GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
KENA TENDANG


__ADS_3

Melati langsung berlari keluar kamar memanggil Mentari, namun ternyata Mentari tidak ada dirumah begitupun dengan Arish. Tiba-tiba Harry datang dengan berpakaian yang rapi sudah Melati tebak mungkin Harry akan menjemput Mario untuk pergi ke kantor.


"Paman Harry !" pekik Melati yang membuat Harry mengernyitkan dahinya.


"Ada apa, Nona Muda ?" tanya Harry kemudian.


"Tolong Arash, dia kesakitan !" jawab Melati cepat.


"Arash sakit ?" tanya Harry.


"Ayo Paman, tolong Arash !" Melati menarik tangan Harry dan masuk ke dalam kamar untuk mengecek kondisi Arash dan benar saja Arash tengah dalam kondisi kesakitan.


"Arash, Kau kenapa ? Apa yang sakit ?" tanya Harry.


"Jangan-jangan Tuan Muda kena santet ! Sepertinya Saya harus memanggil Mbah Mijan !" celetuk Harry yang membuat Arash dan Melati jadi melongo.


"Paman, tidak mungkin zaman sekarang masih ada santet-santetan, jangan ngawur Paman !" kata Melati


"Iya, bisa saja kan. Tuan Muda di santet orang, sebab Tuan Muda tidak pernah sakit !" jawab Harry dengan entengnya. Otak Harry memang sudah keracunan mitos dan terlalu percaya takhayul apalagi soal Mbah Mijan, sampai sekarang dia masih percaya dengan dukun yang katanya dukun number one di desa suka merindu.


"Jangan ngadi-ngadi, Paman !" Melati semakin khawatir pada Arash.


"Ya siapa tahu kan !" Harry semakin ngotot saja hingga membuat kepala Arash mendadak pening.


"Sudah Paman jangan bahas itu !" rintih Arash memegangi bagian sensitifnya. "Ini rasanya ngilu !"


"Apanya yang ngilu ?" Harry tiba-tiba langsung panik bin khawatir.


"Burung Ku !" lirih Arash

__ADS_1


"Burung ?" Harry yang masih belum konek dengan ucapan Arash matanya melihat di sekeliling kamar Arash tidak ada ia dapati Arash tengah memelihara seekor burung.


"Tidak ada burung disini, Tuan Muda !" jawaban Harry membuat Arash melongo.


"Bukan burung itu yang dimaksud, Paman ! Tapi burung Ku yang ini !" tunjuk Arash pada bagian sensitifnya.


"Oh." Harry menepuk jidatnya mungkin karena ia tak sempat sarapan jadi ia tidak fokus dalam mencerna sesuatu di pikirannya.


"Tolong panggilkan dokter Jimmi !" lirih Arash pada Harry.


Harry pun kemudian menelpon dokter Jimmy untuk datang memeriksa Arash namun ternyata Dokter Jimmy tengah melakukan operasi darurat.


"Harus berapa lama Aku menahannya, Paman ?" keluh Arash


"Mungkin dua atau tiga jam lagi, Dia sedang ada operasi !" kata Harry


"Seberapa parah sakitnya ?" Harry jadi penasaran.


"Kena tendang ?" Harry terkejut


"Aku tidak sengaja menendangnya, Paman." kata Melati pelan, ia merasa bersalah pada Arash.


"Lain kali hati-hati Nona, kasihan. Itu adalah harga diri seorang laki-laki, kalau tidak bisa lagi berfungsi bagaimana ?" kata Harry kemudian.


"Maaf Paman. Aku minta maaf Arash, Aku tidak sengaja !" Melati menundukkan kepalanya.


"Sudahlah Paman, pergilah ke kantor. Aku rasa aku sudah lebih baik. Sembari menunggu Dokter Jimmy datang !" balas Arash.


Sebenarnya Harry tidak tega meninggalkan Arash namun ia pun punya banyak pekerjaan bersama Mario. Harry lalu terpaksa meninggalkan Arash.

__ADS_1


Setelah kepergian Harry, Arash menatap tajam Melati. "Kau selalu membuat ulah ! Bagaimana jika terjadi apa-apa dengan dia ?".


"Maaf..."


"Maaf..maaf..! Ayo bantu Aku ke kamar mandi !" titah Arash


"Ya sudah Ayo !" Melati pun menuruti permintaan Arash karena Arash yang masih sakit.


Melati membawa Arash ke kamar mandi, sampai di kamar mandi Arash malah meminta Melati memandikan dirinya.


"Kau gila ya ?" pekik Melati.


"Yak, Aku lagi sakit ! Kau harus bertanggung jawab !"


"Tapi tidak minta di mandikan juga !" sungut Melati. Ia tentu saja menolak permintaan Arash padanya.


"Kau mau menolak iya ? Baik akan Ku adukan Kau dengan Mama !" ancam Arash yang membuat Melati takut.


"Ya sudahlah !" Melati kemudian menyalakan shower hingga tubuh Arash basah kuyup.


"Yaaak...apa yang Kau lakukan ?!" pekik Arash.


"Berisik !" Melati kemudian menuangkan shampo ke tangannya dan memakainya di rambut Arash.


"Kau mau apa ?" Melati bergidik ngeri kala Arash membuka pakaian atasnya hingga menampakkan tubuh Arash yang sedikit berotot.


"Mandi lah !" jawab Arash datar.


"Dasar mesum !" Melati hendak berbalik dan pergi dari kamar mandi namun ternyata kakinya terpeleset hingga tubuhnya terjatuh namun tangannya terlebih dahulu menarik Arash hingga mereka berdua jatuh ke lantai dengan posisi Arash di atas tubuh Melati, dibawah kucuran air shower.

__ADS_1


Deg


...****************...


__ADS_2