GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
PASUTRI


__ADS_3

Tiga hari kemudian,


Arash dan Melati kembali ke kediaman Scherzinger sebab Arash harus mulai bekerja sebagai pemimpin perusahaan. Selama tiga hari pasangan suami istri yang tengah dimabuk cinta itu hanya berada dikamar hotel dan bercinta memadu kasih.


Saat keduanya sudah tiba diruang keluarga, Arash dan Melati terkejut melihat Mario dan Mentari membawa koper mereka.


"Papa dan Mama mau kemana ?" tanya Arash.


"Kami mau keliling dunia !" kata Mario hingga membuat mata Arash mendelik.


"Aku baru pulang tiga Minggu, tapi Kalian mau pergi lagi !" protes Arash.


"Memangnya kenapa ? Apa Kami tidak boleh liburan ? Lagi pula Kau sudah menikah, Kau harus menjalani pernikahan Mu bersama Melati dirumah ini !" kata Mentari dengan tegas.


"Tapi Ma..." ucapan Arash terhenti kala Mentari bicara terlebih dahulu.


"Tenang saja, Kami pasti pulang. Tapi nanti kalau Melati tengah hamil !" kata Mentari dengan santainya.


"Mama harus pergi, Sayang. Mama harus mendampingi Papa Mu, Ku harap Kau bisa mengerti ! Kami hanya ingin menikmati masa tua Kami !" kata Mentari dengan lembut pada Melati.


Tentu saja Melati mengerti dan memaklumi diusia mertuanya itu sudah seharusnya mereka menikmati masa tua mereka, wajar saja jika mereka pergi.


"Iya, Ibu. Aku mengerti." Jawab Melati kemudian ia menoleh ke arah suaminya. "Arash sudahlah, Papa dan Mama mau menikmati hidup mereka bukan mau meninggalkan Kita !" kata Melati dengan lembut dan tentu saja Arash kini menjadi penurut, sebab tidak ada orang lain yang bisa meluluhkan hati Arash kecuali istrinya.

__ADS_1


"Ya sudah, tapi Mama harus selalu mengabari Ku !" kata Arash memeluk Mentari.


"Tentu saja, Kau putra Mama yang paling Mama sayangi, Mama pasti akan sering menghubungi Mu !" kata Mentari dengan lembut.


"Lalu, dimana Arish ?" tanya Arash mengalihkan pembicaraan.


"Dia sudah kembali ke Jerman, Kau tahu bukan saudara Mu itu harus mengambil gelar profesinya !" kata Mario


Arash menghela nafasnya. "Dia bahkan tidak bilang pada Ku !" Arash tentu saja merasa kecewa pada Arish sebab mereka belum lama bertemu namun lagi-lagi Arish pergi tanpa pamit.


"Sudah biarkan saja !" kata Mario dengan pelan.


"Ayo kita makan, kalian pasti belum makan. Tadi Mama sudah masak sebelum mau pergi hari ini !" kata Mentari mengajak anak dan menantunya untuk makan siang bersama.


"Hati-hati, Ibu, Papa. Semoga selamat sampai tujuan !" kata Melati memeluk Mentari dan Mario secara bergantian.


"Baik-baik dirumah bersama Arash, okey ?" kata Mentari membalas pelukan Melati.


"Jaga baik-baik istri Mu, Arash dan juga perusahaan !" kata Mario pada Arash.


"Tentu saja, Pa !" kata Arash setelah memeluk Mario.


Arash dan Melati melambaikan tangan mereka saat kedua orang tuanya sudah pergi meninggalkan halaman rumah. Keduanya kemudian masuk ke dalam namun siapa sangka Arash malah menggendong tubuh Melati hingga Melati terpekik kaget.

__ADS_1


"Arash ?!


"Jangan berteriak, nanti saja kalau sudah dikamar !" Arash mengedipkan satu matanya ke arah Melati hingga membuat Melati mengerucutkan bibirnya.


"Apa tidak lelah, tiga kita habiskan waktu cuma untuk bercinta !" kata Melati pelan sambil memainkan jarinya di dada bidang Arash.


"Aku tidak pernah merasa lelah jika sudah bersama Mu !" kata Arash menekan tombol lift untuk menuju kamar mereka.


"Dasar mesum !" kata Melati meledek.


"Tapi Kau menyukainya, kan !" Arash balik meledek.


"Ya..ya..Kau memang selalu.."


"Apa ?" tanya Arash cepat


"Mesum !" kata Melati dengan terkekeh.


"Kau memang harus dihukum sayang !" Arash keluar dari lift dan masuk ke dalam kamar menutup pintu kamarnya dengan menggunakan kakinya. Tanpa memperdulikan para pelayan yang ada di lantai tersebut sedang melakukan tugas mereka membersihkan rumah.


Para pelayan tersebut hanya bisa menutup mulut mereka melihat kelakuan Tuan Muda rumah itu bersama istrinya.


Benar-benar pengantin baru yang masih hot-hotnya !

__ADS_1


...****************...


__ADS_2