GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
KACANG IJO


__ADS_3

Hancur, pupus lah sudah harapan Bara jangan kan untuk mengharapkan Mentari menjadi istrinya suatu saat nanti, bahkan menjadi kekasihnya pun tak boleh. Seperti lagunya Ratih Purwarsih yang selalu melegenda dan tak lekang dari ingatan pendengarnya.


Jangan kan untuk bertemu


Memangdang pun saja sudah tak boleh


Memang Kau ternyata tercipta bukan untuk Ku


Ho... Uwoo...


"Jauhi istri Ku dan jangan pernah Kau menampakkan diri di hadapannya lagi !" Mario menekankan kata-katanya hingga membuat Bara menjadi sadar diri jika selama ini ia sudah mengejar-ngejar istri orang.


Bara hanya mampu terdiam sebab hatinya begitu tersayat sembilu rasanya begitu sakit menerima kenyataan kalau Mentari adalah istri orang.


Bela pun membawa Bara pergi dari hadapan Mario karena ia takut nantinya jika Bara masih berada disana akan terjadi hal-hal yang tak diinginkan.


Begitu Bara dan Bela berada di luar rumah sakit Bela menoleh ke samping Bara saat Bara mengatakan sesuatu.


"Jadi begini rasanya cinta bertepuk sebelah tangan !"

__ADS_1


"Sejak kapan Kau tahu kalau Mentari sudah menikah ?" tanya Bara pada Bela


"Aku tidak sengaja pernah melihat Mentari dan suaminya itu." jawab Bela pelan


"Kalau Aku tahu Mentari sudah menikah mana mungkin Aku terus mengejar-ngejar Dia."


Bara bedecak kesal, rasa suka dan cinta itu tiba-tiba sirna begitu saja. Walau bagaimana pun Bara tipikal pria yang tak ingin merebut milik orang lain apalagi wanita yang ia ingin kan berstatuskan istri orang. Mungkin lebih baik mengikhlaskan dan membuang perasaan untuk Mentari mulai saat ini juga.


......................


Mentari terbangun dari tidurnya ia langsung meraba-raba perutnya takut jika terjadi apa-apa pada calon anaknya.


Mario yang berada di samping Mentari pun ikut terkejut dengan sadarnya Mentari.


"Mas, kacang ijo kita baik-baik saja kan ?" tanya Mentari cepat pada Mario. Ia mengingat betul betapa berani dan bar-barnya Safira padanya.


"Tenang kan diri Mu, kacang ijo kita baik-baik saja, Yank.." Mario memeluk Mentari dan mengelus punggungnya seraya menenangkan Mentari.


"Aku takut sekali kalau terjadi sesuatu dengan kacang ijo kita !" lirih Mentari

__ADS_1


"Tidak apa-apa, jangan khawatir Kau sudah aman bersama Ku, Yank.." Mario mengecup kening Mentari, ia merasa bersalah karena sudah lalai menjaga Mentari.


"Aku mau pulang, Mas !" pinta Mentari berada di rumah sakit tentu saja Mentari tak merasa nyaman apalagi betah.


"Kau mau pulang ?" tanya Mario dan Mentari menganggukkan kepalanya dengan cepat.


"Baik lah kita akan pulang ke.." ucapan Mario terpotong karena tiba-tiba Sarifudin dan Jamilah masuk ke ruang UGD berjalan mendekat ke arah Mentari dan Mario.


"Pulang ke desa !" ucap Sarif dengan tegas. Hingga membuat Mario dan Mentari menoleh pada kedua orang tua mereka tersebut.


"Abah !" kata Mentari dan Mario secara bersamaan.


"Kenapa harus pulang ke Desa, Bah ?" tanya Mario cepat ia bingung dan juga khawatir Ayah Mertuanya itu akan membawa Mentari.


"Karena kamu tidak menjaga putri Ku dengan baik ! Lihat keadaan putri Ku sekarang ! Aku merawat dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang, tapi begitu menikah dengan Mu putri Ku sampai menjadi korban seperti ini !" ucap Sarif tak terima dengan keadaan putrinya apalagi rambut putrinya yang digunting sana-sini tak jelas bentuknya.


"Tapi Abah, ini bukan salah Mas Mario ini bukan perbuatannya !" Mentari mencoba membela Mario dan tak jadi bahan kemarahan Abahnya.


"Memang bukan perbuatan suami Mu, tapi suami Mu ini sudah lalai menjaga diri Kamu, Nak !" ucap Sarif, hati seorang Ayah mana yang tak terluka melihat putrinya diperlakukan semacam itu. Sarif tentu saja tak terima.

__ADS_1


Sedangkan Mario ia hanya bisa menundukkan wajahnya karena memang benar apa yang terjadi pada istrinya karena ia lalai menjaganya, dan Mario merasa menyesal dan bersalah.


...****************...


__ADS_2