
Keesokan harinya,
Jessica terbangun dengan tubuh yang terasa segar. Jessica yang bisa tertidur dengan pulas di apartemen Rafael, tampak menggeliatkan tubuhnya. Sorot matahari pagi memasuki kamar yang tertutup dengan tirai besar.
Jessica turun dari ranjang dan memencet salah satu tombol di remote kontrol. Tirai besar yang menutupi kamar tamu pun terbuka dengan sendirinya. Menampakkan pemandangan matahari pagi yang mengintip manja dari ufuk timur.
Jessica merapikan ranjangnya dan bersiap untuk mandi. Merasakan guyuran air hangat ditubuh lelahnya membuat Jessica merasakan kesegaran. Perlahan peredaran darahnya semakin lancar karena mendapat guyuran dari shower. Jessica membalur tubuhnya dengan sabuk hingga wangi sabun semerbak mengisi kamar mandi.
Jessica yang menikmati mandi paginya tak menyadari jika Rafael mengintip dari balik pintu kamar mandi. Untung saja ruang shower itu tertutup kaca yang warnanya sedikit buram. Sehingga penampakan tubuh polos Jessica tidak terpampang nyata di hadapan Rafael.
Rafael menarik sudut bibirnya lalu menutup pintu kamar mandi dengan perlahan.
“Dasar gadis ceroboh”gumam Rafael dalam hati
Rafael yang sebelumnya hendak membangunkan Jessica, akhirnya memilih kembali ke kamarnya untuk mandi.
Setelah selesai mandi, Rafael menutup area vitalnya dengan sehelai handuk besar yang menutupi dari area pinggang hingga ke lutut. Rafael berjalan keluar dari kamar mandi sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan sehelai handuk kecil.
Rafael membiarkan bagian atas tubuhnya yang sangat indah terbuka begitu saja. Karena memang dia terbiasa bertelanjang dada. Rafael lupa jika saat ini Jessica menginap di apartemennya.
Rafael keluar dari kamar dengan santainya sambil mengusap rambutnya yang masih basah.
“Kau sudah ba..”
Jessica yang mendengar bunyi pintu di buka, menoleh ke arah Rafael. Mata Jessica langsung terbelalak melihat penampakan Rafael yang bertelanjang dada dan hanya ditutupi sehelai handuk.
“Aaaaaaa”
Jessica berteriak dengan sangat lantang dan membalik tubuhnya dengan cepat.
“Kenapa kau berteriak sekencang itu? Kau ingin membuat telingaku tuli?”keluh Rafael mendengar teriakan Jessica
“Kau juga kenapa berkeliaran seperti itu? Cepat pakai dulu bajumu!”perintah Jessica dengan nafas yang memburu.
“Dia mau membuatku gila apa? Berkeliaran sambil telanjang seperti itu”gerutu Jessica dalam hati sambil mengatur nafasnya yang terus berkejaran karena kelakuan Rafael.
Jessica yang sedang memasak omelet kembali fokus memasak sarapan untuk mereka berdua.
“Kau masak apa?”tanya Rafael
__ADS_1
“Omelet”jawab Jessica.
Jessica memasak dua omelet untuk dirinya dan Rafael. Begitu omeletnya matang, Jessica ingin menghidangkannya di piring. Jessica sampai harus berjinjit mengambil piring yang diletakkan di kitchen set bagian atas.
“Ah..susah sekali ambilnya”keluh Jessica karena memang tubuhnya sangat mungil sehingga dirinya kesulitan mengambil piring itu.
Tiba-tiba sebuah tangan terulur di belakang tubuh Jessica. Rafael yang melihat Jessica kesulitan, segera datang membantu. Diambilnya dua piring dan diserahkan pada Jessica.
“Terimakasih”ucap Jessica lirih
Begitu Jessica membalik tubuhnya, tepat di depan matanya tubuh bagian atas Rafael yang tidak tertutup sehelai kain itu terampang jelas di depan mata. Pahatan indah seindah patung Yunani dengan lekukan yang sangat sempurna itu berada tepat di depan mata Jessica. Jessica sampai membelalakkan matanya melihat roti sobek dan dada bidang Rafael yang sangat berotot dan kekar. Jantungnya semakin tidak karuan begitu disuguhi pemandangan seksi lelaki tampan yang bertelanjang dada itu.
“Apa ini?”gumam Jessica dalam hati
Rafael yang sadar sudah membuat tunangannya itu membeku menikmati pemandangan indah di depan matanya, menikmati tubuhnya yang memang seksi, hanya menahan tawanya.
“Usap dulu air liurmu!”goda Rafael
Jessica yang salah tingkah menelan ludahnya dengan susah payah. Ketika Jessica mendongakkan kepalanya, tatapan mata keduanya bertemu. Karena tak kuat bertatapan dengan lelaki tampan yang terlihat sangat seksi pagi itu, membuat Jessica mendorong pelan tubuh kekar Rafael agar tubuh keduanya tidak terlalu dekat. Karena berdekatan dengan lelaki tampan itu sukses membuat jantung Jessica berdegup sangat kencang seolah akan melompat keluar dari tubuhnya.
“Minggir sana! Cepatlah berpakaian!”pinta Jessica sambil mendorong tubuh Rafael menjauh.
Diluar dugaan, Rafael justru meraih tangan Jessica yang dan memegangnya erat.
