
“Kau kenapa? Sejak tadi diam saja”tanya Rafael saat keduanya sudah berada di mobil dalam perjalanan pulang menuju apartemen Rafael
“Hah..tidak ada apa-apa. Fokuslah menyetir!”pinta Jessica sambil mengalihkan tatapan matanya menatap pemandangan kota Paris di luar kaca jendela mobil.
“Sebenarnya ada apa denganku? Kenapa hatiku selalu bergetar karena dia?”gumam Jessica sambil melirik lelaki tampan yang sedang fokus menyetir itu.
Bahkan menatap lengan kekar Rafael membuat Jessica hanya bisa menelan ludahnya dengan perlahan. Tubuhnya mendadak terasa panas hanya dengan melihat lengan kekar lelaki tampan pemilik tubuh atletis itu.
“Aku tak bisa begini terus. Aku harus memastikannya”tekad Jessica dalam hati
Begitu sampai di gedung apartemen mereka, Rafael membuka pintu tengah mobil mengambil beberapa tas belanjaan yang mereka beli di supermarket tadi. Jessica masih juga diam sepanjang perjalanan menuju apartemen.
“Sebenarnya dia kenapa? Kenapa dia mendadak diam seperti itu?”gumam Rafael sambil melirik ke arah gadis cantik yang berdiri sedikit di depannya
Begitu sampai di apartemen, Rafael segera membuka pintu dan membawa masuk tas belanjaan mereka tadi. Rafael hendak masuk ke dalam namun tiba-tiba tangannya ditahan dari belakang. Rafael menoleh ke belakang. Dilihatnya Jessica yang menahan tangannya.
“Tunggu sebentar! Ada yang ingin aku pastikan”pinta Jessica sambil berjalan mendekat ke arah Rafael.
Jessica berdiri tepat di depan Rafael. Jessica sedikit berjinjit dan mendekatkan wajahnya ke wajah Rafael. Jessica memejamkan matanya sesaat.
“Cuupppp”
Jessica mencium bibir Rafael. Membuat lelaki tampan itu membeku sejenak merasakan ciuman singkat Jessica di bibirnya. Jessica menggigit bibir bawahnya setelah memberikan ciuman singkat di bibir Rafael. Lelaki yang akhir-akhir ini menggetarkan hatinya.
Tak ingin kehilangan momen, Rafael dengan sigap langsung melingkarkan sebelah tangannya di pinggang Jessica dan mendekatkan tubuh gadis cantik itu hingga tubuh keduanya tak berjarak. Kali ini Rafael yang ingin mencium bibir gadis cantik itu.
“Mm..mmuachhh”
Keduanya berbalas ciuman hangat berdua. Mengulang ciuman hangat yang mesra seperti yang pernah mereka lakukan beberapa kali. Jantung keduanya berdegup sangat kencang dengan nafas yang memburu seiring ciuman hangat di antara keduanya. Keduanya tampak menikmati pertautan bibir mereka. Perasaan hangat menjalar di hati masing-masing.
Rafael melepaskan pertautan bibir di antara keduanya dan menatap hangat ke dalam mata indah Jessica. Keduanya sama-sama tersenyum setelah melewati rentetan ciuman hangat yang menghangatkan hati keduanya. Rafael bahkan menggenggam tangan Jessica dan gadis itu tak menolaknya. Rafael mengajak Jessica masuk ke dalam. Baru beberapa langkah berjalan, Rafael berhenti mendadak. Membuat Jessica menatap Rafael penuh keheranan.
“Kenapa tiba-tiba berhenti?”tanya Jessica sambil menoleh ke arah Rafael
Begitu melihat ke depan, mata Jessica langsung terbelalak dengan sempurna. Bahkan mata indah itu seolah akan keluar dari tempatnya. Tanpa sadar mulut Jessica menganga namun segera ditutupnya dengan sebelah tangannya. Jessica bahkan menahan nafasnya saking kagetnya. Rafael juga salah tingkah karena kini di depan mereka, lebih tepatnya di ruang tamu, sudah ada Elizabeth dan kedua orangtua Jessica, Hanna dan Jerry yang menatap keduanya.
“P-papa? M-mama?”sapa Jessica dengan terbata-bata melihat kedua orangtuanya duduk sambil menatap keduanya.
Wajah Jerry tampak mengeras. Sementara Elizabeth dan Hanna terus tersenyum setelah melihat adegan mesra dua anak manusia yang sudah berstatus tunangan itu.
“Kenapa kalian berdiri saja di sana? Kemarilah! Duduk di sini!”ajak Elizabeth
__ADS_1
Rafael dan Jessica yang masih bergandengan tangan, akhirnya berjalan berdua menuju ruang tamu dan duduk bersama keluarga mereka. Hanna langsung memeluk putri sulungnya itu. Jessica membalas pelukan Hanna sambil sesekali melirik ke arah Rafael. Jessica malu setelah ketahuan berciuman mesra dengan Rafael di depan kedua orangtuanya dan nenek Elizabeth. Meskipun ketika acara pertunangan mereka juga berciuman, namun ciuman saat itu lebih singkat. Sementara ciuman yang tadi mereka lakukan berlangsung dalam waktu yang cukup lama.
Jessica dengan malu-malu memeluk tubuh papanya yang terlihat menahan marah. Rafael dan Jessica duduk bersebelahan.
“Kapan papa dan mama sampai?”tanya Jessica
“Belum lama. Begitu mendapat kabar darimu, papa dan mama langsung menghubungi Victor. Kami langsung diantar kemari menggunakan helicopter pribadi milik Victor”sahut Hanna
“Kau baik-baik saja kan sayang?”tanya Hanna sambil mengamati keadaan Jessica
Jessica mengusap pelan punggung tangan Hanna.
