
"Enak ya sekarang hidup Mu, Melati." Sita menyunggingkan senyuman mengejek pada mantan anak tirinya itu.
"Ib..Ibu.." Melati terkejut karena sudah lama ia tak berjumpa lagi dengan Sita semenjak Sita mengusirnya dari rumah mereka.
Sita memperhatikan Melati dari bawah sampai atas, Sita diam ternyata Melati benar-benar sudah menjadi anak orang kaya.
"Wah...nasibnya benar-benar berubah 180 derajat, Ini tidak adil seharunya Mawar juga bisa merasakan hidup mewah dan enak sepertinya !" batin Sita bergemuruh kala iri melihat perubahan Melati.
"Ib..ibu apa kabar ?" tanya Melati, biar pun ia pernah diusir oleh Sita. Tapi Melati masih menganggapnya adalah Ibunya sebab mereka pernah hidup bersama sejak Melati masih berusia delapan tahun.
Selama Sita menjadi Ibu sambungnya tidak pernah sekalipun Sita membencinya, Sita bahkan memperlakukan Melati seperti anaknya sendiri. Begitu tulus dan lembut kasih sayang yang diberikan oleh Sita untuknya. Tapi entah mengapa Sita berubah saat Ayahnya meninggal dunia.
"Tidak usah sok perhatian pada Ku, lagi pula jangan sebut Aku Ibu Mu karena Kau bukan lahir dari rahim Ku !"
Nyes
__ADS_1
Hati Melati begitu sakit mendengarnya meskipun Sita bukanlah Ibu kandungnya tapi Melati begitu sayang pada Sita. Entah apa yang merasuki jiwa Sita setelah Ayahnya tiada, sampai-sampai Sita membenci dirinya separah itu.
"Ibu..Aku merindukanmu." Melati berkata lirih namun hati Sita sepertinya sudah sekeras batu es di benua Antartika, ia bahkan seolah sudah cacat karena buta dan tuli dengan ketulusan Melati.
"Sudah..sudah Aku malas sekali menyapa Mu. Kenapa juga Aku peduli dengan Mu, Bagus lah kalau Kau sudah hidup enak !" kata Sita lalu ia berlalu pergi dari hadapan Melati. Namun Melati mencegahnya agar tidak pergi.
"Ibu, tolong jangan seperti ini pada Ku, biar bagaimana pun Ibu sudah seperti Ibu kandung KU." Melati memegang tangan Sita sampai matanya sudah berkaca-kaca saking rindunya ia pada Sita.
Sita menghempaskan tangan Melati dari tangannya. Ungkapan Melati padanya seolah tak membuatnya luluh bahkan tanpa perasaan ia tak menggubris Melati.
Bruk
"Apa yang Kau lakukan ?" Arash membentak Sita, tak peduli Sita adalah orang tua yang seharusnya ia segani namun apa yang dilakukan Sita menurut Arash sudah sangat keterlaluan.
"Kau meneriaki Ku ? Dasar anak kurang ajar !" Sita memaki Arash karena ia tak terima di bentak.
__ADS_1
"Apa Kau tidak melihat Aku ini orang tua yang seharusnya Kau hormati dan hargai, pasti orang tua Mu sudah salah memberikan didikan pada Mu, sampai-sampai Kau berani melawan orang yang lebih tua dari Mu !" Kata Sita dengan sinis dan sengit.
Menyinggung orang tua Arash tentu saja Arash menjadi tak terima sebab secara tidak langsung Sita sudah menghina orang tuanya.
"Tutup mulut Mu, wanita tua ! Jangan pernah menghina prihal didikan yang diberikan oleh kedua orang tua Ku. Memangnya siapa Kau ?Lebih baik anda berkaca dan pergi ke masjid mengikuti pengajian sebab umur Mu itu mungkin sudah uzur !"
Sakit hati tentu saja Sita sakit hati mendengarnya. Arash mengatai dirinya wanita tua yang sudah uzur.
"Kurang ajar Kau ! Dasar anak berandal !"
"Sudah hentikan ! Arash Ku mohon !" Melati sudah menangis. Ia menahan tubuh Arash. Sejenak Arash merasa iba apalagi Melati sudah menangis seperti itu.
Arash kemudian membawa Melati pergi dari hadapan Sita yang tentu saja sudah meneriaki dirinya dan Melati.
"Hei, Mau kemana Kalian ?! Dasar anak berandalan ! Tidak tahu etika dan sopan santun !"
__ADS_1
...****************...