GADIS DESA MILIK PRESDIR

GADIS DESA MILIK PRESDIR
SEHARI JADI PASUTRI


__ADS_3

“Itu namanya Lingerie ! Pakai saja, pasti Kau sangat cantik memakainya.” Tulis Mikaila pada balasan pesannya untuk Mentari, karena Mentari bertanya pada Mikaila baju apa yang diberikan oleh Ibu Mertuanya tersebut.


“Kalau masuk angin bagaimana ?” balas Mentari kemudian.


“Pakai saja, anggap saja kau menghargai pemberian Mommy.” Balas Mikaila lagi.


Mentari menjadi bingung, tidak dipakai nanti tidak menghargai Ibu Mertuanya namun jika di pakai nanti ia masuk angin.


“Ya sudah lah pakai saja !”


Setelah mandi Mentari memakai lingerie yang diberikan oleh Helena untuknya dan ia menatap dirinya di kaca benar-benar pilihan warna yang cocok untuk kulit putihnya yang bersih dan mulus.


Dengan santainya Mentari keluar dari kamar mandi dan menuju ranjang dimana sudah ada Mario yang tengah sibuk memainkan ponselnya. Saat mendengar suara langkah Mentari, Mario mendongakkan wajahnya betapa terkejutnya ia saat melihat tampilan istrinya tersebut.


Jakun Mario sampai naik turun bukan hanya jakunnya yang naik tapi dibawah sana miliknya yang selalu ia panggil dan diberi nama si Burio (burung Mario) kini sudah berdiri dan mengeras hingga terasa sesak dibalik celananya.


“Ka..kau..” suara Mario tercekat tetapi Mentari biasa-biasa saja bahkan ia tanpa dosa merebahkan dirinya di atas ranjang dan mengambil ponselnya diatas nakas dan memainkannya.


“Kenapa Mas..?” suara Mentari begitu halus apalagi Mentari memanggil Mario dengan sebutan Mas.


“Kau kenapa berpakaian seperti itu ?” tanya Mario tanpa melihat ke arah Mentari karena ia berusaha mengontrol dirinya agar tidak bernafsu pada Mentari.


“Ini kan kado dari Mommy, jadi Aku menghargai pemberiannya.” Jawab Mentari apa adanya.


“Meski pun pakaiannya seperti saringan kelapa dan tidak bisa untuk menangkap ikan lele, tapi Aku orang yang selalu menghargai pemberian orang, jadi aku memakainya malam ini.” Ucap Mentari lagi.


“Astaga Mommy !” Batin Mario mengusap kasar wajahnya dan menghembuskan nafasnya pelan.


“Kau ganti saja !” ucap Mario kemudian karena tubuhnya semakin panas dingin kala harus melihat tampilan Mentari yang semacam itu.


“Memangnya kenapa ?” jawab Mentari bingung.


“Kau membuat Burio Ku bangun !” jawab Mario pelan.


“Burio ?” Mario semakin bingung siapa yang disebutkan oleh suaminya tersebut. “Siapa Burio ?”


“Iya, dia adalah penerus bangsa Ku !”


“Penerus bangsa ? Apa maksudnya ?”


“Apa kau tahu, apa yang dilakukan pasangan suami istri di malam pertamanya ?” tanya Mario


“Oh, tentu saja tahu. Memperagakan aksi seperti sapi nungging kan ?” jawab Mentari hingga membuat Mario terkekeh mendengarnya.


“Bagaimana kalau kita lakukan saja, Aku sudah tidak bisa menahannya sebab Burio Ku semakin menggila !” jawab Mario apa adanya.


Grep


Mario dengan cepat mengungkung tubuh Mentari hingga Mentari terpekik.


“Mau apa Mas ? Jangan bilang Mas mau…”


“Mau Unboxing.” Jawab Mario cepat.


“Tidak mau Mas ! Aku tidak mau, pasti rasanya sakit !” jawab Mentari karena ia pernah membaca disebuah buku kalau malam pertama itu sangatlah menyakitkan.

__ADS_1


“Memang harus bersakit-sakit dahulu baru enak-enak kemudian.” Jawab Mario asal.


“Bagaimana dengan pacarnya, Mas ?” tanya Mentari, ia bukan tidak rela memberikan tubuhnya untuk suaminya karena mereka pun menikah tanpa dasar cinta apalagi Mario yang ia tahu memiliki seorang kekasih.


“Aku sudah putus dengannya !” jawab Mario menatap manik mata Mentari.


“Putus ? Kenapa ?” tanya Mentari lagi.


“Dia selingkuh !” jawab Mario


“Selingkuh ? Kenapa bisa selingkuh ?” Mentari semakin banyak bertanya hingga membuat Mario frustasi dan melepaskan tubuh Mentari kemudian menatap langit-langit kamarnya.


“Karena tidak setia !”


“Kasihan…” lirih Mentari, ia merasa kasihan dengan suaminya tersebut ternyata pacarnya beralih pasangan dengan yang lain.


“Tapi Mas, Aku kan tidak cinta padamu bagaimana Aku bisa menyerahkan tubuh Ku untuk Mu ?” ucap Mentari pelan.


“Benar juga, kita tidak saling mencintai.” Balas Mario.


“Aku tidak mau melakukannya kalau kita tidak saling cinta, Mas.” Ucap Mentari menatap lurus ke depan.


“Bagaimana kalau kita berpacaran saja dulu ?” tawar Mario


“Pacaran ?”


