GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
DI TAKSIR SENIOR


__ADS_3

Mentari menutup mulutnya saat Umi nya memamerkan lima model tas hermes yang diberikan oleh Mario sebagai bentuk terimakasihnya karena sudah mengajarkannya membuat nasi goreng.


"Kalau minta diajarkan membuat nasi goreng saja Umi diberikan lima tas mewah apa jadinya kalau Umi ajarkan masakan kesukaan Mu yang lainnya. Apa Umi bisa dikasih Mobil ? Atau tanah berhektar-hektar ?" ucap Jamilah dengan santainya.


"Astaga Umi !" ucap Mentari terkejut dengan apa yang dikatakan Umi nya barusan.


"Hehehe... Umi cuma bercanda lo, yo wes bilang wae karo suami Mu Umi berterimakasih dengan hadiah yang dia berikan, yo !" ucap Jamilah lagi tersenyum manis.


"Iya Umi." jawab Mentari dengan pelan.


"Eh, ndok ! Jadi beneran Kamu udah ndak ting-ting lagi ?" tanya Jamilah penasaran


"Umi iih... pertanyaannya kok gitu !" jawab Mentari mengerucutkan bibirnya.


"Ya Umi cuma bertanya."


"Pertanyaan yang tidak perlu di jawab Umi ! Ya sudah Umi, Mentari mau berangkat kuliah, daah..!" Mentari mematikan panggilannya secara sepihak hingga membuat Jamilah menjadi kesal.


"Wohh.. dasar bocah semprul !" Jamilah mengerucutkan bibirnya namun saat melihat tas-tas yang ada di atas meja mendadak bibirnya berubah menjadi tersenyum lebar.


......................

__ADS_1


"Mentari !" sapa Bara saat melihat Mentari berjalan di koridor kampus.


"Hah... Dia lagi !" ucap Mentari dalam hati


"Apa Kau sibuk sepulang kuliah ?" tanya Bara


"Hem... Saya ada acara keluarga Kak." jawab Mentari berbohong ia tak ingin dekat dengan Bara karena ia tak ingin membuat kekacauan lagi dalam rumah tangganya karena orang lain.


"Yah, sayang sekali. Padahal Aku ingin mengajak Mu untuk ikut mendaftar organisasi BEM yang akan di buka mulai hari ini dan besok !" kata Bara, memang benar organisasi itu akan mengadakan pergantian anggota baru.


"Ah... Saya rasa Saya tidak cocok mengikuti organisasi seperti itu Kak !" jawab Mentari mencoba menolak ajakan Bara.


"Ah.. Begitu ya... Tapi.. " ucapan Mentari terputus saat Bara menyela terlebih dahulu.


"Aku daftar kan ya ?"


"Hah ?!" Mentari semakin bingung ingin menolak dan menerimanya atau tidak.


"Mau ya ?" bujuk Bara


"Ehm... Itu... Ya sudah Saya mau Kak !" dengan berat hati Mentari menerima tawaran Bara untuk masuk ke dalam anggota BEM.

__ADS_1


"Nah begitu dari tadi." kata Bara


"Ya sudah Kak, Saya mau masuk ke kelas dulu." Mentari mencoba menghindar dari Bara.


"Oke !" jawab Bara tersenyum manis


Mentari kemudian berjalan menuju kelasnya karena tak mau terus menerus berhadapan dengan Bara.


Namun disisi lain ternyata ada Safira yang sejak tadi menyaksikan interaksi diantara Bara dan Mentari. Jelas saja Safira merasa cemburu karena pria pujaan hatinya ternyata menyukai wanita lain dan wanita itu adalah Mentari, wanita yang tak Safira sukai.


"Huh... Kenapa Bara jadi dekat dengan gadis desa itu ?!" Safira tak terima jika Bara terus menerus mendekati Mentari.


"Sabar Safira, janur kuning belum melengkung itu artinya Kau masih punya banyak kesempatan !" Bela mencoba menenangkan Safira.


"Apa sih keunggulan gadis desa itu ?" ucap Safira mencoba membandingkan Mentari dengannya.


"Ini tidak bisa dibiarkan ! Aku harus mendapatkan Bara !" ucap Safira mantap dengan keputusannya persetan dengan apa yang harus ia hadapi ke depannya yang terpenting Bara harus menjadi miliknya.


"Kami akan membantu Mu, Safira tenang saja !" kata Bela dan Cika.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2