GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
MULAI ADA RASA


__ADS_3

"Tuan.. "


Harry mencari keberadaan Mario karena ingin memberikan berkas yang harus ditanda tangani oleh Mario, namun Mario tak ia temui di ruangannya.


"Kemana perginya ? " tanya Harry seorang diri.


Harry pun kemudian berjalan menuju kamar mandi dan membuka pintu kamar namun tak ia temui keberadaa Mario. Ia pun memutuskan keluar kamar mandi dan samar-samar ia mendengar suara aneh di tembok yang merupakan pintu kamar rahasia Mario.


Aahh... Mas.. Aahh...


oohhh... Mentari.. kau nikmat sekali uuhh...


Plok., plok.. Plok..


Harry menelan kasar air ludahnya saat tahu suara apa yang ia dengar, apalagi kalau bukan suara orang yang sedang bercinta.


"Gila ! Ini baru pukul sebelas dan mereka main di jam segini !" gurutu Harry ia dengan cepat meninggalkan ruang Mario begitu ia keluar ruangan dirinya di todong oleh Lusi, wanita yang selalu ia hindari.


"Pak Harry." ucap Lusi tersenyum malu-malu, sebenarnya Lusi menyukai Harry namun Harry saja yang tidak peka dengan perasaannya selama ini.


"Ada apa ?" Harry lebih suka mengalihkan pandangannya ke arah lain karena bukan malas melihat wajah Lusi melainkan tak tahan melihat dada Lusi yang begitu aduhai menggoda mata dan imannya meskipun tertutup pakaian kemeja namun tetap saja sebab kemeja yang Lusi pakai begitu ketat hingga menampilkan lekuk tubuh dan dadanya.


"Pak Harry, tolong lihat komputer Ku, sepertinya bermasalah !" pinta Lusi dengan lembut ia hanya beralibi agar bisa dekat dengan Harry.


"Panggil saja karyawan IT Aku banyak pekerjaan !" Harry bergegas meninggalkan Lusi karena lama kelamaan ia bisa berperang dengan dirinya sebab tak tahan dengan Lusi.


"Kenapa sulit sekali dekat dengannya !" Lusi menggerutu dan kembali ke meja kerjanya dengan wajah yang cemberut.


......................


Mario dan Mentari kini tengah berbelanja di Mall Mentari mencari pakaian hitam putih yang akan ia kenakan saat ospek nanti. Bahkan Mentari juga mencari sepatu dan tas kuliahnya.


"Ini tas untuk apa ?" tanya Mentari bingung karena Mario memberikan Mentari tas tangan wanita.


"Untuk kuliah !" jawab Mario dengan santainya.


"Lagi pula tas di dalam lemari ku banyak, belum pernah terpakai sama sekali !" keluh Mentari karena memang koleksi tas yang diberikan oleh Ibu Mertuanya begitu banyak dan belum sempat dipakai.


"Beli saja, nanti dipakai kalau kita sedang pergi berdua." Mario tetap kekeh karena ia begitu ingin Mentari memakainya setidaknya saat mereka tengah pergi berdua.


"Pasti mahal !" celetuk Mentari menatap tas tangan bemerek hermes tersebut.


"Ini edisi terbatas Nyonya, hanya ada satu di negara ini, Nyonya akan sangat beruntung jika memilikinya." terang pelayan toko pada Mentari menjelaskan tas yang di pegang Mentari.


"Benar kah ? Berapa harganya ?" tanya Mentari pelan.


"1,3 Milyar Nyonya !" jawab pelayan tersebut sehingga membuat Mentari hanya bisa diam dan berkedip-kedipkan mata.


"Hah ? Satu milyar ? Yang benar saja !" Satu milyar untuk sebuah tas jika dibelikan sapi mungkin Mentari akan menjadi juragan sapi.


"Aku ambil yang ini !" ucap Mario kemudian.


"Mas, ini mahal sekali terlalu berlebihan jika membeli tas semahal ini !" protes Mentari ia merasa tak setuju jika Mario mau membelikannya tas tersebut.


"Bukan prihal harganya, tas bermerek seperti ini bukan hanya untuk dipakai tapi fungsinya juga bisa untuk investasi." jawab Mario


"Maksudnya bisa dijual kembali dengan harga mahal begitu ?" tebak Mentari


"Betul !" jawab Mario


"Wah...suami Ku memang ahlinya dalam bisnis, kalau begitu Aku mau berguru dengan Mu, Mas !" kata Mentari tersenyum manis.


"Boleh, tapi tidak gratis !" jawab Mario mengedipkan satu matanya pada Mentari hingga Mentari mengerucutkan bibirnya karena ia tahu apa permintaan Mario, apalagi kalau bukan prihal main kuda-kudaan di atas ranjang.

__ADS_1


"Dasar suami maniak !"


...****************...


