
17 tahun kemudian,
Mario terdiam di depan ruangan ICU kala melihat pemandangan yang begitu amat menyakitkan untuknya. Beberapa hari lalu ia tak sengaja menabrak seorang pria yang seusia dengannya hingga jatuh koma dan saat ini pria itu menghembuskan nafas terakhirnya.
"Ayah...!" teriak seorang gadis remaja berusia sama dengan anak kembar Mario, siapa lagi kalau bukan Arash dan Arish. Ia menangisi kepergian Ayahnya.
"Mas..." sapa Mentari pelan yang membuat Mario menoleh ke arah sumber suara.
"Sayang, kenapa Kau disini ?" ucap Mario terperangah melihat kehadiran istrinya, padahal ia tidak memberitahu masalah ini pada istrinya.
Bukan Mentari namanya kalau tidak mengetahui apa yang dilakukan dan dikerjakan oleh suaminya di luar rumah. Sepandai apa pun Mario menyembunyikan sesuatu padanya, Mentari pasti tahu.
"Apa yang tidak Ku ketahui tentang suami Ku ?" kata Mentari pelan namun mampu menghunus hati Mario.
"Maaf kan Aku, Yank. Bukan maksud Ku untuk tidak memberitahu Mu." kata Mario
"Itu tidak penting Mas, sekarang yang terpenting bagaimana cara Mas mempertanggung jawabkan perbuatan Mas. Ingat Aku dan kedua anak Kita masih membutuhkan Mu, Mas." kata Mentari dengan suara bergetar. Ia begitu takut dengan keadaan saat ini, takut jika Mario bisa saja di penjara karena perbuatannya.
Saat keduanya tengah bicara sambil menatap lurus pemandangan duka tersebut. Tiba-tiba datanglah seorang wanita dan anak remaja perempuan menghampiri pria yang sudah meninggal itu. Mereka begitu bersedih atas kepergian pria tersebut.
Dua hari berlalu,
Mario dan Mentari datang ke rumah pria yang tak sengaja ia tabrak tersebut dengan maksud baik, bahkan ia membawa pengacara pribadinya. Namun saat mereka tiba di rumah pria yang ia tabrak itu, mereka disuguhkan sebuah pemandangan yang tak mengenakkan.
"Keluar dari rumah Ku !" kata Sita, dia adalah istri ke dua dari pria yang tak sengaja Mario tabrak, namanya Anton.
"Ibu." Melati menangis saat Ibunya melemparkan tas yang berisi pakaiannya ke luar rumah.
__ADS_1
"Aku bukan Ibu Mu ! Ibu Mu sudah mati !" bentak Sita. Sebenarnya ia sudah lama ingin mengusir Melati dari rumahnya, namun karena Anton masih hidup ia tak bisa melaksanakan keinginannya. Karena sejatinya ia menikah dengan Ayah Melati karena ingin menguasai hartanya saja.
"Ibu, tolong jangan usir Aku !" isak tangis Melati begitu menyedihkan sebab baru saja ia kehilangan sosok Ayahnya kini ia harus dihadapkan oleh Ibu tirinya yang tega mengusir dirinya dari rumahnya sendiri.
"Kau itu bukan Anak Ku ! Untuk apa Aku menampung Mu !" sarkas Sita
"Kenapa Ibu berubah saat Ayah sudah tidak ada ? Kenapa Ibu jadi seperti ini sekarang ?" tanya Melati, ia pun heran dengan sikap Ibu tirinya yang tiba-tiba berprilaku kasar dan jahat padanya.
"Aku memang seperti ini, Kau dan Ayah Mu saja yang tidak tahu ! Pokoknya sekarang juga Kau pergi dari rumah Ku ! Pergi !" usir Sita dengan membentak-bentak Melati tanpa rasa iba sedikit pun.
Mario dan Mentari yang menyaksikan itu begitu kesal dengan perlakuan Ibu sambung Melati. Mereka lantas menghampiri Melati dan Sita.
"Ada apa ini ?" kata Mario dan Mentari pun mencoba membantu Melati untuk berdiri.
