
"Mas...apa sebaiknya kita beri tahu saja keberadaan Bunga pada Albert ?" Mentari membuka suara saat mereka sudah kembali ke kamar setelah menidurkan Arash dan Arish.
Kening Mario berkerut mendengar ucapan istrinya, keberadaan Bunga saja ia tidak tahu lantas mengapa istrinya itu mengatakan prihal tentang Bunga.
"Sayang, jangan bilang Kau tahu dimana dia ?" tanya Mario tanpa basa basi.
Mentari menganggukkan kepalanya, jelas saja ia tahu dimana keberadaan Bunga karena selalu berkomunikasi dengannya.
"Sayang.." lirih Mario
"Aku kasihan pada Albert Mas, tapi disisi lain Aku juga masih kesal dengan sikapnya dulu yang lebih memilih Naura." jawab Mentari pelan.
Mario terdiam, benar bukan meskipun mereka kasihan pada Albert tapi mereka juga tidak bisa melupakan bagaimana egoisnya Albert mencampakkan Bunga yang tengah hamil bahkan Bunga pernah nekat untuk mengakhiri hidupnya saking merasa putus asa.
"Bagaimana Mas ? Apa yang harus Ku lakukan ? Aku yakin pasti Farhan sangat menantikan Ayahnya di sana." lirih Mentari
"Aku pun bingung Sayang, mendadak otak Mas ganteng Mu ini buntu." jawab Mario yang membuat Mentari menjadi cango.
"Sepertinya mesti di buka otaknya Mas, supaya tidak buntu !" jawab Mentari asal.
"Iya, dibuka dan masuk sampai mentok !" celetuk Mario
"Masuk sampai mentok ?" Mentari mengangguk-anggukkan kepalanya sembari mencerna ucapan suaminya.
"Iya Yank, apalagi kalau sambil dijepit pasti otak Mas ganteng Mu ini langsung bisa berpikir !" jawab Mario sambil menahan tawanya.
__ADS_1
"Masuk sampai mentok dan dijepit !" gumam Mentari, ia kemudian mengerti kemana alur pembicaraan suaminya.
"Dasar suami mesum, diajak bicara serius malah menjawab acara nganu !" Mentari menatap tajam suaminya hingga membuat Mario hanya bisa menelan kasar air liur.
"Maaf..Yank..maaf." Mario langsung mengecup bibir dan kening Mentari.
"Jadi bagaimana Mas ? Aku bingung !" tanya Mentari lagi.
"Memangnya dia dimana, Yank ?" Mario balik bertanya.
"di Turki, Mas !" jawab Mentari apa adanya.
"Jauh sekali dia larinya, pantas saja Albert tidak bisa menemukannya." kata Mario.
"Tuan Wilson itu kan orang yang berkuasa, sangat mudah menghilangkan jejak agar Albert tidak tahu kemana perginya mereka." jawab Mentari
"Kalau Ku beritahu Aku takut nanti Bunga marah pada Ku, Mas. Bagaimana ya caranya ?" Mentari tampak berpikir begitupun dengan Mario.
"Aku pun juga bingung Yank, lebih baik kita main dulu Yank, biar nanti selesai main pasti otak kita jadi fresh dan mudah untuk berpikir." jawab Mario sok bijak.
"Iya sudah lah, ayo !" Mentari mengiyakan saja permintaan suaminya dari pada ia pusing memikirkan cara memberitahu Albert dimana keberadaan Bunga.
"Mau gaya apa Yank ?" Mario siap menerkam mangsanya siapa lagi kalau bukan Cahaya Mentari, istrinya.
"Gaya katak bertelur sudah bosan, apalagi belut masuk sawah, bagaimana kalau gaya helikopter Mas ?" jawab Mentari.
__ADS_1
"Gaya Helikopter ?" Mario melongo mendengar ucapan istrinya.
"Iya, masa Mas tidak tahu ?"
"Mana Aku tahu, Yank !"
"Ya sudah kalau tidak tahu, tidak jadi mainnya !" Mentari memasang lagi piyamanya dan tanpa dosa meninggalkan suaminya untuk tidur.
"Lah..Ayank..beneran tidak jadi main ini ?" Mario menggaruk-garuk kepalanya.
"Nanti saja kalau sudah tahu gaya helikopter baru kita main !" Mentari menutup wajahnya dengan selimut dan tidur.
Sedangkan Mario menjadi frustasi karena tidak jadi acara enak-enak bersama istrinya. Ia kemudian meraih ponselnya dan mengirimkan chat WhatsApp pada Harry yang tengah menikmati menjadi pengantin baru.
"Harry, bagaimana gaya helikopter ?"
"Mana Ku tahu Tuan, Aku baru pakai gaya mencangkul sawah !"
"Payah Kau, Harry !"
"Coba Tuan tanya pilot pribadi Tuan, Dia kan sering bawa helikopter dan pesawat pasti dia tahu bagaimana gayanya."
"Benar juga, Dia pasti sering praktek dengan istrinya !"
Sedangkan Harry hanya bisa menggaruk-garukkan kepalanya yang tidak gatal berusaha memikirkan bagaimana cara melakukan gaya Helikopter tersebut yang siapa tahu bisa dipraktekkan dengan Lusi.
__ADS_1
...****************...