"Kapan mereka pulang, Mas ?" tanya Mentari yang menanyakan kedua mertuanya dan adik ipar yang tengah berlibur di Bali.


"Sepertinya mereka tidak pulang !" jawab Mario karena tadi pagi Mario melihat postingan Paula yang kini bukan lagi berada di Bali melainkan sudah di Korea.


"Kenapa ?" tanya Mentari lagi


"Mereka mungkin butuh liburan Paula dan Mikaila sudah selesai dengan kuliahnya tingga menunggu jadwal wisuda, sedangkan Daddy dia sudah pensiun dari pekerjaannya sudah waktunya Daddy dan Mommy menikmati masa tua mereka." terang Mario.


Mario bisa memaklumi dan mengerti mengapa kedua orang tuanya pergi berlibur bersama kedua adiknya mungkin Daddy dan Mommy nya ingin menghabiskan waktu semasa tua mereka dengan liburan keliling negara yang mereka sukai.


"Oh begitu." pungkas Mentari


"Ayo turun, kita berenang." ajak Mario karena mereka memang tengaj berada di kolam renang, Mario sendiri sudah masuk di air sedangkan Mentari masih duduk di pinggir kolam.


"Malu Mas, nanti di lihat pelayan dirumah ini !" cicit Mentari karena ia begitu malu jika berenang bersama Mario sebab dirumah itu tidak hanya ada dirinya dan Mario melainkan dua belas pelayan juga ikut tinggal dirumah tersebut.


"Setiap hari minggu mereka diberikan libur, jadi mereka tidak ada dirumah ini kecuali satpam di depan !" jawab Mario


"Oh, pantas saja minggu lalu Ibu Mertua masak sendiri sebab pelayannya libur !"


Byur


"Mas !" teriak Mentari saat tubuhnya di tarik masuk ke dalam air bersama oleh Mario.


Hingga terjadilah aksi kejar-kejaran dengan berenang diantara mereka berdua.


Pada akhirnya Mario mengungkung tubuh Mentari di tembok kolam renang dan Mario mengecup bibir Mentari dengan lembut.


"Mau apa Mas ? Jangan bilang mau ngajak nganu, iya ?" tebak Mentari dan Mario hanya tercengir kuda.


"Melihat Mu seperti ini saja sudah membuat Burio ku tegang, Yank !" Mario pun merapatkan tubuhnya pada Mentari hingga Mentari merasakan Burio suaminya yang menonjol dipahanya.


"Astaga, kenapa dia selalu bangun ?" Batin Mentari


"Mau ya, Yank. Kita main di sini." bisik Mario dan tanpa mendengar izin dari Mentari Mario sudah mengeluarkan Burionya dan menarik dalaman segitiga bermuda milik Mentari.


"Eh..." Mentari membelalakkan matanya apalagi tangan Mario sudah menjamah bagian sawah miliknya.


"Aaahhh..."


Bosan bermain di air Mario mengangkat tubuh Mentari dan meletakkannya di kursi panjang pinggir kolam renang, ia menggempur Mentari lagi disana.


"Mas... Su... Sudah.." Mentari membelalakkan matanya saat melihat ada cctv terpasang di area kolam renang.


"Belum selesai, Yank. Sepertinya masih lama !" Mario terus menggempur Mentari yang matanya terus merem melek merasakan kenikmatan tersebut.


"Mas... Aahh.. Ad.. Ada cctv disana !" jawab Mentari dan membuat Mario menghentikan aksinya.


"Oh sial !" Mario mengusap kasar wajahnya, kepalang tanggung jika tidak diteruskan kepala Mario akan merasa pening ia pun meneruskan kegiatannya prihal cctv tersebut ia akan menghapus datanya setelah aksi gempur menggempurnya selesai bersama Mentari.


......................


Mario menghapus rekaman cctv yang menampilkan kegiatan ia dan Mentari beberapa jam lalu. Bukan hanya di hapus Mario juga menyimpan video tersebut di ponselnya.


Setelah ia selesai Mario kembali ke kamarnya dan melihat Mentari sedang memainkan ponselnya.


"Mas akan beli rumah, bagaimana jika kita pindah saja dari rumah ini ?" ucap Mario ia sudah memutuskan untuk pisah tempat tinggal dengan orang tuanya lagi pula ia sudah menikah dan butuh privasi.


"Pindah rumah ?" ulang Mentari

__ADS_1


Mario menganggukkan kepalanya "Iya, kita pindah saja. Supaya kita bisa hidup mandiri dan punya privasi."


"Terserah Mas saja, Aku ikut kemana Mas pergi !" jawab Mentari memang benar seharusnya mereka hidup terpisah dengan orang tua karena mereka sudah menikah, dan Mentari tentu saja akan ikut kemana Mario akan membawanya pergi dan tinggal bersama.


