
“Darah !”
Mario menatap jemari tangannya yang baru saja meraba inti Mentari, ternyata Mentari datang bulan di saat yang tidak tepat.
“Astaga, Aku datang bulan !”
Mentari langsung beringsut dari atas tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi dengan tergesa-gesa.
Sedangkan Mario ia meratapi nasibnya yang ternyata harus gagal untuk melakukan malam pertama dengan istrinya.
“Bisakah Mas membelikan Ku pembalut ?” ucap Mentari setelah keluar dari kamar mandi dan berganti pakaian tidur.
“Hah ? Pembalut ?” belum selesai penderitaan Mario kini ia harus dihadapkan dengan hal lainnya yaitu membelikan Mentari pembalut.
“Iya, tolong belikan di mini market depan ya Mas !”
Mau tidak mau mau Mario terpaksa keluar hotel dan menuju mini market untuk membeli pembalut. Sampai di mini market tersebut, Mario dibuat pusing tujuh keliling pasalnya banyak sekali merek dan model pembalut yang ada di sana.
“Kenapa banyak sekali ?” gumam Mario
“Ada yang bisa Saya bantu, Pak ?” sapa pelayan mini market pada Mario.
“Pilih kan yang dipakai untuk wanita !” titah Mario menunjuk pada pembalut yang ada di hadapannya.
“Semuanya memang khusus di buat untuk wanita Pak !”
__ADS_1
“Bapak mau ukuran berapa ?” ucap pelayan itu lagi.
“Ukuran ?” Mario menjadi bingung karena ternyata pembalut tidak hanya banyak mereknya dan berbeda warna kemasannya tetapi juga berbeda ukurannya.
Mario mengusap kasar wajahnya, tidak mungkin ia kembali ke kamar hotel untuk menanyakan berapa ukuran yang dipakai oleh Mentari. Mau menghubungi Mentari pun, Mario bahkan lupa jika dirinya tidak membawa ponselnya.
“Aku ambil semua ukurannya !” ucap Mario dengan tegas ia pun kemudian menuju kasir guna membayar belanjaanya.
Sampai ia dikasir, kasir tersebut tersenyum karena ia tahu siapa Mario, sebab dulu ia adalah mantan pegawai di kantor Mario.
“Cie…, Pak Direktur beli pembalut.”
Mendengar dirinya disebutkan Mario pun hanya bisa menahan rasa malunya, dan membalas ucapan kasir tersebut dengan tercengir kuda.
...……………...
“Banyak sekali, Mas !” Mentari bahkan sampai menggelengkan kepalanya.
“Aku tidak tahu yang mana dan ukuran berapa jadi aku beli semua yang ada di mini market itu !” jawab Mario dengan santainya.
“Tapi tidak sebanyak ini juga, satu pad ini saja sudah cukup. Sebanyak ini apa mau dijadikan kasur ?” sunggut Mentari ia kemudian masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Mario.
“Sudah dibelikan marah-marah pula !” gumam Mario ia lebih memilih merebahkan tubuhnya diatas ranjang yang spreinya sudah tak karuan bentuknya, karena tadi ia dan Mentari gagal melakukan ritual malam pertama.
... …………...
__ADS_1
Pagi harinya keluarga Syeh Scherzinger dan keluarga Sarifudin tengah sarapan pagi bersama di hotel yang sama tempat Mario dan Mentari menginap.
“Bagaimana rasane, ndok ?” ucap Jamilah pelan pada putrinya.
“Rasa opo, Umi ?” jawab Mentari merasa aneh dengan pertanyaan Uminya.
“Iku loh, wik..wik..” bisik Jamilah
“Umi !” Mentari melotot pada Uminya namun Uminya tersebut bersikap biasa-biasa saja.
“Semalam berapa ronde, Mario ?” tanya Syeh Scherzinger pelan.
“Oh Dad, ayolah !” Mario seperti diejek oleh Daddy nya mengenai malam pertamanya, sebab semalam ia gagal melakukannya bersama Mentari.
“Jadi kapan kalian akan pergi berbulan madu ?” tanya Helena sebab ia sudah menyiapkan tiket bulan madu Mario dan Mentari.
“Minggu depan saja, Ibu Mertua !” sahut Mentari sambil memakan sarapannya.
“Kenapa minggu depan ? kenapa tidak besok saja ?” tawar Scherzinger
“Sebab minggu ini aku tidak bisa diajak bereproduksi untuk menghasilkan calon cucu untuk Ibu Mertua !” jawab Mentari apa adanya sehingga membuat siapa pun yang mendengarnya tergelak tawa.
“Hahahah”
“Memang agak lain, istri Ku ini.” Batin Mario hanya bisa menerima nasib memiliki istri polos tapi tahu banyak hal.
__ADS_1
... ……………...