
Malam harinya Mentari dan Mario menonton tayangan cctv tersembunyi yang ada di halaman kolam renang. Meskipun rekaman cctv sudah dihapus oleh Arash namun tidak dengan cctv tersembunyi yang Mario letakkan disana dan tentu saja anak kembar mereka tersebut tidak tahu keberadaan cctv tersebut.
"Astaga !" Mentari menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang barusan ia lihat.
Saat ini Mentari dan Mario tengah berada di rumah Helena dan Scherzinger karena karena mereka menjenguk Paula yang baru saja pulang setelah dirawat di rumah sakit beberapa hari.
"Ayo kita pulang Mas !" ajak Mentari cepat ia ingin melihat kondisi anak-anaknya saat ini dan tentu saja merasa cemas dan khawatir.
"Hubungi David dan Melisa sekarang ! Suruh dia kerumah kita, jika tidak Aku akan menarik saham Ku di perusahaannya !" kata Mentari ia tak terima putra kesayangannya Arish dipukul oleh anaknya David bahkan putri angkatnya Melati sampai hampir kehilangan nyawanya karena tenggelam di kolam.
Melihat kemarahan di wajah istrinya Mario menjadi bergedik ngeri. Pasalnya ini adalah kali pertama Mentari menunjukkan kemarahannya terlebih Mentari marah pada sepupunya.
"Ya sudah ayo kita pulang, nanti akan Ku hubungi David untuk kerumah kita !" kata Mario dengan lembut mencoba meredamkan amarah pada istrinya agar tidak emosi.
Keduanya lalu pamit pulang pada kedua orang tuanya dan Paula. Setelah mereka pulang dan tiba dirumah yang dicari oleh Mentari adalah Melati, ia langsung masuk ke dalam kamar Melati dan ia mendapati Melati yang tengah duduk di kursi belajarnya.
"Sayang..." Mentari langsung memeluk Melati dengan perasaan sedih dan membuat Melati menjadi bingung.
"Kau tidak apa-apa ?" tanya Mentari dengan lembut.
"Aku tidak apa-apa, Ibu." jawab Melati.
"Harusnya Ibu menjaga Mu, maaf kan Ibu yang telah lalai." kata Mentari merasa bersalah.
"Ibu, Aku tidak apa-apa." jawab Melati dengan lembut lalu Mentari kembali memeluk tubuh Melati.
__ADS_1
Beberapa saat kemudian Melati dan si kembar Arash dan Arish sudah duduk di ruang keluarga atas perintah Mario dan Mentari. Bahkan tak lama David dan Melisa datang dengan membawa anak mereka Devan.
"Sekarang jelaskan pada Kami, apa yang terjadi pada kalian berempat ?" tanya Mario pura-pura tidak tahu.
"Ayo jelaskan pada Kami, Sayang. Kenapa Kau sampai terlibat pertengkaran dengan Arash dan Arish ?" tanya Melisa dengan lembut pada putranya.
Arish terdiam karena untuk menjelaskan kalau dirinya bertengkar dengan Devan hanya karena seorang wanita ia merasa malu untuk mengatakannya bisa runtuh harga dirinya di hadapan kedua orang tuanya.
Begitu pun dengan Devan ia juga tak bersuara sama sekali karena ia tak mungkin menjelaskan jika pertengkaran diantara dirinya dan Arish terjadi hanya karena hal sepele. Dasar pikiran mereka saja yang masih labil dan tak bisa mengendalikan emosi hingga terjadi pertengkaran diantara mereka.
"Kami hanya salah paham, Pa Ma, maafkan Kami yang membuat kalian semua menjadi khawatir." kata Arish pelan tentu saja Devan akan mendukung jawaban yang diberikan oleh Arish ia pun berusaha untuk meyakinkan kedua orang tua dan paman bibinya untuk tidak memperpanjang masalah yang terjadi.
"Iya, Papi Mami, Paman Bibi. Ini hanya masalah sepele, Aku minta maaf karena sudah membuat keributan dirumah kalian." jawab Devan
"Masalah sepele bagaimana ? Putri Ku sampai tenggelam belum lagi putra Ku lihat wajahnya penuh memar !" ucap Mentari tak terima dan itu membuat David dan Melisa tak enak hati.
"Aku minta maaf atas nama putra Ku, Mentari. Aku akan memberikan hukuman pada putra Ku. Sekali lagi Aku minta maaf." jawab Melisa berharap Mentari bisa menurunkan egonya dan mengikhlaskan apa yang sudah terjadi.
"Bahkan putra kalian pergi begitu saja setelah Melati dan Arish masuk ke dalam kolam, dimana rasa tanggung jawab Devan ?! Kalau tidak ada Arash entah apa yang akan terjadi. Salahnya Aku yang memberikan cuti pada semua pelayan dirumah ini, jadi tidak ada yang bisa menjaga anak-anak Ku selagi Aku tidak ada dirumah !"
Mentari panjang lebar, ia mengoceh ini dan itu hingga orang yang mendengarnya hanya bisa menebalkan telinga masing-masing. Karena begitulah watak Mentari suka mengoceh kalau sedang merasa kesal.
"Aku memaklumi ke khawatiran Mu, Mentari. Aku minta maaf karena putra Ku. Bisa kah kita saling memaafkan satu sama lain. Aku yakin anak-anak juga sudah sadar dengan perbuatan mereka." jawab David buka suara.
"Apa kalian berdua sudah sadar dengan kesalahan kalian ?" tanya Mario pada putranya dan keponakannya.
__ADS_1
"Iya Pa."
"Iya Paman." jawab mereka bersamaan.
"Kalau begitu kalian harus saling bermaaf-maafan satu sama lain, dan jangan pernah mengulangi kesalahan kalian lagi." kata Mario.
Devan dan Arish kemudian saling menoleh satu sama lain. Mereka pada akhirnya saling berjabat tangan dan meminta maaf dan berjanji pada kedua orang tua mereka tidak akan bertengkar lagi di kemudian hari.
Beberapa jam kemudian Arish dan Arash membawa Devan ke kamar mereka untuk berbicara sedangkan kedua orang tua mereka masih diruang keluarga bersama Melati.
"Melati, Kau baik-baik saja ? Apa ada yang terluka ?" tanya Melisa lembut.
"Tidak apa-apa Bibi, Aku baik-baik saja." jawab Melati kemudian.
"Bibi minta maaf ya atas perlakuan Devan pada Mu." kata Melisa
"Tidak apa-apa Bi." jawab Melati dengan tersenyum.
"Aku heran dengan mereka berdua kenapa tidak mau jujur dengan masalahnya !" kata David.
"Iya, bisa kah Kau jelaskan pada Bibi apa masalah mereka hingga mereka bertengkar ?" tanya Melisa lagi pada Melati, Melisa pikir Melati pasti tahu apa masalah yang terjadi diantara putra dan keponakannya itu.
Melati menggigit bibirnya bingung harus berkata jujur atau tidak. Sebab baik Arish dan Devan saja sengaja menutupinya ia takut jika dirinya berkata jujur mereka nanti malah memusuhi dirinya.
"Melati." Mentari meminta Melati untuk berkata jujur pada mereka.
__ADS_1
"Sebenarnya...
...****************...