Fall For You

Fall For You
Kebohongan Lainnya


__ADS_3

Elizabeth menatap lembut sambil mengusap pipi Jessica dan Rafael bergantian.


“Kalian tidak tahu betapa aku sangat bahagia mendengar berita ini. Terimakasih Jessica. Terimakasih!”ucap Elizabeth sambil beruraian airmata


“Nenek kenapa? Jangan menangis! Aku mohon”ucap Jessica panik melihat Elizabeth yang tiba-tiba menangis


Jessica lantas memeluk tubuh renta Elizabeth untuk menenangkannya.


“Sudah ya nek, jangan menangis! Anda membuat saya serba salah”ucap Jessica sambil mengusap punggung Elizabeth


Elizabeth memeluk Jessica dengan hati yang sangat bahagia. Elizabeth juga menatap Rafael sambil tersenyum.


Arthur yang melihat sang istri malah sesenggukan setelah mendengar berita yang dibawa Arga dan Catherine segera menghampirinya.


“Kenapa kau malah menangis sayang? Lihatlah! Kau membuat suasana menjadi sedih. Bukankah kita seharusnya bahagia mendengar berita ini?”tanya Arthur


Elizabeth langsung mengusap airmatanya dan tersenyum.


“Ayo kita duduk!”ajak Elizabeth


Elizabeth menarik tangan Rafael dan Jessica untuk duduk di dekatnya.


“Katakan kapan rencana kalian?”tanya Elizabeth


“Rencana apa nek?”tanya Jessica bingung


“Tunangan kak. Kapan kalian akan meresmikan pertunangan kalian?”tanya Anna


Jessica salah tingkah diberondong pertanyaan tentang rencana pertunangan yang sebenarnya tidak pernah ada dalam pikirannya.


“Bagaimana ini?”gumam Jessica dalam hati


“Tidak perlu buru-buru. Bukankah Amanda dan Victor baru saja menikah. Kita tunda dulu saja rencana pertunangan ini”ucap Rafael


“Menurutku lebih cepat justru lebih baik. Bukan begitu? Nyonya setuju kan dengan pendapat saya?”tanya Hanna pada Elizabeth


“Iya..aku setuju sekali. Kenapa harus ditunda? Kalo perlu besok saja pertunangannya”ucap Elizabeth


“Tidak!”


“Jangan!”

__ADS_1


Rafael dan Jessica berteriak hampir bersamaan. Keduanya langsung bertatapan.


“Ehem”


Rafael berdehem dengan keras untuk mengalihkan perhatian.


“Kalian ini kenapa? Bukankah semakin cepat kalian bertunangan akan lebih baik? Atau kalian ingin seperti Amanda dan Victor? Langsung menikah?”tanya Elizabeth


“Tidak!”


Teriak Jessica dan Rafael bersamaan.


“Bagaimana aku mengatakannya? Ini semua gara-gara ide konyol Rafael. Membuat aku terjebak dalam masalah pelik seperti ini”gerutu Jessica dalam hati sambil menatap tajam ke arah Rafael.


“Berhenti menatapku seperti itu! Aku juga berusaha menyelamatkan kita berdua”bisik Rafael pada Jessica


“Ini semua salahmu”bisik Jessica pada Rafael


Elizabeth dan Hanna justru sibuk membahas rencana pertunangan keduanya. Dibantu Anna dan Joanne. Sementara Arthur berbincang dengan Jerry. Arga dan Catherine memilih undur diri dari meja kedua keluarga tersebut untuk menyapa sang pemilik acara hari ini, yaitu Amanda dan Victor. Hanya Albert yang terus menatap gadis yang disukainya itu dengan tatapan penuh kekecewaan.


Albert tak menyangka, keputusan Jessica tinggal di Paris untuk menenangkan diri justru membuat gadis itu bertemu dengan Rafael. Saingannya. Dan kini keduanya malah akan segera bertunangan. Membuat hati Albert dipenuhi dengan kesedihan dan kekecewaan. Albert kecewa karena Jessica yang pernah menolak cintanya justru sekarang berpacaran dengan lelaki playboy. Albert kecewa Jessica justru menerima Rafael dan bukan dirinya.


Merasa tak dianggap dalam pembicaraan dua keluarga, Albert memilih pergi meninggalkan meja dua keluarga tersebut. Joanne yang melihat lelaki yang disukainya pergi, hanya berani menatapnya tanpa berani mendekatinya. Karena kenyataannya dirinya sudah pernah ditolak oleh lelaki itu. Mana mungkin dia berani mendekati lelaki itu.


“Kau kenapa?”tanya Alvaro pada sepupu itu.


“Bukan urusanmu”sahut Joanne sambil melangkah pergi ke arah yang berlawanan dengan arah kepergian Albert


Alvaro yang dapat menangkap raut kesedihan di wajah Joanne, langsung berlari mengejar gadis cantik itu.


