica
Jessica menoleh pada Rafael.
“Baiklah”sahut Jessica
Jessica pun pergi ke pantry membuatkan kopi pesanan Rafael. Jessica yang memang pandai membuat kopi, tampak tidak kesulitan membuatkan kopi itu. Stela datang menghampiri Jessica untuk membantunya.
“Ada yang perlu saya bantu, nona?”tanya Stela
Jessica menoleh sambil tersenyum.
“Tidak ada. Aku sudah biasa membuat kopi saat masih bekerja di perusahaan agensi modelling”sahut Jessica sambil mengaduk kopi buatannya.
Akhirnya Jessica dan Stela berbincang berdua dengan sangat akrab. Philip datang menyusul ke pantry.
“Apakah kopinya sudah siap?”tanya Philip
“Iya. Sudah. Sebentar aku bawakan ke dalam”sahut Jessica
Jessica berjalan menjauh dari Stela dan Philip. Philip menatap tajam ke arah Stela yang tertunduk lesu.
“Sekarang waktunya kerja. Bukan waktunya ngobrol. Ingat, nona Jessica adalah atasan kita. Kau mengerti?”tanya Philip
“Maaf tuan. Saya mengerti”sahut Stela
Philip akhirnya berjalan di depan Stela. Sekretaris cantik itu hanya sanggup menatap punggung Philip.
“Kenapa kau selalu memarahiku? Tapi kenapa saat dia marah malah terlihat sangat tampan?”gumam Stela dalam hati
Philip menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. Dilihatnya Stela yang sedang melamun.
“Apa yang kau lakukan di situ? Cepat kembali bekerja!”perintah Philip
“I-iya tuan”sahut Stela sambil mempercepat langkah kakinya.
****
Jessica membawa kopi buatannya dan meletakkannya di atas meja.
__ADS_1
“Terimakasih”ucap Rafael sambil menatap Jessica
Rafael langsung menyeruput kopi buatan Jessica.
“Bagaimana rasanya?”tanya Jessica penuh harap
“Enak”jawab Rafael singkat
Sebuah senyum indah langsung terukir di wajah Jessica mendengar Rafael memuji kopi buatannya yang memang rasanya enak.
Waktu terus berjalan. Tanpa terasa Rafael sudah bekerja hingga malam tiba. Rafael menatap keluar pemandangan di luar kantornya.
“Sudah malam”gumam Rafael dalam hati
“Kita teruskan diskusi kita besok saja. Kalian boleh pulang sekarang!”perintah Rafael pada Philip dan Stela.
“Baik tuan”
Stela dan Philip keluar dari ruang kantor Rafael berdampingan. Rafael mencoba mencari sosok Jessica yang duduk tak jauh dari dirinya. Tapi gadis itu tak terlihat. Rafael pun berjalan menghampiri meja kerja Jessica.
Dilihatnya gadis cantik itu tertidur di kursinya. Kepala Jessica bersandar di atas kedua tangannya yang disilangkan di atas meja. Tampak gurat-gurat kelelahan di wajah cantik itu. Rafael mendekatkan wajahnya melihat Jessica dari dekat.
Karena kasihan melihat posisi tidur Jessica yang terlihat tidak nyaman, Rafael kemudian menggendong Jessica dan membaringkannya di atas sofa besar yang ada di kantor Rafael. Rafael menurunkan Jessica dengan sangat perlahan, takut membangunkan gadis cantik itu.
Karena merasa mengantuk, Rafael akhirnya duduk di kursi besar miliknya dan menyandarkan kepalanya yang terasa berat. Rafael menutup matanya dengan kedua tangannya disilangkan di depan dadanya. Kedua pasangan itu tertidur selama beberapa saat.
Jessica perlahan terbangun saat menyadari perutnya yang sudah kelaparan.
“Krucuk..krucuk”
“Aku masih ingin tidur”gerutu Jessica dalam hati masih dengan mata yang terpejam
Namun rasa lapar yang teramat sangat, membuat gadis cantik itu mau tidak mau membuka matanya.
“Sudah malam”gumam Jessica melihat sekelilingnya.
“Kenapa aku bisa ada di sini?”tanya Jessica dalam hati melihat dirinya yang sudah berpindah dari meja kerjanya ke sofa.
“Kemana Rafael?”tanya Jessica dalam hati melihat sekelilingnya mencari keberadaan tunangannya.
