
"Happy graduations, adik-adik Ku yang cantik !" ucap Mario dalam sambungan video call, ia dan Mentari tidak pergi ke Paris menghadiri acara wisuda Paula dan Mikaila karena Mario mengkhawatirkan kesehatan calon anaknya yang masih sebiji kacang ijo.
"Terimakasih Kakak Kami yang tampan !" jawab Paula dan Mikaila
"Wah, Aku jadi tak sabar pengen cepet wisuda, Mas !" sahut Mentari yang ikut bahagia melihat dua adik iparnya yang telah memakai jubah sarjana.
"Sabar Yank, empat tahun lagi istri Ku yang cantik ini jadi sarjana !" jawab Mario memberikan semangat pada Mentari.
"Aamiin."
... ...................
"Jangan takut Yank, enam orang itu bertugas menjagamu di kampus. Mereka akan mengikuti Mu dari jarak jauh." ucap Mario saat ini ia mengantar Mentari ke kampus.
Mentari menganggukkan kepalanya, ia mengerti mengapa suaminya memberikan pengawalan untuknya karena suaminya takut jika terjadi lagi hal-hal yang tak di inginkan seperti kemarin-kemarin padanya.
"Jangan bilang kalau suami Mu ini overprotektif, Aku melakukannya karena Aku sayang pada Mu, Yank, dan juga kacang ijo kita !" pungkas Mario ia akan memberikan yang terbaik untuk istri dan calon anaknya.
"Iya Mas, terimakasih." Mentari langsung memeluk Mario dan Mario membalasnya dengan mendaratkan kecupan di kening Mentari.
Setelah melewati perjalanan yang cukup panjang, mobil Mario tiba di depan gerbang kampus.
__ADS_1
"Hati-hati dijalan Mas."
Cup
Mentari mengecup pipi Mario sekilas hingga Mario tersenyum manis.
"Kau juga hati-hati, Yank !" Mario mengelus pucuk kepala Mentari sebelum Mentari keluar dari mobilnya.
Setelah Mentari keluar dari mobil dan mobil Mario melaju meninggalkan gerbang kampus. Mentari berjalan menuju kelasnya, saat di perjalanan ia langsung disambut oleh Bunga yang tiba-tiba memeluknya.
"Mentari...! Aku kangen !"
"Iihh.. Kok Aku jadi risih ya ?" jawab Mentari sambil terkekeh mengatakannya.
"Oke... Oke !"
"Mentari, Aku hamil !" celetuk Bunga
"Hah ?" Mentari langsung menoleh ke arah Bunga.
"Aku akan memberikan kejutan pada Tuan Albert." ucap Bunga sambil tersenyum manis, ia begitu bahagia akhirnya ia bisa hamil anak Albert.
__ADS_1
Ada rasa bahagia dan juga khawatir di hati Mentari mendengar penuturan Bunga kalau Bunga tengah mengandung anak Albert, sebab Albert tidak mencintai sahabatnya itu.
"Selamat, Ya Bunga, Kau akan menjadi Ibu seperti Aku." jawab Mentari mencoba ikut bahagia dan memeluk Bunga.
"Aku jadi tidak sabar untuk bertemu dengan Tuan Albert." jawab Bunga penuh antusias.
Saat keduanya berjalan menuju kelas Mentari melihat Bara yang menatapnya datar tanpa ekspresi tak seperti kemarin-kemarin. Biasanya Bara akan mendekatinya dan mencari perhatiannya. Bahkan kini Bara acuh terhadap Mentari dan lebih memalingkan muka serta pergi dari hadapan Mentari.
"Kak Bara ?!" panggil Mentari hingga Bara menghentikan langkah kakinya.
Mentari pun mendekati Bara. "Bisa kita bicara ?"
"Tidak perlu, karena tidak ada yang harus Aku dengarkan. Aku sudah tahu semuanya. Aku tidak akan mengganggu Mu lagi, apalagi mengharapkan Mu." jawab Bara dengan tegas, sakit memang rasanya tapi Bara sudah ikhlas dan menerima kenyataan jika dirinya tidak pantas untuk Mentari.
Mentari terdiam, bahkan setelah kepergian Bara pun Mentari hanya bisa menatap punggung Bara yang semakin menjauh dari pandangan matanya.
"Dia sudah tahu kalau Kau punya suami." ucap Bunga
Mentari kini mengerti mengapa Bara menjauhinya, mungkin Mario telah menjelaskan semuanya pada Bara. Hingga kini Bara tidak lagi mengejar-ngejarnya.
"Kalau Aku masih gadis, Aku pasti mengejar-ngejar dia. Sayangnya Aku gadis bukan janda juga bukan." ucap Bunga sambil terkekeh
__ADS_1
Mentari pun ikut terkekeh mendengarnya.