
Setelah menandatangani surat perjanjian kontrak bersama itu, Rafael dan Jessica segera bersiap menghadiri acara makan malam di kediaman keluarga Miller. Rafael sengaja mengajak Jessica menuju sebuah butik, agar gadis cantik itu tampil mempesona dalam acara nanti malam.
“Kita pergi sekarang?”tanya Jessica sambil menepuk bahu Rafael
Rafael yang merasakan bahunya ditepuk dari belakang, segera membalik tubuhnya menghadap ke arah Jessica.
Degh..
Jantung keduanya berdegup sangat kencang melihat penampilan satu sama lain. Rafael terlihat sangat tampan mengenakan kemeja lengan panjang warna hitam. Dipadu dengan setelan jas dan celana hitam membuat penampilan Rafael meskipun terkesan santai namun sangat tampan. Jessica juga sangat cantik mengenakan dress sabrina selutut warna hitam. Dengan rambut yang dibiarkan tergerai indah dan riasan natural di wajah cantiknya justru membuat penampilan Jessica tampak mempesona.
“Raf?”panggil Jessica begitu melihat Rafael yang hanya diam saja.
“Ehem”
Rafael sengaja berdehem dengan keras untuk mengusir kegelisahannya melihat “wanitanya”yang sangat cantik malam ini.
“Gila! Dia semakin cantik saja”gumam Rafael dalam hati
Keduanya melangkah keluar butik bersama. Tak dihiraukan keributan yang dibuat keduanya pada para pramuniaga yang sejak tadi mengagumi kesempurnaan fisik keduanya yang terlihat sangat serasi.
Rafael membukakan pintu mobil untuk Jessica.
“Terimakasih”ucap Jessica
Rafael segera menutup pintu mobil dan berjalan memutar ke arah pintu kemudi. Jessica menatap Rafael hingga lelaki tampan itu masuk ke dalam mobil.
“Apa aku bisa bertahan selama tiga bulan ini? Arghhh…Jesssica bertahanlah!”gerutu Jessica dalam hati.
Hatinya berdebar begitu kencang setelah mendapatkan perhatian kecil dari “pacar”nya.
Akhirnya keduanya menuju kediaman keluarga Miller. Rafael sesekali melirik ke arah gadis cantik yang duduk di sampingnya. Dilihatnya sepintas kaki Jessica yang bergetar pelan. Menandakan si pemilik kaki sedang nervous atau gugup.
“Gugup?”tanya Rafael singkat
Jessica yang sedang berlomba dengan pikirannya sendiri sampai tak mendengar pertanyaan Rafael.
“Hah..Kau bilang apa?”tanya Jessica
“Apa kau gugup?”tanya Rafael mengulangi pertanyaannya.
“Darimana kau tahu?”tanya Jessica
Rafael hanya diam namun tangan kirinya menunjuk ke arah kaki Jessica yang tidak bisa diam sejak tadi.
“Ah..ini. Iya, aku gugup”jawab Jessica jujur
“Kenapa mesti gugup? Kau cukup diam saja. Biar aku yang mengurus semuanya”ucap Rafael mencoba menenangkan “pacarnya” itu.
“Bagaimana kalo aku salah bicara? Apa kakekmu akan tahu kita hanya berpura-pura? Aku takut sekali. Aku lihat kakekmu sangat menakutkan. Tatapan matanya…hiiiii”
__ADS_1
Tubuh Jessica bergetar pelan hanya dengan membayangkan kakek Arthur yang menurut Jessica sangat menakutkan. Rafael yang mendengar perkataan Jessica malah mengulas senyum tipis di bibirnya.
“Ternyata ada juga yang bisa membuatmu takut”goda Rafael
“Tentu saja aku takut. Apa kau tak merasa takut? Oh ya, aku lupa. Dia kan kakekmu”sindir Jessica
Tiba-tiba Jessica merasa penasaran. Dengan takut-takut Jessica memberanikan bertanya.
“Apa aku boleh tanya sesuatu?”tanya Jessica takut-takut
“Apa yang ingin kau tahu?”tanya Rafael
“Kenapa kau memanggil kakek dan nenekmu sendiri dengan sebutan tuan besar dan nyonya besar? Apa kau bukan cucu kandung mereka? Apa jangan-jangan kau itu sebenarnya anak pembantu yang diangkat cucu oleh mereka?”tanya Jessica penasaran
“Omong kosong macam apa itu? Tentu saja aku cucu kandung mereka. Darimana kau mendapat pemikiran gila seperti itu?”selidik Rafael
“Ya maaf..Baru kali ini aku mendengar ada cucu kandung yang memanggil kakek dan neneknya sendiri dengan sebutan tuan besar dan nyonya besar”sahut Jessica meminta maaf
“Apa hubunganmu dengan mereka tidak harmonis?”tanya Jessica
Rafael diam saja. Tak menjawab pertanyaan Jessica.