"Paman..Bibi.." lirih Melati
"Anda sudah membuat suami Ku meninggal, Aku tidak akan tinggal diam, Aku akan melaporkan Anda ke polisi dan Anda akan di penjara !" ancam Sita, ia mengatakan itu karena ada udang dibalik bakwan. Ia tahu Mario orang kaya pasti ia merencanakan niat jahat pada Mario dengan mengatas namakan almarhum suaminya, Anton.
Mendengar Sita yang akan memenjarakan Mario, Mentari tentu tidak akan tinggal diam, pasalnya siapa yang mau melihat suami masuk penjara.
"Nyonya Sita, kita bisa membicarakan ini secara kekeluargaan." balas Mentari pelan.
"Bilang saja kalau tidak mau masuk penjara !" kata Sita dengan sinis.
"Klien Kami akan menuruti semua permintaan Anda jika Anda mau memaafkan klien Kami dan tidak membawa masalah ini ke jalur hukum." kata pengacara
Sita terdiam dan tampak memikirkannya, tentu saja ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan tersebut, sebab harta peninggalan Anton hanya tersisa rumah dan tanah sepetak yang ada dibelakang rumah serta uang yang hanya bersisa 20 juta. Sita tentu saja merasa kurang dengan harta peninggalan Anton tersebut.
__ADS_1
"Baik, kalau begitu kita bicara di dalam !" kata Sita namun masih dalam mode arogan pada Mario dan Mentari serta pengacaranya.
Saat mereka berada di ruang tamu, mulai lah mereka berbicara serius.
"Apa pun permintaan Anda, akan klien Kami kabulkan jika Anda juga menuruti permintaan klien Kami." kata pengacara tersebut pada Sita.
"Benar kah ?" jawab Sita tentu saja dalam hatinya sudah bersorak kegirangan.
Mario dan Mentari menganggukkan kepala mereka sebagai bentuk jawaban pada Sita.
"Kalau begitu Aku ingin tanah yang ada di jalan XX dan juga rumah yang ada di jalan XX lengkap beserta isinya, uang 500 juta dan juga mobil merek Tesla !" kata Sita dengan lantang yang membuat Melati tercengang mendengarnya.
"Ibu !" batah Melati karena permintaan Ibu tirinya tersebut menurutnya sudah berlebihan dan termasuk memeras keluarga Mario.
"Diam Kau, Kau tidak perlu ikut campur dalam urusan ini !" sentak Sita pada Melati.
"Baik akan Ku kabulkan permintaan Anda, Nyonya !" kata Mario cepat, apa yang diminta oleh Sita tentu tidak seberapa untuknya.
Sita terdiam, ia sejenak menyesal telah mengatakan itu seharusnya ia mengatakan permintaan yang begitu besar pada Mario. Namun apa boleh buat, ia sudah mengatakannya. Mau tidak mau perjanjian diantara mereka pun terjadi, Sita tidak boleh menuntut Mario dan membawa masalah tersebut ke jalur hukum, sebab Mario sudah mengabulkan permintaan Sita.
"Jika anda mengingkari janji bahkan memeras klien Kami dikemudian hari, maka surat perjanjian ini akan menjadi bukti dan Anda bisa dituntut balik atas dasar penipuan dan pemerasan terhadap klien Kami." kata pengacara tersebut pada Sita menunjukkan surat perjanjian tersebut di hadapan Sita.
"Waduh !" Sita tercengang padahal ia sudah berencana jika suatu saat duit yang berikan oleh Mario habis, ia ingin meminta lagi dengan Mario. Namun sayang ternyata ia terjebak di dalam permainannya sendiri.
Mario menarik sudut bibirnya membentuk senyuman kecil ia sudah menebak seperti apa tabiat wanita yang ada di hadapannya itu, pasti tidak jauh-jauh dari persoalan duit dan harta. untuk itu ia sudah membuat persiapan agar tidak jatuh dalam jebakan Batman Sita.
"Kena Kau, dasar wanita matre !" kata Mario dalam hati.
__ADS_1
...****************...