
Sejak obrolannya bersama Mario, Mentari memutuskan untuk kembali kuliah. Meskipun ia sudah ketinggalan satu tahun, ia tetap semangat mencoba menjalaninya. p,
"Mentari, apa kabar ?" Bella menyapa Mentari yang hendak menuju kelasnya. Bella tentu saja tahu bagaimana keadaan Mentari satu tahun terakhir, Bella begitu kasihan dengan Mentari, bukan hanya Bella yang merasakannya tapi juga Bara, pria yang pernah naksir dengan Mentari itu begitu terpukul dengan keadaan Mentari.
"Aku baik-baik saja, Kak !" jawab Mentari dengan tersenyum manis, semenjak dulu Bella pernah menyelamatkannya ia dan Bella berteman baik mulai saat itu.
"Alhamdulillah, Aku begitu senang melihat Mu lagi kembali ke kampus. Semoga Kau dan keluarga kecil Mu selalu di limpahi kesehatan dan kebahagiaan." jawab Bella dengan tulus.
"Terimakasih, Kak. Aku juga selalu berdoa yang terbaik untuk Mu." Mentari memeluk Bella mereka seperti saudara.
"Ekhem !"
Bella dan Mentari menoleh ke sumber suara dimana itu adalah suara Bara, Bara begitu senang melihat kehadiran Mentari kembali ke kampus. Meski pun ia sadar tak bisa mendapatkan Mentari, setidaknya mencintai dalam diam dan seorang diri sudah lebih dari cukup untuknya pada Mentari.
"Bara ?" ucap Mentari dalam hati.
__ADS_1
"Syukurlah, Kau sudah sehat !" kata Bara tersenyum manis. Namun Mentari bersikap biasa saja menanggapi Bara.
"Terimakasih, kata suami Ku Kak Bara pernah mengunjungi Ku dirumah sakit beberapa kali." jawab Mentari
"Iya, dan dia sampai marah pada Ku !" jawab Bara apa adanya.
Benar, sejak Mentari koma dirumah sakit. Bara tidak hanya sekali mengunjungi Mentari, namun sampai berkali-kali ia datang. Kehadiran Bara bukannya membuat Mario senang malah membuat Mario risih.
"Wajar saja suaminya marah, sebab Kau selalu datang ke rumah sakit !" cibir Bella
"Oh, iya ? Suami Ku tidak cerita kalau Dia marah pada Mu, Kak." kata Mentari karena ia memang tak tahu apa pun dan Mario tidak menceritakan prihal itu padanya.
"Tidak ada salahnya menjenguk orang sakit, yang salah itu Kau yang selalu ingin melihat Mentari sedangkan disana ada Suaminya. Wajar saja kalau Suaminya marah !" jawab Bella sinis
"Hei, Aku yang menjenguknya kenapa Kau yang sewot !" celetuk Bara pada Bella.
__ADS_1
"Oh begitu rupanya, maaf ya kalau suami Ku seperti itu sebab dia memang sangat bucin pada Ku."
Mentari tertawa kecil, sebenarnya ia masih ingin cerita banyak dengan Bella namun ia sudah melihat kedatangan dosennya yang akan masuk ke kelasnya.
"Ah, sepertinya Pak Budi sudah mau masuk ke kelas Ku. Next time kita bicara lagi ya, Kak Bella, Bara." Mentari memutus percakapan mereka lalu pamit ingin masuk ke kelasnya.
"Tentu !" jawab Bella
Bara melihat punggung Mentari yang kian menjauh dari pandangan matanya, namun sedetik kemudian tubuhnya disenggol oleh Bella.
"Jangan di lihat terus, itu istri orang !" kata Bella sambil terkekeh.
"Aku tahu !" jawab Bara ketus dan meninggalkan Bella yang kini memasang wajah cemberut dengan bibir yang mengerucut.
"Sedalam apa pun Kau mencintainya, Kau masih tidak bisa memilikinya, bodoh !" pekik Bella.
__ADS_1
"Aku tidak mendengarnya !" Bara menutup telinga dengan kedua tangannya lalu berlari menghindari Bella yang begitu cerewet padanya, padahal tanpa ada Bella, mungkin Bara akan selalu terpuruk dengan kesedihan melihat orang yang ia cintai tengah diambang kematian.
...****************...