"Terimakasih !" Mario mengecup kening Mentari hingga tatapan mereka kemudian saling bertemu.


Mentari menatap Mario ia benar sudah jatuh cinta dengan Mario dan hatinya sudah terpaut untuknya, lain hal dengan Mario ia merasa ada debaran aneh dalam dirinya saat menatap Mentari sebuah rasa yang sulit untuk didefinisikan.


"Apa aku jatuh cinta padanya ?" batin Mario


...****************...


Mentari sudah siap dengan tampilannya kini ia mengenakan pakaian hitam putih dengan rambut yang di kuncir kuda dengan pita merah jambu.


"Kenapa dia manis sekali !" batin Mario melihat tampilan istrinya dari dari ambang pintu.


"Ekhem..!" Mario berjalan mendekat ke arah Mentari dan membuat Mentari berbalik melihatnya.


"Sudah selesai ?" tanya Mario ia memakai jam ditangannya.


"Sudah Mas, ayo !" jawab Mentari tersenyum manis dan menggamit tangan Mario.


"Yank, kenapa manis sekali ?" lirih Mario ia jadi tidak ingin Mentari pergi ospek takut nanti jika ada yang melirik dan naksir dengan Mentari.


"Aku pakai lipstick yang Mas belikan tempo hari." tunjuk Mentari di bibirnya, bibir yang sudah dipoles dengan lipstick bewarna baby pink.


"Yank, nanti di kampus jangan dekat-dekat dengan pria lain ya !" Mario memeluk tubuh Mentari hingga Mentari merasa berbunga-bunga mungkinkah ia pikir Mario sudah jatuh cinta padanya.


"Kenapa ? Mas cemburu ya...?" jawab Mentari terkekeh.


"Tidak ! Aku tidak cemburu lagi pula untuk apa Aku cemburu !" Mario mengalihkan pandangannya ke arah lain dan melepaskan pelukannya.


Mentari mengerucutkan bibirnya cemberut ke arah Mario, namun bukan Mentari namanya kalau menyerah mendapatkan hati Mario.


"Ya sudah kalau begitu !" Mentari berlalu pergi meninggalkan Mario dan membuat Mario mengusap kasar wajahnya.


Saat di meja makan kedua pasangan suami istri tersebut tengah menikmati sarapan pagi mereka. Setelah keduanya usai sarapan Mario mengantarkan Mentari ke kampus dimana Mentari akan menjadi mahasiswa baru disana.


"Mana tangan Mu Mas ?" Mentari meminta tangan Mario dan Mario menjulurkan tangannya.


Mentari pun meraih tangan Mario dan menyaliminya. "Mulai sekarang Aku akan salim seperti ini, supaya masuk surga karena sudah berbakti pada suami Ku !" ucap Mentari penuh percaya diri.


"Sudah kan ?" jawab Mario


"Satu lagi !" Mentari menadahkan tangannya pada Mario


"Apa lagi, Yank ?" tanya Mario bingung.


"Minta duit jajan boleh ?" ucap Mentari pelan sambil mengedip-ngedipkan kedua matanya.


Mario tertawa melihat tingkah laku istrinya itu. Ia kemudian mengeluarkan dompetnya dan memberi Mentari sebuah kartu sakti bewarna hitam.


"Ambil lah, beli apapun sesuka hati Mu, Yank ! Ini nafkah dariku." ucap Mario tulus, ia memang belum sempat memberikan Mentari nafkah lahir padanya.


"Aku maunya uang Mas, bukan kartu !" Mentari mendengus.


"Ya sudah, ini ambil sesuka Mu, Yank !" Mario malah memberikan dompetnya pada Mentari.


"Wah ada dollar...!" Mentari melihat isi uang yang ada di dompet Mario bukan hanya ada rupiah tapi juga mata uang orang barat.


"Kenapa cuma selembar ?" tanya Mario cango karena Mentari hanya mengambil satu lembar uanh merah jambu di dompetnya.


"Ini sudah lebih dari cukup Mas ! Terimakasih ya !" Mentari mengecup pipi Mario lalu keluar dari mobil dan melambaikan tangannya pada Mario kemudian berlalu masuk ke dalam gedung kampus dimana sudah banyak para mahasiswa baru seperti dirinya yang akan mengikuti ospek.

__ADS_1


Sedangkan Mario ia tersenyum setelah mendapatkan perlakuan yang menggemaskan dari Mentari. Hidup Mario seolah benar-benar dipenuhi oleh warna oleh Mentari. Bahkan ia sudah melupakan Melisa, wanita yang sudah lama mengisi hari-harinya dan menduakannya. Posisi Melisa seolah sudah hilang dalam hatinya kini yang ada di hati dan pikirannya adalah Cahaya Mentari, istrinya, si Gadis Desa yang sudah tidak gadis lagi.


...****************...


__ADS_2