“Ah..di sana rupanya”
Ada perasaan bahagia di hati Jessica melihat Rafael tidak meninggalkannya sendiri di kantor. Jessica pun berjalan ke arah meja Rafael sambil membawa jas Rafael yang tadi ada di tubuhnya.
“Dia kelihatan sangat lelah”gumam Jessica melihat Rafael yang tertidur dengan pulas.
__ADS_1
Dengan perlahan Jessica meletakkan jas di atas tubuh Rafael. Persis seperti yang tadi dilakukan Rafael pada dirinya.
Melihat wajah tampan yang begitu damai dalam tidurnya membuat Jessica begitu penasaran hingga mendekatkan tubuhnya pada Rafael. Jessica penasaran ingin melihat wajah tampan tunangannnya dari dekat.
Jessica tersenyum melihat betapa lentik bulu mata Rafael.
“Bulu matanya sangat lentik”gumam Jessica sambil menyentuh bulu mata Rafael.
“Hidungnya sangat mancung. Berbeda sekali dengan hidungku”gumam Jessica lagi sambil menyentuh tulang hidung Rafael yang memang memiliki hidung yang mancung.
“Alis matanya begitu lebat dan hitam”gumam Jessica sambil mengusap alis mata Rafael yang sangat tebal
Dan saat melihat bibir seksi Rafael dengan takut-takut Jessica mencoba menyentuhnya. Namun tepat di depan bibir itu, Jessica langsung mengepalkan tangannya, tidak jadi menyentuh bibir Rafael.
“Apa yang sudah aku lakukan?”gerutu Jessica dalam hati
Jessica pun membalik tubuhnya mencoba berjalan ke arah kursi sofa.
Degh..
Sebuah tangan menahannya dari belakang. Spontan Jessica menoleh ke belakang. Dilihatnya Rafael yang terbangun. Mata Jessica terbelalak melihat lelaki tampan yang baru saja “dijelajahi”wajahnya itu sudah terbangun dan menatap dirinya.
“K-kau sudah bangun?”tanya Jessica terbata-bata
Rafael diam saja namun tangannya menarik tangan Jessica dengan keras hingga gadis itu tertarik ke arah Rafael dan duduk di pangkuan Rafael.
“Apa yang kau lakukan? Lepaskan aku!”ronta Jessica
Jantung Jessica seakan berlompatan begitu menyadari dirinya kini duduk di pangkuan lelaki tampan yang baru saja dikagumi ketampanannya. Fitur wajah yang sangat sempurna itu menatap lekat gadis cantik yang duduk di depannya. Rafael melingkarkan tangannya di tubuh Jessica hingga gadis cantik itu tak bisa berkutik.
“Kau harus membayar apa yang sudah kau lakukan tadi?”bisik Rafael dengan suara beratnya yang terdengar begitu seksi
“Aku tak tahu kau sudah bangun. Maaf”ucap Jessica ketakutan
Tubuhnya bergetar karena Rafael mendekap tubuhnya hingga dirinya tak berkutik.
Rafael mengulangi apa yang tadi dilakukan Jessica pada dirinya. Jessica salah tingkah dengan semua perlakuan Rafael. Apalagi saat mata keduanya saling bertatapan, seperti ada sengatan listrik tegangan tinggi yang menyambar tubuh Jessica. Membuat gadis itu memilih terus mengalihkan tatapan matanya dengan degup jantung yang semakin tak karuan. Merasakan sentuhan lembut Rafael di wajahnya.
Saat Rafael hendak menyentuh bibir Jessica, dengan cepat lelaki itu meraih tengkuk Jessica dan mendekatkan tubuh gadis cantik itu ke arahnya. Rafael mencium bibir merah yang terasa sangat menggodanya. Apalagi saat merasakan sentuhan-sentuhan kecil Jessica pada wajahnya tadi membuat Rafael merasakan tubuhnya terasa sangat panas.
Jessica awalnya sangat kaget begitu Rafael mencium dirinya. Mata Jessica terbelalak mendapatkan ciuman tiba-tiba dari Rafael. Jessica berusaha melepaskan diri dari Rafael. Namun ciuman hangat itu perlahan membuat keduanya terbuai. Tanpa sadar Jessica membalas ciuman Rafael di bibirnya. Keduanya berciuman selama beberapa saat. Merasakan sapuan di bibir yang membuai keduanya.
Tiba-tiba,
“Krucuk..krucuk”
__ADS_1