
“Baik kalau begitu, Saya terima kesepakatannya !” kata Sita mau tidak mau ia harus menyetujui kesepakatan diantara dirinya dan Mario. Meskipun ia belum puas tapi dari pada tidak dapat duit sama sekali lebih baik dirinya menerima saja.
“Kalau begitu Kami pamit, permintaan Nyonya akan Kami berikan besok pagi kunci rumah, sertifikat tanah, mobil dan uang senilai 500 juta akan Kami berikan !” kata pengacara Mario.
“Oke, Saya tunggu !” kata Sita dengan angkuhnya.
Saat Melati ingin membawa masuk kopernya tiba-tiba Sita melarang Melati untuk menginjakkan kaki di rumahnya.
“Mau Kau bawa kemana koper itu ?” kata Sita cepat. Hingga membuat Mario dan Mentari saling menatap Sita dan Melati.
“Keluar Kau dari rumah Ku !” usir Sita tanpa perasaan.
“Ibu, Aku harus tinggal dimana ?” Melati kembali meneteskan air matanya.
“Bukan urusan Ku, Kau itu bukan anak Ku apa pedulinya untuk Ku !” jawab Sita.
“Ibu…”
“Mas, kasihan sekali gadis itu ?” lirih Melati pada Mario.
Mario pun kemudian maju dan berhadapan dengan Melati.
__ADS_1
“Ikutlah dengan Paman, sebagai bentuk tanggung jawab Paman karena telah bersalah tak sengaja menghilangkan nyawa Ayah Mu.” Kata Mario menatap Melati hingga membuat Sita tercengang.
“Pa..paman tapi..” kata Melati dengan terbata-bata.
“Mau ya, tinggal bersama Paman dan Bibi ? Kami akan membiayai pendidikan Mu sampai Kau Kuliah.” Kata Mario lagi dengan tulus yang tentu saja keputusan yang Mario ambil sangat disetujui oleh Mentari.
Melati terdiam, benar bukan ada baiknya jika ia ikut bersama Mario ia butuh tempat berlindung dan juga ia tak mau putus sekolah. “Baik Paman, Aku ikut dengan Paman !” jawab Melati yang membuat Sita mengepalkan kedua tangannya.
Saat Melati sudah dibawa bersama Mario dan Melati masuk ke dalam mobil mereka lalu meninggalkan kediaman Sita. Sita begitu marah karena Melati nyatanya mendapatkan kehidupan yang lebih layak bersama Mario.
“Ahh…sialan !”
Prang
“Ibu kenapa ?” pekik Mawar.
“Kemana Melati, Melati…Mel…” pekik Mawar memanggil-manggil nama saudara tirinya.
“Tidak usah menyebut-nyebut namanya ! Ibu jijik mendengar nama itu ! Dia sudah Ibu usir dari rumah ini !” kata Sita yang membuat Mawar terkejut mendengarnya.
“Hah ? Ibu mengusir Melati ? Kenapa Bu ?” kata Mawar
__ADS_1
“Untuk apa menampungnya lagi ? Ayahnya sudah tidak ada ! Buang-buang duit saja kalau dia disini Ibu harus mengeluarkan duit untuk makan dia dan sekolah dia, padahal dia bukan anak kandung Ibu !” jawab Sita yang membuat Mawar tepengarah mendengar penuturan dari Ibunya itu.
... ……………...
Melati turun dari mobil ia diam terpaku melihat begitu megahnya rumah Mario. Apalagi saat ia masuk ke dalam rumah semua ornamen yang ada di dalamnya begitu mewah dan banyak sekali pelayan yang bekerja di rumah itu.
“Ini rumah Paman dan Bibi, mulai hari ini Kau tinggal disini bersama Kami ya.” Kata Mentari dengan lembut pada Melati.
“Rumahnya besar sekali, Bibi. Sepertinya kita bisa main bola disini.” Jawab Melati yang membuat Mentari dan Mario terkekeh.
Benar bukan ? Rumah horang kaya sekelas Mario tentu saja besar dan lebar seperti lapangan bola.
Tak lama terdengar suara mobil masuk ke dalam halaman rumah, tentu saja itu adalah Arash dan Arish yang baru saja pulang dari rumah Kakeknya di desa.
“Mama..Papa…” kata keduanya bersamaan.
Mario dan Mentari begitu pun dengan Melati berbalik ke sumber suara. Mario dan Mentari menyambut kepulangan kedua anaknya dengan suka cita.
Berbeda dengan Melati, mata Melati membulat sempurna saat melihat siapa yang datang dan begitu pun dengan orang yang Melati tatap mereka berdua seolah ingin menguliti satu satu sama lain.
“Arash dan Arish, perkenalkan dia Melati, mulai saat ini dia akan tinggal bersama Kita !” kata Mario dengan tegas, yang membuat Arash terkejut bukan main.
__ADS_1
“What !”
...****************...