
Malam semakin larut, namun Arash dan Mario masih setia bermain catur bersama. Sambil bermain mereka sambil berbincang-bincang mengenai perusahaan dan persoalan rumah tangga. Sebab menurut Mario, sudah saatnya putranya itu memikirkan hubungan pernikahan yang seutuhnya bersama Melati.
"Papa ingin pernikahan Mu dengan Melati awet seperti pernikahan Papa dan Mama Mu." kata Mario mengalihkan pembicaraan mereka.
"Tidak perlu khawatir, Pa. Aku sudah berniat dan berjanji akan menjalani pernikahan Kami seperti pasangan suami istri yang normal." kata Arash pelan.
"Tujuh tahun kalian terpisah karena jarak, Kau tidak mau menemui istri Mu dan juga istri Mu tak mau menemui diri Mu. Kalian benar-benar aneh !" sindir Mario
"Bukan kah hubungan Papa dan Mama dulu juga aneh !" Arash balik menyindir.
"Pokoknya, Papa ingin cucu perempuan !" celetuk Mario membuat Arash menyemburkan kopi di mulutnya.
'Dibuat saja belum !' Kata Arish dalam hati.
"Jujur saja pada Papa, sudah berapa kali kalian melakukannya ? Apa Kau menggunakan hadiah dari Paman Jimmy ?" tanya Mario secara gamblang, prihal hubungan intim bukan hal yang tabu kan ? Untuk dibicarakan dengan putranya itu yang sudah berusia 26 tahun dan sudah menikah pula.
"Jadi hadiah itu sebenarnya dari Papa ?" Arash menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
"Iya, karena dulu Kau masih sekolah. Tidak mudah menjadi seorang Ayah di usia yang belum dewasa. Pikiran anak seusia Mu, dulu mungkin dihabiskan untuk belajar dan bermain. Lantas apa jadinya tiba-tiba Kau memiliki anak ? Apa dunia Mu bisa menerimanya ?" balas Mario
Benar apa yang dikatakan oleh Mario. Tidak mudah menjadi orang tua bukan ? Bahkan pasangan yang sudah dewasa dan mapan dalam bentuk finansial saja masih suka kerepotan bahkan berkonflik karena menjadi orang tua.
"Aku bahkan lupa dimana Aku membuangnya !" kata Arash apa adanya dan sejujurnya, sebab dulu kado itu kalau tidak salah sudah Arash buang, karena merasa kesal dengan Paman Jimmy.
"Jadi kalian belum pernah melakukannya ?" Mario tercengang sendiri.
"Menurut Papa ?" Arash balik bertanya hingga Mario menggelengkan kepalanya.
"Ayo ikut, Papa !" Mario mengajak Arash ke dapur dan Arash mengikutinya dari belakang.
"Hah ?!" Arash mengernyitkan dahinya sebab Papanya itu mengeluarkan sebuah bubuk minuman yang ia ambil dari dalam kamarnya.
"Apa itu obat kuat ?" tebak Arash.
"Bukan obat kuat, tapi obat anti malu dan anti gagal saat malam pertama !" bisik Mario.
__ADS_1
"Astaga Papa !" Arash menepuk keningnya, melihat kelakuan Papanya. Wajar saja jika Papa dan Mamanya selalu lengket seperti pengantin baru, sebab mungkin itu adalah kunci rahasia yang dimiliki oleh Papanya.
"Minum lah !" Mario menyodorkan minuman yang sudah ia buat untuk Arash dan juga untuk dirinya sendiri.
"Aku tidak mau, Pa. Aku masih muda !" Arash menolak minuman yang diberikan oleh Papanya.
"Hei, Son ! Ini bukan masalah usia muda atau tua, Papa Mu hanya menyelamatkan Mu dari kegagalan malam pertama Mu !" kata Mario dengan santainya.
"Aku yakin tidak akan gagal !" kata Arash dengan percaya diri, namun sebenarnya ia pun takut kalau ia gagal. Sebab ia mengingat bagaimana beberapa waktu lalu, ia sudah ******* duluan saat melihat bentuk tubuh Melati walaupun hanya lewat ponselnya.
"Jangan berlagak sombong, Son !" sindir Mario ia sudah menghabiskan minumannya, dan hendak meninggalkan Arash.
"Pikirkan lagi, jangan sampai Kau malu saat bersama istri Mu !" bisik Mario mencoba merayu putranya itu agar meminum ramuan darinya.
"Astaga, Papa memang gila !" Arash bersungut-sungut saat Papanya sudah pergi dari hadapannya. Namun matanya kembali melihat gelas yang ada di hadapannya antara ingin meminumnya atau tidak.
Dilema gundah gulana Arash bingung harus bagaimana !
__ADS_1
...****************...