GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
KAU CEMBURU ?


__ADS_3

Arash membawa Melati ke rumah sakit untuk memeriksa Melati lebih lanjut, pasalnya ia begitu khawatir dengan keadaan Melati.


"Aku baik-baik saja !" lirih Melati saat ini ia sudah berada di ruangan dokter untuk diperiksa.


"Kalau Kau baik-baik saja, mana mungkin Kau bisa pingsan di toilet, sudah menurut saja !" kata Arash hingga membuat Melati terdiam.


"Jadi apa yang anda rasakan Nyonya ?" kata sang Dokter pada Melati.


"Kepalaku tiba-tiba pusing dan mual muntah lalu Aku tak sadarkan diri !" jawab Melati pelan.


"Kapan anda terakhir kali menstruasi ?" tanya Dokter itu lagi.


Melati terdiam pasalnya sudah dua bulan ini ia tak kunjung mendapatkan tamu bulanannya. "Dua bulan lalu !" jawab Melati.


"Jika tebakan Saya benar, mungkin Anda tengah mengandung. Lebih baik silahkan ke Dokter kandungan untuk memeriksanya lebih akurat !" saran dokter tersebut.


Arash dan Melati saling pandang, mereka tenggelam dalam satu pikiran yang sama Mengandung ? Dokter kandungan ?


Arash dan Melati kemudian menuju dokter kandungan dan benar saja ketika Melati di periksa, Melati tengah berbadan dua dan usia kandungannya sudah berumur tujuh Minggu.


"Selamat, istri anda tengah hamil !" kata Dokter kandungan itu memberikan selamat pada Arash.


Arash diam terpaku, tak lama ia tersadar dan memberikan Melati ciuman bertubi-tubi di wajahnya.


"Sayang ! Kau hamil, Kita akan segera punya anak !" kata Arash tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Serius ?" kata Melati


Arash menganggukkan kepalanya, ia kemudian memeluk Melati dengan erat.


......................


Dua Minggu berlalu, sejak Melati dinyatakan hamil. Sikap Arash benar-benar overprotektif pada Melati. Dulu ia mencoba menyembunyikan sifat itu, tapi begitu tahu Melati hamil, Arash ingin memberikan yang terbaik untuk calon anaknya.


Bahkan Arash menyuruh Melati untuk berhenti bekerja dan fokus pada kandungannya.


"Arash, ini berlebihan. Aku tidak mungkin berhenti dari pekerjaan Ku !" kata Melati dengan lembut.


"Tidak ! Ini untuk kebaikan Mu, Sayang !" jawab Arash dengan tegas.


"Arash, Aku baik-baik saja." kata Melati.


"Tapi..!"


"Tapi apa ? Apa Kau ingin menemui mahasiswa Mu itu ? Ah siapa namanya, Danu ?" tebak Arash hingga membuat Melati terdiam dan bingung.


Dua Minggu ini Arash mati-matian memendam perasaannya, ditengah rasa bahagianya karena Melati tengah hamil. Namun tetap saja, rasa cemburu itu masih ada, bahkan Arash beberapa waktu lalu menemui Danu dan mengancam Danu untuk tidak lagi menemui dan berkomunikasi dengan Melati meskipun itu menyangkut bimbingan skripsinya.


Flash Back


"Aku memiliki hak untuk bertemu dengan istri Mu, karena Dia adalah Dosen Pembimbing skripsi Ku !" kata Danu dengan percaya diri.

__ADS_1


Arash tentu saja murka dan marah pada Danu, ia mengepalkan kedua tangannya dan ingin sekali menghajar Danu saat itu juga.


"Bertemu istri Ku untuk bimbingan skripsi, itu hanyalah alibi Mu agar Kau bisa melihat dan dekat dengannya !"


"Ku ingatkan sekali lagi pada Mu, ganti dosen pembimbing Mu mulai saat ini ! Atau Kau akan merasakan akibatnya jika berani-beraninya mendekati Istri Ku lagi !" Arash mencengkram kuat kerah kemeja yang dikenakan oleh Danu, lalu ia menghempaskannya hingga Danu jatuh tersungkur di tanah.


Flash Back Selesai


"Arash apa yang Kau bicarakan ?" tanya Melati dengan nanar. Selama ini ia hanya bekerja sebagai seorang dosen tidak lebih.


"Aku diam bukan berarti Aku tidak tahu, apa yang pria itu inginkan dari Mu ! Dia menyukai Mu ! Apa Kau bisa membayangkan perasaan Ku ?" tanya Arash, ia tetap menahan emosinya karena Melati tengah hamil.


Melati terdiam, selama ini dirinya dan Danu hanya sebatas mahasiswa dan Dosen. Lantas mengapa Arash semarah ini padanya, Melati jadi bingung.


"Jadi Kau cemburu !" tebak Melati


"Sayang, Aku sedang tidak bercanda !" jawab Arash cepat, entah dirinya harus marah atau bagaimana berhadapan dengan Melati, karena lagi-lagi dengan alasan Melati tengah hamil.


"Jangan cemburu, Kau jelek kalau cemburu !" kata Melati dengan terkekeh ia mendekati Arash dan mengalungkan kedua tangannya di leher Arash.


"Sayang !" lirih Arash, kini dirinya malah tak bisa berkutik lagi karena tak tahan melihat mata teduh nan indah milik istrinya itu, ia jadi tak bisa marah pada istrinya.


"Katanya Kau percaya pada Ku ? bukan kah sebuah hubungan dilandasi rasa percaya dan kesetiaan ? Kalau Aku tidak setia, kenapa Aku bodoh sekali sampai menunggu Mu pulang selama tujuh tahun !" kata Melati dengan lembut yang membuat Arash diam terpaku.


Benar bukan ? Jika Melati bermain dibelakangnya kenapa tidak dari dulu saja. Lagi pula kenapa harus dengan mahasiswanya, bukan kah diluar sana banyak pria yang tampan dan mapan yang begitu mengharapkan Melati menjadi milik mereka.

__ADS_1


Bodoh ! Satu kata yang tepat untuk Arash ! Ya dia memang bodoh, seharusnya ia tak terlalu percaya dengan apa yang dikatakan oleh orang lain mengenai istrinya. Hanya karena sebuah foto-foto istrinya tengah bersama Danu, Arash menjadi cemburu dan terbakar.


...****************...


__ADS_2