GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
JANTUNG YANG BERDEBAR


__ADS_3

Tok


Tok


Tok


Melati mengetuk pintu kamar Arish ia membawakan makan malam Arish ke kamar karena permintaan Mentari.


"Masuk !" sahut Arash dari dalam kamarnya.


Mentari pun membuka pintu masuk ke dalam kamar Arish lalu menutupkannya kembali.


"Melati.." Arish tersenyum manis pada Melati, setiap kali ia melihat Melati entah mengapa ia begitu senang.


"Ibu Mentari, menyuruhku membawa makan malam Mu. Sebab Ibu dan Paman tidak makan malam dirumah, mereka ada janji dengan temannya." kata Melati.


Arish menganggukkan kepalanya.


"Makanlah, kalau begitu Aku kembali ke kamar Ku." kata Melati setelah ia meletakkan nampan berisi makanan milik Arish di atas nakas. Namun dengan cepat Arish meraih tangan Melati agar tidak pergi darinya.


"Jangan pergi, temani Aku makan, ya ?" pinta Arish lalu Melati mengangguk setuju.


"Baiklah."

__ADS_1


Melati kemudian menemani Arish makan. Namun bukan Arish namanya jika tidak bisa mencari kesempatan dalam kesempitan. Demi bisa dekat dengan melati.


"Suapi Aku."


Ucapan Arish seketika membuat Melati menjadi aneh dengan tingkah Arish yang tiba-tiba menjadi manja.


"Aku kan sakit, jadi ayo suapi Aku." Arish merengek, dan itu membuat Melati jadi terkekeh geli melihat kelakuan Arish.


"Oke, Aku akan menyuapi Mu karena Kau sedang sakit !" jawab Melati mengiyakan permintaan Arish.


Dalam hati Arish bersorak gembira karena Melati mau menyuapinya makan.


"Enak..pasti Mama yang masak !" kata Arish setelah ia mengunyah satu sendok makanan ke dalam mulutnya.


"Andainya Grand Ma bisa memasak seperti Mama, pasti Aku akan betah tinggal dirumahnya." kata Arish yang teringat akan Helena yang bisa memasak telor ceplok itu pun kadang gosong ia menggorengnya.


"Memangnya kenapa ? Terakhir kali Aku kesana bersama Ibu, perasaan Ku Nenek Helena menyajikan makanan yang enak-enak untuk Kami." jawab Melati


Arish tertawa mendengarnya mungkin Melati tidak tahu kalau dirumah Helena terdapat Koki.


"Ada apa ?" tanya Melati bingung


"Lain kali, kalau Kau ke rumah Nenek Ku lagi. Lihat lah ke dapur dan siapa yang memasak. Nenek Ku bahkan membayar jasa koki untuk memasak. Karena ia hanya bisa masak telur ceplok, atau telur rebus !"

__ADS_1


Melati terkejut mengetahui kalau Helena tidak bisa memasak.


"Hah, yang benar saja ?"


"Iya, makanya Aku tidak betah kalau berlama-lama tinggal dirumah Grand Ma. Untungnya Papa menikah dengan Mama yang pintar memasak." celoteh Arish hingga membuatnya sama-sama saling terkekeh geli.


Melihat Melati yang tersenyum dan tertawa lepas membuat jantung Arish semakin berdebar. Entah mengapa ia seolah terpikat akan pesona cantik wanita itu. Apalagi Melati yang begitu baik dan tulus. Wajar saja jika kedua orang tuanya menyukai Melati dan tak pernah pilih kasih diantara mereka.


Tak lama Arish melihat ada bulu mata Melati yang terjatuh namun Melati tak menyadari itu. Arish kemudian mendekatkan wajahnya pada Melati.


"Jangan bergerak."


"Kenapa ?" Melati terdiam melihat Arish yang semakin mendekatkan wajah padanya.


Arish mengambil bulu mata Melati yang terjatuh di bawah matanya. Hingga keduanya saling menatap dalam jarak yang begitu dekat.


Keduanya saling menatap satu sama lain, Arish menatap bola mata indah itu dengan perasaan dan jantung yang semakin berdebar-debar. Apalagi Arish melihat pahatan sempurna wajah cantik Melati dengan hidung yang mancung dan bibir yang tipis bewarna merah muda alami.


"Melati.." lirih Arish


"Arish.." keduanya berkata lirih seolah akan terjadi hal yang tak mereka sadari setelah ini, namun tiba-tiba tatapan mereka buyar ketika seseorang memergoki mereka berdua.


"Ekhem..!"

__ADS_1


...****************...


__ADS_2