
...“Tidak ada yang bisa menebak kapan kesabaran manusia akan diuji oleh yang maha kuasa, tidak ada ! Semua ujian yang datang dari-Nya adalah sebuah kejutan yang tak pernah kita duga. Ada sebuah nasehat lama yang mengatakan ‘jadilah orang yang tabah dan istiqomah agar setiap Kau diuji oleh Tuhan Mu, maka Kau akan belajar menerimanya.”...
Mario menggenggam tangan Mentari yang kini dalam keadaan koma. Bulir air mata itu terus saja membasahi pipinya, rasa sedih, takut dan entahlah semua menjadi satu tak bisa diungkapkan oleh kata-kata.
Jangankan Mario, kedua orang tua Mentari jelas saja begitu terpukul melihat keadaan putri mereka. Mereka hanya bisa berdoa pada yang kuasa agar Mentari segera sadar dan bisa berkumpul kembali bersama mereka.
“Mario, ayo lihat lah anak Mu !” ucap Helena dengan lembut.
“Nanti Mentari bangun, Mom.” Lirih Mario ia tak ingi jauh-jauh dari Mentari dan ingin selalu disamping Mentari.
“Mario, anak Mu membutuhkan Mu, setidaknya meskipun Mentari belum bangun dari alam sadarnya, Kau harus berperan ganda sebagai orang tua saat ini, Kau harus bisa menjadi Ayah sekaligus Ibu untuknya.” Ucap Helena menasehati putranya agar putranya itu tidak berlarut dalam kesedihan.
Benar apa yang dikatakan oleh Helena, saat ini Mario harus bisa menjadi orang tua ganda untuk anaknya yang baru saja lahir. Ia tidak bisa mengabaikan anaknya hanya karena saat ini Mentari masih dalam keadaan koma.
__ADS_1
“Baiklah Mommy.” Mario pasrah dan menurut apa yang dikatakan oleh Mommy nya. Ia lalu berdiri dari duduknya dan mengecup kening Mentari yang masih damai dalam tidurnya.
“Sesuai kata Mu, Aku akan menjadi Ayah yang baik dan yang terbaik untuk anak kita, Sayang. Cepatlah sadar Aku dan anak Kita menanti Mu !” bisik Mario di telinga Mentari hingga Helena yang mendengar ucapan Mario tersebut matanya langsung berkaca-kaca.
Mario pun keluar dari ruang rawat inap Mentari, ia menuju kamar anaknya dimana di dalam sana sudah ada mertuanya yang senantiasa menunggu anaknya.
Mata Mario kembali berkaca-kaca kala melihat bayi mungil yang menggemaskan tersebut tengah mengecap ibu jari mereka. Ya, mereka ! Mentari nyatanya mengandung anak kembar dua anak kembarnya berjenis kelamin laki-laki.
Mario sampai tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata saat diusia kandungan Mentari yang menginjak tiga bulan ternyata calon bayi yang selalu ia sebut kacang ijo tersebut sudah berbentuk dua kantung, itu artinya Mentari tengah mengandung anak kembar.
Rasa senang dan bahagia tentu saja dirasakan oleh Mario dan Mentari, mereka tidak menyangka akan diberikan keberkahan yang begitu besar oleh Tuhan dengan dititipkannya pada mereka dua orang anak sekaligus yang harus mereka jaga.
“Siapa nama anak-anak, Mu, Mario ?” tanya Sarifudin ia kini tengah menggendong salah satu cucunya yang belum tertidur.
__ADS_1
“Nanti saja, Abah tunggu Mentari sadar dari komanya !” lirih Mario mencoba menggendong salah satu anaknya yang ada ditangan mertuanya itu.
“Mario, tidak baik menunda pemberian nama seorang anak yang lahir. Berilah mereka nama, tidak apa-apa, Abah yakin Mentari akan mengerti.” Bujuk Sarifudin
“Tapi Abah…”
“Mario, benar apa yang dikatakan oleh Abah Mu ! Berilah mereka nama, Umi yakin Kau dan Mentari pasti sudah menyiapkan nama untuk anak-anak kalian, bukan ?” ucap Jamilah ikut bicara.
Mario hanya bisa pasrah saat ini, lagi pula memang benar ia dan Mentari sudah menyiapkan nama untuk kedua anak mereka.
“Baiklah, Aku akan memberikan nama untuk kedua anak Ku !”
...****************...
__ADS_1