GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
BERSATU


__ADS_3

"Akhirnya mereka bersatu juga, Mas. Aku harap setelah ini tidak ada masalah diantara mereka." kata Mentari yang menyaksikan dari jarak pandang tidak terlalu dekat melihat pemandangan dimana Albert dan Bunga kini sama-sama menerima satu sama lain demi putra mereka, Farhan.


Bunga akhirnya luluh juga terhadap Albert, sekuat apapun Bunga membenci Albert dan menjauh dari Albert tetap saja rasa cinta tidak semudah itu di hilangkan. Bunga masih mencintai Albert meski telah merasakan sakit atas perbuatan Albert padanya.


Begitu pun dengan Albert, pria tersebut tentu saja tidak akan menyia-nyiakan kesempatan kedua yang diberikan oleh Bunga untuknya.


“Aku berjanji akan membahagiakan Mu !” kata Albert di depan Kakeknya, Wilson.


Bunga terdiam, entah benar atau tidak keputusan yang ia ambil untuk memaafkan Albert dan kembali bersama Albert lagi yang jelas saat ini pikirannya hanya untuk Farhan kebahagiaan anak kecil itu jauh lebih penting untuknya.


“Membahagiakan saja tidak cukup, Al. Kau harus mampu mencintainya dengan tulus ! Perempuan butuh kasih sayang, sentuhan, dan pengertian tidak cukup hanya sebuah materi semata !” kata Wilson kali ini ia ikut bicara sebab ia bisa melihat jelas di mata Bunga kalau Bunga masih gamang dengan perasaannya terhadap Albert.


“Kakek tidak perlu khawatir, satu tahun Bunga dan Farhan pergi sudah cukup buat Ku dan menyadarkan Ku jika selama ini Aku telah jatuh cinta pada Bunga, Aku menyesal telah menyia-nyiakan dia, Kakek !” jawab Albert hingga membuat Bunga diam terpaku mendengarnya.


Benarkah Albert mencintainya ? Harus kah dirinya merasa bahagia dicintai oleh pria yang ia cintai selama ini.


“Mari kita mulai kehidupan rumah tangga kita yang sesungguhnya, Bunga. Aku berjanji tidak akan mengulangi kesalahan Ku.” Albert sampai berlutut di kaki Bunga hingga membuat Bunga membulatkan kedua matanya begitu pun dengan Mentari dan Mario yang melihat mereka dari jauh.


“Apa dia memang suka berlutut ?” kata Mentari yang sepintas agak gimana gitu melihatnya.


“Mungkin kakinya pegal, Yank !” jawab Mario pelan.

__ADS_1


Mentari menahan tawanya rasanya ada haru dan canda melihat pemandangan diantara Bunga dan Albert.


“Ngmong-ngomong kemana perginya Harry dan Lusi ?” ucap Mentari yang melihat disekelilingnya tidak ada mereka berdua.


“Astaga ! Kemana lagi mereka berdua ?” Mario sampai menepuk keningnya kala asisten dan sekretarisnya itu tidak ada di tempat.


“Ya sudah tidak perlu di ganggu ! Namanya saja pengantin baru !” celetuk Mentari


“Ini salah Ku, yang mengatakan kalau kita ke Turki untuk bulan madu !” jawab Mario yang membuat Mentari mendelikkan matanya ke arah suaminya.


“Astaga ! Wajar saja mereka sudah menghilang ! Mungkin mereka sudah kembali ke hotel ! Ya sudah kita kembali saja ke Hotel, Mas. Aku ingin istirahat !” ajak Mentari.


“Hah ? Jadi bagaimana dengan Albert dan Bunga ?” Tanya Mario.


Mario hanya menganggukkan kepalanya mengerti akan apa yang dikatakan oleh istrinya itu. Ia pun lalu kembali ke hotel bersama istrinya.


Setibanya mereka di hotel dan berjalan di koridor dimana mereka akan masuk ke dalam kamar mereka. Tiba-tiba mereka melihat David dan Melisa.


“Aku mau pulang !” Melisa berjalan meninggalkan David.


“Pulang kemana ? Kau tidak punya passport !” jawab David yang mengikuti langkah kaki Melisa.

__ADS_1


“Apa ini tugas tambahan, Tuan ?” ucap Harry yang tiba-tiba berada di belakang Mentari dan Mario hingga membuat keduanya langsung terperanjat kaget.


“Astaga, Kau mengagetkan kami !” jawab Mario yang mengelus dadanya.


“Hai, Mario..Mentari !” sapa David “Kalian menginap di hotel ini juga ?” kata David lagi.


“Iya, kami melakukan double honey moon !” jawab Mario yang membuat David tersenyum mendengarnya.


“Kalau begitu sama ! Kami juga sedang honey moon !” jawab David yang membuat Melisa kesal mendengarnya.


“Honey Moon kepala Mu !” ucap Melisa dalam hati.


“Why ? Kalian rujuk kembali ?” tanya Mario heran.


“Iya, kami rujuk kembali ! Benar begitu sayang ?” ucap David tersenyum penuh arti pada Melisa hingga Melisa hanya diam.


Mario menganggukkan kepalanya, kemudian terbesitlah dipikiran Mario untuk mengajak Melisa dan David makan malam bersama.


“Bergabunglah dengan kami, kita makan malam bersama !” ajak Mario yang tentu saja David akan menyetujuinya.


“Sure !”

__ADS_1


...****************...


__ADS_2