
Setelah pertemuannya mereka dengan Mawar, pada akhirnya Arash dan Melati mau membantu Mawar dengan memberikan ia pekerjaan di salah satu perusahaan cabang SS Company.
Awalnya Mawar menolak namun Melati terus membujuk Mawar, sebab Melati juga tidak bisa lepas hubungan begitu saja dengan Mawar. Karena Melati tahu Mawar tak seperti Sita yang haus akan harta. Selama Anton masih ada bahkan Anton sangat menyayangi Mawar dan Melati.
Melati yakin Mawar tak seperti Sita, itulah mengapa Melati dan Arash percaya pada Mawar.
Di dalam perjalanan pulang, Arash menggenggam tangan Melati tanpa mau melepaskannya. Ia tahu perasaan istrinya itu pasti sedikit terguncang mendengar kabar Ibu tirinya yang berada dirumah sakit jiwa.
"Sayang, yang berlalu biarlah berlalu. Tuhan memang memiliki cara tersendiri untuk menghukum orang yang telah berbuat jahat pada Mu." kata Arash membuka suara, pasalnya Melati sejak keluar dari restoran hanya diam melamun.
"Aku hanya terkejut." jawab Melati dengan pelan.
Arash kemudian menepikan mobilnya dan memeluk Melati. "Jangan terlalu di pikirkan, sekarang yang harus Kau lihat adalah Aku dan rumah tangga Kita !"
Arash menangkup wajah Melati dengan kedua tangannya, hingga mereka saling memandang satu sama lain.
"Maaf kan Aku, kalau Aku terbawa pikiran !" lirih Melati
__ADS_1
"It's okey, Aku memakluminya !"
Cup
Arash mengecup bibir Melati namun Melati malah menyambut ciuman itu. Hingga pada akhirnya keduanya larut dalam ciuman panas dan bergairah.
"Mau ke hotel !" Arash mengedipkan satu matanya hingga keduanya tertawa dan ujung-ujungnya mereka menginap di hotel mewah hanya untuk menghabiskan malam panjang untuk bercinta.
Beberapa jam kemudian, keduanya telah berada di kama hotel dan menggapai puncak kenikmatan bersama. Keduanya tak lantas tidur sebab masih setia berbincang-bincang.
"Kau yakin ?" tanya Melati menatap Arash
"Aku ingin merasakan menjadi seorang Ayah." kata Arash pelan membelai wajah Melati dengan lembut.
"Lalu apakah Kau siap dengan segala konsekwensinya, Aku akan hamil dan mengalami fase ngidam yang mungkin bisa membuat kepala Mu pening berbulan-bulan, dan juga Kita akan bergadang setiap malam ketika bayi Kita lahir !" kata Melati tersenyum pada Arash.
"Begitu ya ?" jawab Arash.
__ADS_1
"Banyak orang mendambakan seorang anak tapi mental mereka belum siap menerima kehadirannya. Aku hanya memastikan suami Ku, apakah Kau siap akan hal itu ?"
"Ketika Kita punya anak, tugas mengurus, membesarkan, dan mendidik seorang anak bukan hanya tugas seorang Ibu, tapi peran Ayah yang begitu besar dalam mendukungnya." kata Melati dan Arash tersenyum mendengarnya.
"Aku tahu Sayang, Aku siap lahir dan batin menjadi orang tua. Aku berkaca pada Papa, dulu kata Grand Ma, selama Mama masih dalam kondisi koma, Papa yang selalu menjaga Ku dan Arish, dia menjadi Ayah sekaligus Ibu untuk Kami. Dan Aku ingin seperti Papa Ku, memiliki jiwa tanggung jawab yang begitu besar dalam mengurus dan membesarkan seorang anak." jawab Arash panjang lebar.
Melati diam terpaku mendengarnya, sekeras apapun Mario mendidik Arash dan Arish nyatanya Mario berhasil mendidik mereka dan menjadikan Mario contoh yang baik untuk mereka berdua. Melati sampai terharu mendengarnya.
"Jadi Kau ingin anak berapa ?" kata Melati mengedip satu matanya dan Arash tertawa kecil melihat tingkah nakal Melati.
"Jika menurut gen Ku, pasti Kita memiliki anak kembar tapi kalau menurut gen Mu, pasti anak Kita pas lahir cuma satu. Hanya saja semua tergantung Tuhan mau menitipkan berapa orang anak pada Kita !" jawab Arash
Arash lalu kembali mengungkung tubuh Melati hingga Melati terkekeh dengan tingkah suaminya itu.
"Jadi, mati Kita lakukan sampai dia hadir disini !" Arash mengelus perut rata Melati hingga membuat Melati melengkung dengan sentuhan lembut yang Arash berikan.
...****************...
__ADS_1