
“Yank, bangun lah. Mas kangen, nih !” Mario merengek ini sudah lima hari Mentari koma dan belum menunjukkan tanda-tanda Mentari akan bangun.
Mario menangis tergugu, sebenarnya kata Dokter Mentari perlu terus diajak bicara walaupun Mentari belum membuka mata, tapi Mentari masih bisa mendengar apa yang orang bicarakan.
“Yank, Kau pasti mendengar, Ku kan ? Yank Aku kangen, kangen dipeluk, kangen dimanja apalagi Burio Ku juga kangen masuk sarangnya, Yank !” kata Mario mencoba terus mengajak Mentari berkomunikasi meskipun Mentari tak menjawabnya.
“Yank, apa Kau tahu buah semangka kita sudah lahir. Mereka sangat tampan seperti Ku, Kau jangan marah kalau dua putra kita tidak mirip dengan Mu, sebab paras mereka ternyata sama seperti Ku !”
“Yank, apa Kau tahu, Aku sudah menyiapkan rumah yang indah untuk kita dan anak-anak kita, Kau pasti menyukainya karena Aku juga menyiapkan tempat memelihara sapi disana, karena itu adalah hobi Mu.”
“Yank, bangun Yank…” Mario pasrah ia sudah berusaha, namun hasilnya tetap nihil sepertinya Mentari sangat damai dalam tidurnya.
Tak lama datanglah David bersama dengan Melisa, dengan susah payah Melisa berhasil membujuk David agar mau menjenguk istri Mario dan melihat anak-anak Mario, walau bagaimana pun Melisa pikir David dan Mario adalah saudara sepupu, Ibu David dan Helena bersaudara.
Mario melihat kedatangan David dan Melisa, ia menatap David biasa-biasa saja tak ada raut kebencian dihati dan dimata Mario untuk David, karena tidak ada lagi yang perlu dipermasalahkan oleh Mario untuk David.
__ADS_1
“Apa kabar Mu, Mario. Bagaimana keadaan Mentari, apa istri Mu sudah ada kemajuan ?” tanya Melisa ia ikut prihatin terhadap Mentari, ia berharap semoga Mentari segera bangun dari masa komanya.
“Seperti yang Kalian lihat, istri Ku masih seperti ini sudah lima hari berlalu.” Jawab Mario.
“Semoga istri Mu lekas bangun dari masa komanya.” Kali ini David membuka suara, tentu saja David sedikit merasa kasihan melihat kondisi istri Mario.
“Aamiin, terimakasih !” jawab Mario pelan.
Tiba-tiba dua orang perawat membawa masuk box bayi Mario, karena permintaan Mario tadi pagi, Mario ingin kedua anaknya berada disisi Mentari untuk memberikan rangsangan agar Mentari segera bangun dari masa komanya.
“Siapa nama mereka ?” tanya Melisa sambil memegang salah satu tangan anak Mario.
“Arash dan Arish” jawab Mario.
“Nama yang indah, lihat David mereka lucu kan ?” tanya Melisa yang mencoba membuat David mengalihkan perhatiannya pada Arash dan Arish.
__ADS_1
“Iya !” jawab David dengan datar, apa yang lucu menurut David, sebab ia melihat Arash dan Arish biasa-biasa saja.
“Ajak istri Mu pergi liburan, David. Siapa tahu Kau segera memiliki anak seperti Ku.” Ucap Mario pelan, entah tersinggung atau tidak Mario mengatakan itu pada David yang jelas ia hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk rumah tangga David, terutama untuk David Mario berharap jika David segera berubah dan tak lagi memilih jalan yang salah.
“Iya, benar apa yang dikatakan oleh Mario. Kita harus pergi liburan, Aku tidak sabar ingin punya anak.” Jawab Melisa dengan santainya hingga David hanya bisa tersenyum, senyum yang mengandung arti di dalamnya.
“Oh, ada tamu rupanya ?” ucap Helena saat ia masuk ke dalam kamar Mentari.
“Apa kabar David ?” tanya Helena dengan lembut, lain hal saat melihat Melisa ia seakan cuek pada Melisa, meskipun putranya sudah bahagia bersama Mentari, Helena masih saja tidak menyukai Melisa sebab dari dulu ia sangat tidak menyukai wanita itu.
“Kabar Ku baik, Bibi !” balas David.
“Tidak menyangka, ya Kita bisa bertemu lagi Kau sudah menjadi pria sukses yang paling sibuk. Terakhir kita bertemu di Dubai dua bulan lalu.” Ucap Helena dengan renyah. Hingga membuat David terdiam dan Melisa menoleh ke arah David.
“Dubai ? Dua bulan lalu ?” ucap Melisa dalam hati sambil menatap David yang tengah bicara pada Mommy Mario.
__ADS_1
...****************...