
“Berarti udah clear ya masalahnya. Aku kembali ke dalam. Raf, cepat ke kantorku. Ada yang ingin aku bicarakan denganmu”pinta Amanda
Amanda mengelus lengan Jessica kemudian kembali ke ruangannya. Leon yang tadi berdiri di samping Amanda segera mengulurkan tangannya membantu Jessica.
“Sini aku bantu Jess. Sepertinya kardus ini berat”pinta Leon sambil mengambil alih kardus dari tangan Jessica.
“Eh..ga usah. Aku masih kuat kok”pinta Jessica
“Udah ga papa..Kamu istirahat aja. Lagian aku mau ke lantai satu juga”ucap Leon.
Jessica tersenyum pada Leon yang sudah mau membantunya.
“Makasih Leon. Kamu memang yang terbaik”puji Jessica dengan senyum mengembang di bibirnya.
Dan saat menatap Rafael, Jessica menatap lelaki tampan itu dengan sinis.
“Yang satu baik kayak malaikat. Yang satu,heeehhhhh…Cuma bikin emosi aja”gerutu Jessica dalam hati
Jessica segera undur diri dan kembali ke dalam kantor. Sementara Leon yang baru saja menggantikan Jessica hendak membawa kardus berisi berkas tadi ke lantai satu. Tiba-tiba,
“Berikan padaku!”perintah Rafael sambil menahan tangan Leon
Leon menoleh pada bosnya. Keduanya saling bertatapan.
“Aku belum angkat beban pagi ini. Biar aku saja yang membawanya. Itung-itung aku latihan angkat beban pagi ini”kelit Rafael.
Leon hanya mengulas senyum lalu menyerahkan kardus itu pada Rafael.
“Tunggu aku di ruanganku!”perintah Rafael pada Leon dengan ekspresi datarnya.
__ADS_1
Akhirnya, Rafael yang membawakan kardus ke lantai satu. Tanpa sepengetahuan Jessica, Rafael dengan rela membantu membawakan kardus berisi berkas yang sudah tidak digunakan ke lantai bawah.
Jessica yang merasa tertolong oleh bantuan Leon berniat membuatkan Leon minuman sebagai balasan atas pertolongannya barusan. Jessica membuatkan Leon kopi hangat yang menjadi andalannya. Semua orang di kantor Amanda mengakui jika Jessica sangat pandai membuat kopi hangat.
Begitu kopi hangat buatannya sudah jadi, Jessica tampak mengulas senyum di bibirnya. Jessica segera membawa keluar ruang pantry. Jessica membawa kopi hangat buatannya ke dalam ruangan Rafael. Diletakkannya di meja yang biasa dipakai Leon.
Begitu selesai meletakkan kopi hangat itu, Jessica hendak keluar ruangan. Tetapi sampai di ambang pintu, pintu dibuka dari luar. Bertepatan dengan Jessica yang hendak membuka pintu.
“Ya ampun..mengagetkan saja”keluh Jessica yang kaget melihat penampakan makhluk yang paling dibencinya sudah berdiri tepat di hadapannya.
“Apa yang kau lakukan disini?”tanya Rafael dengan ekspresi dinginnya sambil merapikan rambutnya ala model iklan shampo.
“Dia lagi”gumam Jessica dalam hati dengan jengah
“Aku hanya meletakkan kopi hangat untuk Leon. Itu saja”ucap Jessica sambil melangkah keluar ruangan Rafael.
Ketika hendak keluar ruangan, langkah kaki keduanya selalu bertemu. Ketika Jessica melangkah ke kanan, Rafael ke kiri. Jessica ke kiri, Rafael ke kanan. Sehingga langkah kaki keduanya selalu bertemu. Membuat keduanya juga jadi emosi. Hingga saling tuduh pun terjadi.
“Enak aja. Kamu itu yang mengikutiku”jawab Rafael tak terima.
“Jelas-jelas kamu ngikutin aku malah ga mau ngaku”keluh Jessica lagi.
“Jangan asal tuduh ya?”gerutu Rafael
“Oke-oke! Kalo gitu aku ke kanan, kamu juga ke kanan. Okey?!”pinta Jessica
Akhirnya keduanya melangkah ke kanan bersama-sama sehingga Jessica bisa keluar dari ruangan Rafael.
Rafael sempat menatap kepergian gadis cantik yang selalu mengajaknya berdebat itu. Rafael tanpa sadar menarik sudut bibirnya melihat Jessica yang terlihat mengoceh sendiri sambil berjalan menjauh dari ruangannya.
__ADS_1
“Gadis aneh”gumam Rafael dalam hati
Rafael pun akhirnya masuk ke dalam ruangannya. Rafael segera menghampiri meja Leon dan melihat kopi hangat buatan Jessica. Rafael memilih duduk di kursi Leon lalu mengambil gelas berisi kopi hangat itu. Dihirupnya aroma kopi hangat itu dalam-dalam.
Dengan hati-hati Rafael menegak kopi hangat buatan Jessica. Tanpa sadar Rafael tersenyum merasakan kopi hangat Jessica yang terkenal enak.
“Pintar juga gadis itu membuat kopi”puji Rafael dalam hati sambil meneguk kopi hangat di tangannya.
Leon masuk ke dalam ruangan dan melihat bosnya duduk di mejanya.
“Kenapa bos duduk disini?”tanya Leon sambil menghampiri Rafael.
“Gadis berisik itu membuatkanmu kopi”ucap Rafael dengan santainya.
“Oh ya..Jessica membuatkan aku kopi?”tanya Leon
“Siapa lagi gadis berisik di kantor ini?”sahut Rafael sambil meneguk kopi hangat itu dengan santainya.
“Tapi kenapa kau yang meminumnya bos? Kopi itu kan buat aku”keluh Leon sambil mengerucutkan bibirnya
Karena Rafael dengan santainya menghabiskan kopi hangat buatan Jessica tanpa merasa bersalah.
“Aku haus. Kau kan bisa buat sendiri”jawab Rafael dengan entengnya
“Bilang aja bos memang ingin minum kopi buatan Jessica”gerutu Leon
Rafael yang tidak terima dengan tuduhan Leon segera meletakkan kopi buatan Jessica di atas meja.
“Siapa bilang? Aku haus makanya aku minum saja kopi ini”jawab Rafael dengan cepat.
__ADS_1
“Masih juga tak mau mengaku”gumam Leon dalam hati
Leon akhirnya memilih tak berdebat lagi dengan bosnya yang memang dia kenal sejak dulu memiliki tingkat gengsi yang sangat tinggi menjulang. Selain tingkat kenarsisan yang akut, Rafael juga memiliki gengsi yang sangat tinggi. Karena itu, Leon memilih diam saja. Membiarkan Rafael menghabiskan kopi hangat buatan Jessica.