
Safira benar-benar semakin membenci Mentari pasalnya dengan terang-terangan kini Bara mendekati Mentari. Bara hari ini bahkan memberikan Mentari seikat bunga mawar merah untuk Mentari, padahal dalam pikiran Safira bunga yang Bara bawa akan diberikan untukny, namun ternyata semua itu tak sesuai dengan ekspetasi Safira.
Safira harus menelan pil pahit kala Bara mengatakan jika bunga itu untuk orang yang ia sukai, Cahaya Mentari.
Mentari yang tak enak hati jika tidak menerima bunga pemberian dari Bara ia pun mengambilnya. Namun pada saat Bara sudah pergi, Mentari menaruh bunga itu di kursi taman kampus begitu saja. Sebab ada hati yang harus Mentari jaga jika ia menyimpan bunga tersevut, yaitu Mario, suaminya.
Safira yang melihat Mentari menaruh bunga pemberian Bara begitu saja pun, langsung menghentakkan kakinya kesal pasalnya Safira menganggap Mentari seperti jual mahal.
"Dasar gadis kampung !" maki Safira dari belakang tubuh Mentari hingga Mentari membalikkan tubuhnya.
"Siapa ?" sahut Mentari
"Siapa lagi kalau bukan diri Mu !" tunjuk Safira pada Mentari.
"Aku ?" ucap Mentari bingung.
"Iya siapa lagi kalau bukan diri Mu !" ulang Safira
"Memangnya kenapa ? Apa salah Ku pada Mu ?" balas Safira cepat.
"Salah Mu ? Salah Mu kenapa Kau mendekati Bara ? Bara itu milik Ku !" ucap Safira sewot .
__ADS_1
Mendengar ucapan Safira barusan Mentari hanya bisa tersenyum mengejek kini ia tahu kenapa Safira sangat tidak menyukainya, sebab pria yang Safira sukai malah menyukainya.
"Sorry ya, dari awal Aku tidak suka padanya. Kalau pun Kau menyukainya itu urusan Mu, apa pentingnya buat Ku ?" jawab Mentari yang membuat Safira semakin kesal dan marah pada Mentari.
"Tentu saja penting ! Jauhi Bara ! Paham !" sarkas Safira
"Aku menjauh tapi Dia saja yang selalu mendekat !Lalu Aku harus bagaimana ? Kalau Kau tak mau Dia terus mendekati Ku, Kau tempelkan saja tubuh Mu pakai Lem ke tubuhnya !" jawab Mentari ia kini kesal dengan Safira yang selalu ingin mengajaknya bertengkar.
"Hei jaga ucapan Mu ! Dasar gadis kampung murahan sok jual mahal !"
"Kau yang murahan, sudah tahu pria yang Kau sukai malah menyukai wanita lain tapi Kau selalu berharap padanya, dunia tak sekecil daun kelor, masih banyak pria lain, apa Kau tak laku lagi ?"
"Kurang ajar Kau !" Safira hendak menarik rambut panjang Mentari namun tak jadi ia lakukan karena tiba-tiba ada seorang Dosen yang datang melerai Safira dan Mentari.
"Ini Mentari, dia mengatakan kalai Safira wanita yang tak laku pokoknya Mentari ini sudah jahat dengan Safira ! Perkataannya pedas dan setajam silet !" jawab Cika ia mencoba membantu Safira agar tak mendapatkan hukuman dari Pak Budi hingga membuat Mentari merasa tak terima dengan tuduhan tersebut.
"Benar begitu, Mentari ?" tanya Pak Budi
"Bohong Pak ! Malah Safira yang selalu memusuhi Saya Pak !" sangkal Mentari ia juga kesal dengan Cika yanh ikut-ikutan, terlebih Cika membela Safira dengan memutar balikkan fakta.
"Jangan percaya Pak ! Dia itu pintar memelas !" sahut Safira
__ADS_1
"Tidak Pak, Saya bener kok !"
"Bohong Pak bohong !"
"Beneran Pak !"
"Bohong Pak ! Cika saksinya !"
"Pak jangan percaya mereka berdua !"
"Bapak yang jangan percaya Mentari !"
"Iya tuh betul !"
"Pak.."
Pak Budi melihat ke kiri dan ke kanan secara bergantian ia menjadi bingung mendadak kepalanya menjadi pusing sebab diantara mahasiswanya tersebut tidak ada yang saling mengalah dan mana yang benar serta salah.
"Diam semuanya ! Sudah kapala Bapak jadi pusing, sudah kalian lanjut kan saja urusan kalian !"
"Hah ?!" seketika Mentari dan Safira menjadi plonga-plongo kala mendengar jawaban dari Pak Budi.
__ADS_1
Sedangkan Pak Budi lebih memilih pergi meninggalkan dua mahasiswanya, karena ia tak mau kepalanya semakin pusing sebab ia harus masuk ke kelas mengisi mata kuliah.
...****************...