Rafael menarik sudut bibirnya sambil mendekatkan wajahnya di depan wajah Jessica.
“Aku tahu kau sengaja mendorongku karena ingin menyentuhku kan?”goda Rafael
“Hahaha..siapa juga yang mau menyentuhmu”balas Jessica sambil tertawa
Tiba-tiba Rafael melingkarkan sebelah tangannya di pinggang ramping Jessica dan menarik tubuh gadis cantik itu hingga tubuh keduanya tak berjarak. Jessica membelalakkan matanya melihat kelakuan Rafael.
Jantung Jessica semakin tidak karuan. Jessica terus berusaha menjauh tetapi Rafael tak melepaskannya. Rafael justru mendekatkan kepalanya dan memiringkannya dengan perlahan.
“Ke-kenapa dia semakin mendekat? A-apa dia akan…”gumam Jessica dalam hati
Jessica membeku melihat lelaki tampan yang berstatus tunangannya itu semakin mendekatkan kepalanya ke arah dirinya. Rafael terus mendekatkan kepalanya, membuat Jessica memilih memejamkan matanya saja. Dapat dirasakannya nafas Rafael yang menyapu wajahnya.
Deg..deg..deg..
__ADS_1
Jantung Jessica berdegup sangat kencang menantikan kelanjutan yang akan diperbuat Rafael pada dirinya. Rafael yang memang ingin mencium Jessica begitu melihat gadis itu memejamkan matanya justru tersenyum tipis. Rafael malah melepaskan tubuh Jessica dan tidak jadi menciumnya.
Merasakan tubuhnya dilepaskan dan menjauh dari Rafael, membuat Jessica membuka matanya penuh keheranan.
“Dia tidak jadi?”gumam Jessica dalam hati
Ada rasa sedih di hati Jessica begitu menyadari Rafael tidak jadi menciumnya barusan. Padahal Jessica sudah yakin Rafael akan menciumnya.
“Aku akan ganti pakaian dulu. Kau siapkan saja sarapannya!”perintah Rafael dengan ekspresi dingin dan datarnya.
“Baiklah”jawab Jessica dengan lemas
Wajah cantik Jessica seketika itu langsung ditekuk. Terlihat jelas kekecewaan dalam hatinya karena lelaki tampan itu hanya menggodanya saja. Jessica membalik tubuhnya hendak menyiapkan sarapan untuk keduanya.
Rafael berjalan masuk ke dalam kamarnya menuju walk in closet miliknya. Rafael segera mengenakan pakaian untuk pergi ke kantor pagi ini. Sementara Jessica yang mendadak hatinya kesal menyiapkan sarapan dengan wajah yang ditekuk. Tanpa senyum indah yang tadi terus tersungging di wajah cantiknya kala menyiapkan sarapan untuk dirinya dan tunangannya.
Rafael menatap pantulan dirinya yang sudah terlihat tampan dengan kemeja putih dan setelan jas yang dikenakannya. Terbayang dalam pikirannya, saat-saat akan berciuman dengan gadis cantik tadi.
Sebenarnya Rafael memang ingin mencium gadis cantik itu. Apalagi Jessica tampak tidak menolak berciuman dengan dirinya. Membuat Rafael semakin bersemangat mencium bibir wanitanya. Namun keinginan itu ditahannya begitu mengingat mereka belum resmi menikah. Artinya dirinya harus bisa menahan diri untuk tidak menyentuh gadis itu sebelum mereka resmi menikah dua bulan lagi.
“Sabar Raf..waktunya akan segera tiba. Dia akan menjadi milikmu sepenuhnya”gumam Rafael menyemangati dirinya sendiri.
Rafael yang sudah siap, segera keluar kamar. Dilihatnya Jessica yang sudah menunggunya di meja makan. Dengan sarapan pagi yang sudah terhidang di meja makan.
Keduanya pun akhirnya sarapan berdua. Namun kali ini suasana sedikit berbeda. Gadis cantik itu mendiamkan Rafael tanpa menatap lelaki tampan itu sepanjang acara sarapan pagi itu. Sesekali Rafael mengajak bicara Jessica namun gadis itu menjawab sekenanya.
“Dia kenapa diam saja sejak tadi?”gumam Rafael dalam hati sambil menatap Jessica yang menyantap sarapannya dalam diam.
“Untuk sementara tinggallah di sini! Aku akan minta anak buahku menyelidiki masalah kamera itu”ucap Rafael
“Baiklah”jawab Jessica tanpa menatap Rafael
“Kau boleh merubah isi kamar tamu jika kau mau”ucap Rafael
Jessica hanya menganggukkan kepalanya. Rafael mengerutkan dahinya melihat sikap Jessica yang berubah pagi ini. Bahkan sampai sarapannya habis dan mereka bersiap ke kantor pun, Jessica masih juga diam tak berbicara sepatah kata pun.
“Kau kenapa?”tanya Rafael pura-pura tak tahu
“Aku? Aku baik-baik saja. Ayo kita sudah terlambat!”ajak Jessica
__ADS_1
Jessica mengambil tasnya dan berjalan keluar dari apartemen Rafael. Lelaki tampan itu mengikuti tunangannya di belakangnya.
“Apa mungkin dia marah karena aku tidak jadi menciumnya tadi?”gumam Rafael dalam hati