“Iya, Pacaran. Supaya kita jauh lebih mengenal pribadi masing-masing agar tumbuh benih cinta diantara kita.” Jawab Mario menoleh ke arah Mentari begitu pula dengan Mentari.


Mentari tampak terdiam ia mencoba memikirkan perkataan suaminya.


“Bagaimana, Cahaya Mentari ?”


...…………...


“Mentari, bangun.” Mario menggerakkan tubuh istrinya dengan menepuk-nepuk bahu istrinya tersebut dengan pelan karena hari sudah menujukkan pukul tujuh pagi.


Di kediaman keluarga Scherzinger diwajibkan untuk bangun pagi hari dan berkumpul sarapan pagi bersama.


“Abah, aku masih mengantuk !” ucap Mentari pelan ia masih belum mau membuka matanya karena ia masih mengantuk sebab kebiasaan Mentari adalah bangun tidur yang selalu kesiangan.


“Mentari, kita harus turun ke bawah, ayo bangun.” Mario mencoba membangunkan lagi istrinya itu.


Bukannya bangun Mentari malah semakin larut dalam tidurnya. Mario pun mencoba membangunkan istrinya itu dengan cara yang lain.


“Tidur saja tetap cantik.” Puji Mario menatap kecantikan alami yang dimiliki oleh istrinya tersebut, dibandingkan dengan Melisa yang cantik dengan begitu banyaknya perawatan akan treatment dan juga make up yang ia pakai, Mentari jauh lebih unggul dari pada Melisa.


“Aku memang cantik.” Lirih Mentari kali ini ia mencoba bangun dari tidurnya tanpa membuka kedua matanya.


Saat Mentari mencoba membuka kedua matanya, matanya membulat sempurna kala wajah Mario begitu dekat dengan wajahnya bahkan hembusan nafas Mario menerpa wajahnya.


Cup


“Good Morning.” Mario mengecup bibir Mentari sekilas dan membuat Mentari diam terpaku dengan apa yang sudah dilakukan oleh Mentari padanya.


“Maling….!” Mentari memekikkan suaranya saat menyadari ciuman pertamanya sudah dicuri oleh Mario.

__ADS_1


“Hah, mana malingnya ?” Mario menatap ke kanan dan ke kiri.


“Ini malingnya !”


Bug


Mentari memukul tubuh Mario dengan bantal dengan membabi buta.


“Aku maling apa ? hei ?” Mario bingung sambil mempertahankan tubuhnya karena terus dipukul oleh istrinya.


“Mas mencium Ku, Mas sudah mencuri ciuman pertama Ku !” Mentari semakin kesal dan terus memukul Mario dengan bantal.


“Really ?” Mario merasa menang dan senang saat mendengar ciuman barusan adalah hal yang pertama untuk Mentari itu artinya dirinya adalah orang pertama yang menyentuh bibir tipis bewarna merah muda tersebut.


... …………...


“Dua hari lagi acara ngunduh mantu, persiapkan diri kalian jangan sampai sakit, okey.” Ucap Helena pada Mario dan Mentari.


“Iya Ibu Mertua.” Jawab Mentari pelan.


“Lebih nyaman memanggilnya Ibu Mertua.” Jawab Mentari


“Ya terserah Mentari saja, mau memanggil Mommy apa, yang penting Mentari nyaman.” Sahut Helena dengan santainya.


“Tuh dengerin apa kata Ibu Mertua.” Ucap Mentari pada Paula hingga Paula hanya biasa mengerucutkan bibirnya.


“Mario, Daddy sudah menyiapkan tour bulan madu kalian. Setelah acara ngunduh mantu selesai, kalian bisa pergi. Urusan kantor nanti biar Daddy dan Harry yang mengurusnya.” Kata Scherzinger.


“Bulan Madu ?” kata bulan madu begitu aneh menurutnya sebab Mario dan Mentari menikah tanpa dasar cinta. Bahkan satu jam lalu dirinya di tolak oleh Mentari karena tak mau berpacaran dengannya.


“Iya bulan madu, Mommy juga sudah tidak sabar pengen punya cucu.” Celetuk Helena hingga membuat Mentari tersedak makanannya karena mendengar kata cucu dari mulut Ibu Mertuanya.


Uhuk..uhuk..


Dengan cepat Mikaila menyodorkan air putih di gelasnya untuk saudari iparnya itu.


“Minum dulu, Mentari.”


Mentari pun mengambil segelas air putih tersebut dan meminumnya hingga tenggorokannya merasa lega.


“Mom, jangan seperti itu lihat istri Ku menjadi syok.” Jawab Mario dengan lembut.


Mendengar ucapan Mario yang begitu lemah lembut seketika membuat Mentari membulatkan kedua matanya dan terkejut, apalagi Mario dengan santainya mengatakan pada keluarganya akan memberikan cucu sesegera mungkin.


“Mommy request cucu yang lucu, ya.” Ucap Helena lagi.


“Nanti aku berikan dua Mom, supaya Mommy tidak rebutan cucu dengan Ibu Mertua Ku.” Jawab Mario hingga tiba-tiba Mentari menyemburkan air minum yang baru Mentari minum ke wajah Mario.


Byur


“Aaaaa !” Paula dan Mikaila sontak berdiri dari duduknya.


“Ah…leganya.” Mentari mengatakan itu dengan santainya dan Mario hanya bisa menoleh ke arahnya dengan tatapan tajam dan tiba-tiba ia tertawa, tawa yang menyimpan arti di dalamnya.


“Tunggu nanti pembalasan Ku, dasar gadis desa !” ucap Mario dalam hati.

__ADS_1


... …………...


__ADS_2