“Aku baik-baik saja. Mama tenang saja”pinta Jessica
“Raf, terimakasih kau sudah menjaga Jessica. Mama tak tahu apa jadinya jika tidak ada kamu waktu itu”ucap Hanna berterimakasih
“Mama tidak usah sungkan. Sudah seharusnya saya menjaga Jessica”jawab Rafael sambil menoleh ke arah Jessica dengan tatapan mata yang lembut sambil menggenggam tangan Jessica
Jessica membalasnya sambil tersenyum.
“Apa kau sudah menemukan penguntit itu?”tanya nenek Elizabeth
“Kenapa kau tak meminta bantuan kakekmu? Kakek pasti akan dengan mudah mendapatkan informasi penguntit kurang ajar itu”geram Elizabeth
“Aku tak ingin menyusahkan tuan besar”sahut Rafael
Jerry yang sejak tadi diam akhirnya membuka mulutnya.
“Rafael dan Jessi putriku”panggil Jerry
“Iya pa”sahut Jessica
“Tadi papa, mama dan nenek Eliz sudah berdiskusi bersama sebelum kalian datang. Kami memutuskan...akan mempercepat pernikahan kalian”ucap Jerry
“Apa?”tanya Rafael dan Jessica hampir bersamaan
Bahkan Jessica membelalakkan matanya mendengar penuturan sang papa.
“Kenapa kalian harus kaget seperti itu? Bukankah ini berita yang sangat bagus?”tanya Elizabeth melihat ekspresi keduanya yang sangat terkejut
“Tapi kenapa pa? Bukankah kami akan menikah dua bulan lagi?”tanya Jessica
__ADS_1
“Papa sudah memikirkan ini selama perjalanan kemari. Memikirkan kalian tinggal berdua di apartemen ini, tanpa ikatan pernikahan membuat papa merasa tidak nyaman. Meskipun kalian sudah bertunangan, tapi tetap saja itu bukan hal yang baik. Laki-laki dan wanita lajang tinggal berdua di apartemen yang sama”jelas Jerry panjang lebar
“Tapi pa, kami tidak melakukan apa-apa. Kami juga tidur di kamar yang berbeda”sahut Jessica
“Jessi sayang, meskipun kalian sudah bertunangan, tetapi tinggal berdua tanpa ikatan pernikahan tidak sesuai dengan norma dan prinsip dalam keluarga kita. Itu sama saja dengan istilah kumpul kebo. Mama dan papa ingin kalian bisa resmi menikah, sehingga papa dan mama bisa tenang melepasmu pada suamimu yang pasti akan menjaga dan melindungimu. Iya kan Raf?”tanya Hanna pada Rafael.
“Iya ma”sahut Rafael
“Apalagi kalian tadi sudah..”
Hanna tidak meneruskan ucapannya. Hanna malah tersenyum sambil melirik Elizabeth.
“Jika kalian sudah resmi menikah, kalian bebas melakukan apapun juga. Termasuk yang kalian lakukan tadi”goda Hanna sambil tertawa kecil
Jessica langsung tertunduk lesu. Niatnya yang semula ingin mengetahui dan memastikan perasaannya pada Rafael, kini justru membawa kedua pasangan itu pada rencana pernikahan yang dimajukan dari jadwal.
“Jujur papa tidak suka melihat apa yang tadi kalian lakukan. Karena bagaimanapun kalian belum resmi menikah. Kalian baru bertunangan. Bukan berarti kalian sudah bebas bermesraan seperti tadi”ucap Jerry jujur mengungkapkan ketidaksukaannya dengan tatapan tajam pada keduanya
“Maaf pa”sahut Jessica sambil tertunduk malu
“Jadi, kapan kita bisa menikahkan mereka? Aku akan mengatur semuanya”sahut Elizabeth bersemangat
“Bagaimana kalo tiga hari lagi?”tanya Elizabeth
“Apa?”pekik Jessica kaget dengan mata terbelalak
“Sepertinya itu ide yang baik. Semakin cepat semakin baik, iya kan pa?”tanya Hanna pada Jerry
“Tiga hari lagi?”gumam Jessica dalam hati
Rafael yang sejak tadi diam, justru merasa sangat bahagia mendengar permintaan Jerry untuk menikahkan mereka. Keinginnya untuk bersanding dengan Jessica lebih cepat dari perkiraannya.
Jessica menyenggol tubuh Rafael.
“Apa?”tanya Rafael dengan suara lirih
“Kenapa kau diam saja? Bicara lah sesuatu”pinta Jessica
Jessica masih berharap Rafael akan membantunya. Meskipun pernikahan keduanya tidak bisa dihindarkan, tetapi setidaknya Jessica memiliki waktu dua bulan untuk mulai mengenal Rafael. Lelaki yang akan menjadi suaminya. Jessica berharap dengan semakin mengenal satu sama lain, perasaan keduanya akan tumbuh dan mereka bisa menikah dengan perasaan cinta di hati masing-masing.
Jessica selalu memimpikan menikah dengan lelaki yang dicintainya dan yang mencintainya. Sehingga meskipun dia memiliki perasaan khusus pada Rafael, namun Jessica belum tahu perasaan Rafael padanya. Benarkah Rafael mencintainya ataukah Rafael tak memiliki perasaan apapun pada dirinya? Semuanya belum jelas terungkap namun kini mereka sudah dihadapkan pada rencana pernikahan mereka yang justru akan dipercepat.
__ADS_1