Sementara itu, Jessica dan Rafael terus berusaha membujuk keluarganya untuk mengurungkan rencana pertunangan mereka. Karena jangankan melamarnya, Rafael tak pernah menyatakan perasaannya pada Jessica. Mana mungkin gadis itu mau bertunangan dengan lelaki tampan itu. Meskipun tadi kupu-kupu di hatinya seakan bertebangan setelah mendengar Rafael memintanya untuk HANYA mendengarkan dirinya. HANYA menuruti kata-katanya. Semua yang diucapkan Rafael, ditangkap Jessica sebagai bentuk kecemburuan lelaki itu pada dirinya. Namun Jessica yang tidak mau patah hati karena salah mengartikan semua perkataan dan sikap Rafael, memilih untuk menjauh. Jessica takut jika terlalu berharap pada Rafael.


“Minggu depan saja pertunangan mereka berdua”ucap Elizabeth


“Baiklah! Saya setuju!”sahut Hanna


“Bagaimana sayang? Kau tidak keberatan kan?”tanya Elizabeth pada Arthur


“Terserah kau saja! Kau yang lebih tahu bagaimana baiknya”jawab Arthur


“Bagaimana dengan Anda, tuan Jerry? Anda setuju kan?”tanya Elizabeth

__ADS_1


Jerry menatap wajah sang putri. Masih terbayang dibenaknya saat-saat sang putri dirundung kesedihan akibat kegagalan pernikahannya dengan Arga.


“Saya setuju, jika Jessica juga setuju. Bagaimana sayang? Kau setuju bertunangan dengan Rafael minggu depan? Katakan saja! Jangan takut! Papa akan mendukung apapun keputusanmu”ucap Jerry


“Aku..”


“Bagaimana ini? Aku harus menjawab apa? Tuhan bantu aku!”gumam Jessica dalam hati


“Izinkan saya dan Jessica membicarakan ini berdua”pinta Rafael


“Kau sudah melamar putriku bukan?”tanya Jerry memastikan


“Itu..memang benar!”jawab Rafael


“What! Kenapa dia mesti berbohong lagi. Aahhhh..kepalaku rasanya ingin meledak saja”gerutu Jessica dalam hati


Karena bukannya menyelesaikan masalah di antara mereka, Rafael justru menambahi dengan kebohongan lainnya. Memang benar kata orang. Jika kita berbohong sekali, maka kita akan berbohong kedua, ketiga dan seterusnya untuk menutupi kebohongan yang sudah kita buat.


Jessica menghela nafasnya pelan berusaha mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan kebenarannya.


“Papa, mama, tuan Arthur dan nenek Eliz, sebenarnya aku dan Rafael..”


Rafael langsung panik begitu mendengar Jessica yang sepertinya akan mengatakan yang sebenarnya. Tanpa pikir panjang Rafael langsung menarik tangan Jessica.


“Izinkan saya dan Jessica mmembicarakan masalah ini sebentar saja”pinta Rafael sambil menarik tangan Jessica


“Hei..kemana kau membawaku? Aku belum selesai. Aku harus mengatakan yang sebenarnya”ucap Jessica yang sudah dibawa menjauh oleh Rafael


Rafael terus mengajak Jessica pergi ke tempat yang dirasa aman. Begitu sampai di suatu tempat yang dirasa aman, Rafael melepaskan genggamannya.


“Kenapa kau membawaku kemari?”tanya Jessica


“Kau akan mengatakan yang sebenarnya, iya kan?”tanya Rafael


“Tentu saja. Pertunangan ini tidak boleh terjadi. Ini hanya kebohonganmu saja karena kau cemburu pada kak Arga. Aku tak mau semua orang salah paham padaku”jawab Jessica


“Kau pikir jika mengatakan yang sebenarnya, mereka tidak akan kecewa? Apalagi nyonya besar begitu bahagia mendengar berita itu. Apa kau tega menghancurkan hatinya? Belum lagi tuan besar punya riwayat sakit jantung. Apa kau pikir kejujuranmu itu tidak akan mempengaruhi jantungnya?”tanya Rafael dengan menggebu


“Lalu kau mau aku bagaimana? Aku juga bingung. Ini semua salahmu! Aku membencimu!”seru Jessica dengan beruraian airmata sambil memukul dada bidang Rafael


Rafael pasrah saja dipukul oleh Jessica yang memukuli dadanya dengan sekuat tenaga. Jessica benar-benar kalut dan bingung harus bagaimana menghadapi keluarga Miller dan keluarganya. Dia tak menyangka kebohongan Rafael semakin menyeret dirinya terjerumus dalam masalah yang lebih besar. Jessica sama sekali tak ingin mengecewakan siapapun. Dia hanya ingin mengatakan yang sejujurnya. Namun rupanya ada hal lain yang harus dipertimbangkannya.

__ADS_1


Pukulan Jessica semakin lama semakin melemah namun airmatanya terus menetes. Membasahi pipinya. Rafael perlahan memeluk tubuh mungil gadis cantik itu untuk menenangkannya.


“Maaf. Aku tahu ini salahku sudah membuat kita terperangkap seperti ini. Jangan menangis! Aku akan berusaha mencari jalan keluarnya!”ucap Rafael sambil mengusap pelan punggung Jessica


__ADS_2