
Semua mata para siswa menatap ke arah gerbang sekolah dimana Melati keluar dari mobil mewah.
"Ro..Rolls..Royce" kata salah satu siswa dengan suara terbata-bata karena melihat Melati keluar dari mobil mewah sejagat raya tersebut.
"War, sodara Mu War !" senggol teman Mawar.
Mawar pun terdiam kala melihat saudari tirinya itu keluar dari mobil mewah itu. Apalagi tiba-tiba seorang laki-laki memakai seragam sekolah elit juga keluar dari mobil tersebut.
"Gantengnya..." puji salah satu teman Mawar yang melihat ketampanan Arish bak kesatria maling selendang. Maling selendang ? Jadi inget Bapaknya si Mario maling beha 🤣
"Jadi ini sekolah Mu." Kata Arish melihat sekolah Melati walaupun dari depan gerbang sekolah tapi ia sudah bisa menebak pasti anak-anak seusianya yang sekolah disana anak-anak dari keluarga yang ekonominya kelas menengah dan ke bawah.
"Iya." jawab Melati lembut.
Arish pun menganggukkan kepalanya. "Kalau begitu Aku berangkat lagi ya !" kata Arish
"Hati-hati !" jawab Melati kemudian ia masuk ke dalam sekolahnya setelah mobil Arish
"Melati, Kau sekarang dimana ? dan itu tadi siapa ?" Mawar menodong Melati dengan pertanyaan.
"Itu tadi anak Paman Mario." jawab Melati apa adanya.
__ADS_1
"Paman Mario ?" Mawar mengerutkan keningnya karena ia baru mendengar nama itu. "Siapa dia ?" tanya Mawar lagi.
"Dia...." belum sempat Melati meneruskan perkataannya, tiba-tiba salah satu guru killer yang mengajar di sekolah itu masuk ke dalam kelas Melati dan mereka harus memulai pelajaran.
****************
2 bulan kemudian,
"Kenapa Arish ?" Mario begitu terkejut mendengar penuturan Arish kalau dia ingin pindah ke sekolah Melati.
"Tidak apa-apa, Pa. Aku pengen pindah saja." jawab Arish sebab dia pun bingung harus memberikan alasan seperti apa pada Mario prihal keinginannya untuk pindah ke sekolah Melati.
"Papa tidak menyetujui jika Kau pindah sekolah. Seharusnya Kau fokus pada ujian sekolah nanti, sebab setelah lulus SMA Kau dan Arash akan Papa kirim ke London untuk kuliah agar bisa meneruskan perusahaan Papa !" kata Mario dengan tegas.
"Tapi Aku tidak mau berkecimpung di perusahaan, Pa." tolak Arish sebab cita-citanya bukanlah menjadi seorang pengusaha melainkan ia ingin menjadi seorang Dokter seperti sang Bibi, Paula.
"Jangan membantah orang tua, Arish !" jawab Mario kini percakapan diantara Ayah dan Anak itu menjadi panas sebab keduanya saling bersitegang dengan keputusan masing-masing.
"Tapi Papa juga tidak bisa melarang Aku dan mengatur-atur Aku, Pa !" bantah Arish ia tentu saja akan mempertahankan keinginannya untuk kuliah kedokteran nanti.
"Kau sudah berani melawan Papa, Arish." Mario menekankan kata-katanya, ia menjadi kesal sendiri karena putranya tidak mau menurut padanya.
__ADS_1
"Aku tidak melawan Papa, hanya saja Aku ingin mempertahankan hak Ku untuk masa depan Ku !" balas Arish namun dalam mode arogansinya.
Arash yang melihat Mario dan Arish terus bersitegang, ia pun menjadi kesal dan menganggap keributan yang terjadi karena ulah Melati. Jika saja Melati tidak hadir di tengah-tengah keluarga mereka tentu Arish tidak akan seberani itu melawan Mario.
Arash pun kemudian berjalan ke lantai dua dan masuk ke dalam kamar Melati tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"A..Arash !" kata Melati dengan terbata-bata karena ia terkejut melihat Arash masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Apa yang Kau berikan pada Arish ? Sampai dia berani melawan Papa Ku ?" ucap Arish dengan suara beratnya dan menatap tajam Melati.
"Hah ? Apa maksudnya?" tanya Melati bingung.
"Jangan berpura-pura bodoh, dasar gadis bar-bar !" maki Arash.
"Aku tidak mengerti maksud Mu, Apa yang Kau bicarakan ?" bantah Melati
"Arish menyukai Mu, dan dia sampai ingin pindah ke sekolah Mu !" bentak Arish yang membuat Melati semakin terkejut.
"Apa ?!"
****************
__ADS_1