“Kenapa diam? Apa aku tak boleh bertanya?”tanya Jessica sambil menatap Rafael yang terlihat cuek.
“Aku hanya merasa perlu berjaga-jaga jika nanti ditanya kakek dan nenekmu. Itu saja”
Jessica duduk menghadap pemandangan kota Paris melalui kaca jendela mobil yang ditumpanginya.
Jessica spontan menoleh pada Rafael.
“Berarti mereka yang menjadi wali kalian berempat?”tanya Jessica
“He em”
“Lalu kenapa kau seperti sedang perang dingin dengan kakekmu? Apa terjadi sesuatu?”tanya Jessica
“Tuan besar ingin aku mengurus perusahaannya. Tapi aku tak mau. Aku menolaknya”sahut Rafael
Jessica mengerutkan dahinya mendengar jawaban Rafael.
“Memangnya kenapa? Menurutku wajar jika kakekmu ingin kau mengurus perusahaannya. Papa juga pernah memintaku mengurus perusahaannya”ucap Jessica membandingkan antara dirinya dengan Rafael.
“Menurutku kak Ramon yang lebih kompeten untuk mengurus perusahaan. Bukan aku. Aku hanya tertarik dengan modelling. Aku tak tertarik mengurus perusahaan tuan besar”
“Rupanya begitu”sahut Jessica mencoba mengerti alasan Rafael.
Mereka berdua berbincang dengan santai, akhirnya mereka sampai juga di kediaman keluarga Miller. Mobil yang dikendarai Rafael, mesti melewati pos penjagaan yang sangat ketat sebelum memasuki kediaman keluarga Miller. Begitu penjaga keamanan mengijinkan mereka lewat, mobil pun meluncur menuju rumah kediaman keluarga Miller yang sangat megah dan mewah.
“Wow..rumahnya besar sekali. Seperti kediaman keluarga Alexander”gumam Jessica dalam hati begitu menyadari kediaman keluarga Miller sama megah dan mewahnya seperti kediaman keluarga Alexander, keluarga dari mantan kekasihnya, Arga Wisnutama.
__ADS_1
Rafael memarkirkan mobilnya di depan pintu depan rumah kediaman keluarga Miller. Rafael keluar dari mobilnya kemudian membantu Jessica turun. Rafael mengulurkan tangannya membantu Jessica turun dari mobil.
“Terimakasih”ucap Jessica lirih
Keduanya masuk ke dalam kediaman keluarga Miller sambil bergandengan tangan.
“Selamat malam tuan muda”sapa Oscar, pengawal pribadi yang tadi menjemput Anna dan Ara.
“Dimana semuanya?”tanya Rafael
“Nyonya besar berada di ruang makan. Nona muda baru bersiap-siap”jawab Oscar
“Tuan besar?”tanya Rafael
“Tuan besar sedang berada di ruang kerjanya”jawab Oscar
“Baiklah! Kembalilah bekerja!”perintah Rafael
“Baik tuan muda. Saya permisi dulu”sahut Oscar sambil menundukkan kepala memberi hormat pada Rafael kemudian dirinya undur diri.
Beberapa pelayan tampak menundukkan kepalanya menyapa sang tuan muda.
Malam ini adalah momen bersejarah dalam keluarga Milller dimana anggota keluarga berkumpul bersama. Elizabeth begitu bersemangat menyambut kedatangan Rafael ke rumah keluarga Miller.
Elizabeth mengerahkan semua chefnya untuk menghidangkan makanan kesukaan Rafael. Semua pelayan juga terlihat sibuk menyiapkan perhelatan makan malam tersebut.
“Nyonya, tuan muda sudah datang”ucap seorang pelayan pada Elizabeth
“Benarkah? Aku akan menemui Rafael. Kau teruskan!”perintah Elizabeth
Elizabeth langsung beranjak dari ruang makan menuju ruang tamu untuk menyambut cucu kesayangannya itu. Senyum terus mengembang di bibir wanita paruh baya itu.
Sesampainya di ruang tamu, dilihatnya Jessica yang duduk di kursi tamu. Gadis cantik itu begitu mempesona dengan gaun malam warna hitam yang dikenakannya. Gaun sleeveless selutut itu tampak sangat pas untuk Jessica.
“Kalian sudah datang?”sapa Elizabeth begitu melihat Jessica dan Rafael
Elizabeth langsung menghampiri Jessica dan memeluknya.
“Kau cantik sekali malam ini!”
“Terimakasih nenek Eliz”sahut Jessica
__ADS_1
“Pantas saja kau berhasil mencuri hati cucuku. Kau begitu cantik”puji Elizabeth sambil mencubit pelan dagu Jessica.
Membuat Jessica memaksakan sebuah senyuman di bibirnya mendengar pujian Elizabeth.