
"Jadi mereka bertengkar karena rebutan perempuan ?!" Mentari terkejut bukan main setelah mendengar penuturan dari Melati. Ia tak menyangka anaknya bertengkar dengan Devan hanya karena seorang wanita.
"Apa disekolah tidak ada stok siswi cantik sampai-sampai mereka harus rebutan satu betina !" kata Mentari dengan geram.
"Sabar..Yank..sabar..jangan emosi !" kata Mario menenangkan Mentari bukannya malah luluh Mentari semakin menjadi emosi kala melihat suaminya dan juga David.
"Kenapa Yank, kenapa menatap kami berdua seperti itu ?" tanya Mario dengan bingung akan ekspresi istrinya.
"Kalian berdua adalah akar masalahnya, andai saja kalian berdua tidak membuat masalah di masa lalu mungkin di masa sekarang tidak akan terulang pada anak-anak kalian !" kata Mentari.
Melisa terdiam, benar bukan ? Dulu David dan Mario bertengkar karena memperebutkan dirinya. Wajar saja mungkin sekarang hukum karma itu telah berlaku, dan terjadi pada anak-anak mereka.
"Yank..tapi itu masa lalu, biarlah berlalu." kata Mario.
"Memang sudah berlalu, tapi kita tidak tahu jika akan terjadi pada anak-anak kita !" jawab Mentari.
"Lagi pula Aku sudah memperbaiki diri menjadi pria yang lebih baik untuk anak dan istri Ku." jawab David apa adanya.
__ADS_1
"Harus bagaimana Aku mengatakannya, tapi yang jelas semoga anak-anak kita tetap akur dan menjaga hubungan keluarga dengan baik." kata Mentari.
Sejenak mereka semua merenung akan kesalahan mereka. Hingga pada akhirnya mereka menyelesaikannya dengan kepala dingin dengan saling memaafkan meski pun mereka sudah akur kembali, mereka berdoa semoga kedepannya mereka tetap menjadi saudara yang baik.
Beberapa jam kemudian, David dan Melisa berpamitan pulang bersama Devan pada Mario dan Mentari. Setelah kepergian mereka, Mentari masuk ke dalam kamar Arish dan berbicara pada Arish dari hati ke hati.
"Anak Mama sudah besar rupanya !" kata Mentari dengan lembut.
"Mama." lirih Arish ia tahu pasti Mamanya sudah mengetahui masalahnya dengan Devan.
"Tidak apa-apa, Mama maklum. Dulu Mama juga pernah duduk di bangku SMA, juga pernah merasakan jatuh cinta ya..cinta monyet namanya." kata Mentari dengan lembut hingga membuat Arish menatap wajah sang Mama.
"Aku tidak pacaran Ma, hanya saja pacarnya Devan itu yang selalu mendekatiku sampai akhirnya Devan salah paham dan menganggap Aku merebut pacarnya." kata Arish jujur. Lebih baik ia katakan yang sebenarnya dari pada Mamanya salah paham dengan dirinya.
Mentari diam, kini ia mengerti mengapa pertengkaran diantara anak dan sepupunya terjadi semua hanyalah kesalah pahaman saja. Namun yang namanya anak remaja masih belum bisa berpikir lebih dewasa pasti masih labil dalam bersikap dan mengambil keputusan.
"Oh..jadi putra Mama yang ganteng ini banyak ditaksir wanita di sekolah rupanya sampai-sampai pacarnya Devan mau berpaling karena kepincut wajah tampan putra Mama." Mentari mengatakan itu dengan terkekeh hingga Arish merasa malu.
__ADS_1
"Ma, jangan meledekku." keluh Arish
"Mama tidak meledek, Mama hanya mengatakan yang sebenarnya kalau memang anak Mama dua-duanya sangat tampan." kata Mentari dengan bangganya.
"Siapa dulu dong Bapaknya." kata Mario ia tiba-tiba muncul dari belakang Mentari dan Arish, hingga membuat ketiganya tertawa kecil.
Namun tiba-tiba Melati datang dengan membawa baskom kecil dan salep untuk mengompres memar dan luka yang ada di wajah Arish.
"Biar Ibu yang mengompresnya, Melati. Terimakasih sudah membawakan air dinginnya." kata Mentari dan Melati mengangguk setuju.
"Sepertinya Kau harus berterimakasih pada Arash dia sudah menyelamatkan Mu, bahkan lengannya sampai terluka." kata Arish pada Melati.
"Benarkah ? Aku tidak lihat. Ya sudah Aku akan menemuinya." jawab Melati menjadi tak enak dan merasa bersalah.
"Hem..." jawab Arish lalu Melati pamit keluar dari kamar Arish dan menuju kamar Arash dengan membawa obat merah.
Melati mengetuk pintu kamar Arash hingga pada akhirnya pintu dibuka oleh Arash. Mereka berdua....
__ADS_1
...****************...